Lebaran CDN

Kontur Tanah di Kepulauan Adonara Rentan Banjir dan Longsor

Editor: Koko Triarko

LARANTUKA – Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, memiliki kontur tanah lereng dengan kemiringan mencapai 45 derajat, dan berpasir di bagian atasnya sehingga rentan terjadi banjir dan longsor.

“Kalau tidak ditanami pepohonan, maka tidak ada akar tanaman yang mengikat air saat terjadi hujan sehingga rentan terjadi banjir dan longsor,” kata Melky Koli  Baran, Direktur Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS) kabupaten Flores Timur, saat ditemui di kantornya di Kota Larantuka, Rabu (14/4/2021).

Melky menyebutkan,warga juga membuka kebun hingga mendekati areal hutan lindung, terutama di Kecamatan Ile Boleng dan beberapa kecamatan lainnya, sehingga tidak ada pohon penahan air.

Direktur Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS) Kabupaten Flores Timur, NTT, Melky Koli Baran, saat ditemui di kantornya di Kota Larantuka, Rabu (14/4/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Dia menyarankan, agar dilakukan penanaman pohon dalam jumlah besar, terutama jenis Ampupu atau kayu Pahlawan yang sebelumnya banyak tumbuh hingga ke wilayah pantai.

“Dahulu pohon Ampupu banyak sekali, tetapi rupanya ada yang menebangnya. Padahal, dengan adanya pohon ini bisa mencegah terjadinya banjir dan longosr karena akarnya mengikat tanah,” terangnya.

Melky mengharapkan, agar pemerintah bisa berkaca dengan kejadian banjir bandang di Adonara, sehingga pembangunan kampung dan pembukaan kebun harus memperhitungkan mitigasi bencana.

Menurutnya, pemerintah harus mengambil peran untuk menyadarkan masyarakat mengenai pentingnya memperhatikan dampak bencana dalam membuka lahan dan membangun perkampungan.

“Pemerintah harus menyadarkan masyarakat agar memperhatikan berbagai hal demi mencegah terjadinya banjir dan longsor. Masyarakat juga jangan membuat rumah di jalur banjir,” ucapnya.

Sementara itu,Emanuel Diaz, warga Kota Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur, mengaku warga kota ini sudah terbiasa mengalami banjir bandang sehingga selalu waspada saat hujan lebat.

Emanuel menjelaskan, saat hujan lebat beberapa anak muda bersiaga, terutama saat malam hari, guna memantau bila air yang mengalir melalui saluran ketinggiannya meningkat.

“Bila terjadi hujan lebat, maka warga sudah mengumpulkan surat-surat dan barang berharga. Bila terjadi banjir bandang, maka warga bersiap mengungsi menuju lokasi yang lebih aman,” terangnya.

Lihat juga...