KLHK: Konservasi Hutan Bagian Upaya Menjaga Kelestarian Lebah

JAKARTA — Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengatakan konservasi hutan merupakan bagian penting dari upaya menjaga kelestarian lebah yang berperan penting dalam penyerbukan dan menjaga kelestarian biodiversitas.

“Hilangnya lebah bukan hanya menyebabkan berkurangnya sumber makanan dan pendapatan masyarakat lokal tapi juga menurunkan polinasi dan biodiversitas di mana sebagian besar polinasi dari tumbuhan dilakukan oleh lebah,” kata Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK Wiratno dalam Lokakarya virtual Bee and Pollinator Awareness Day dengan tema Lebah, Ketahanan Pangan dan Kesehatan: Peluang dan Tantangan di Jakarta, Selasa (6/4/2021).

Wiratno menuturkan lebah memiliki peranan krusial sebagai penyerbuk atau polinator. Oleh karena itu, berbagai macam usaha perlu dilakukan untuk meningkatkan perhatian masyarakat bagaimana caranya menggali pengetahuan dan informasi mengenai lebah untuk kemudian dibentuk menjadi satu jejaring untuk mempertahankan kelestarian lebah di Indonesia.

Lokakarya itu merupakan salah satu usaha baik dalam proses kolaborasi dan meningkatkan keanekaragaman hayati khususnya lebah di Indonesia.

Wiratno menuturkan peternak lebah sebenarnya bisa memiliki keuntungan finansial berkelanjutan dengan menjaga habitat lebah dengan cara mengkonservasi hutan.

“Kehilangan pohon di hutan hanya memberikan implikasi negatif bagi lebah seperti hilangnya makanan, sarang, material sarang bagi lebah,” ujarnya.

Dengan demikian, peternak-peternak lebah perlu menginvestasikan diri dalam menjaga hutan atau mengubah lahan tidur menjadi hutan.

Masyarakat hutan di Indonesia terdapat di sekitar 26 ribu desa hutan atau 30 persen dari total jumlah desa di Indonesia.

Masyarakat tersebut dapat memanfaatkan lebah sebagai sumber nutrisi dari madunya dan juga bisa menjadikannya sumber pendapatan yang harus sejalan dengan konservasi hutan di sekitar wilayahnya.

Jika ekonomi berbasis lebah tersebut mampu diwujudkan maka lebih dari 9 juta kepala keluarga masyarakat desa hutan dapat meningkatkan pendapatannya.

Wiratno mengatakan program pengembangan lebah dan penyerbuk di masa depan harus diarahkan dan dilakukan dalam kerangka manajemen kolaborasi adaptif yang meliputi kolaborasi antar pihak dua pengelolaan berbasis ekosistem, dan berbasis data spesies dan populasi terkini sehingga seluruh pendekatan baru yang diupayakan untuk keberlanjutan kegiatan yang berbasis kepada kolaborasi di mana mulai terjadi perubahan paradigma terhadap lingkungan sekitar.

KLHK mengharapkan rekomendasi dari lokakarya itu untuk mendukung kelestarian keanekaragaman hayati termasuk lebah.

“Saya mendorong kesadaran baru dan lebih luas menjadi satu gerakan bersama yaitu melestarikan polinator kita,” tuturnya.

Dia mengatakan suatu publikasi di China menyebutkan pemakaian pestisida dan pupuk kimia yang sangat tinggi menyebabkan lebah-lebah di sana pergi dari perkebunan apel mereka sehingga mereka rugi puluhan juta dolar AS karena hilangnya lebah, dan polinasi harus dilakukan secara manual.

Adanya perubahan genetika mungkin juga bisa menjadi penyebab berkurangnya populasi lebah.

“Polinator ini bukan hanya untuk kepentingan petani kecil di seluruh Tanah Air karena mempunyai nilai ekonomi luar biasa besar sebenarnya tapi juga untuk kepentingan kesehatan ekologi dan kesehatan manusia secara global,” ujarnya. (Ant)

Lihat juga...