Lebaran CDN

Korban Banjir Bandang di Adonara Berharap Bantuan Modal Usaha

Editor: Koko Triarko

LARANTUKA – Warga yang terkena dampak banjir bandang di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, berharap pemerintah bisa membantu membangun kembali rumah yang rusak dan memberikan bantuan modal usaha.

“Saya berharap, agar pemerintah membantu pembangunan rumah dan modal usaha,” kata Maimunah Saro, warga Kelurahan Waiwerang Kota, Kecamatan Adonara Timur, Kamis (15/4/2021).

Maimunah mengatakan, kios sembakonya tergenang banjir bandang sehingga semua barang jualan tidak bisa dipegunakan lagi, karena sudah tertutup lumpur.

Warga Kelurahan Waiwerang Kota, Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, NTT, Maimunah Saro, saat ditemui di rumahnya, Kamis (15/4/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Dia mengaku, rumahnya pun tergenang lumpur sehingga butuh waktu lama untuk membersihkannya. Namun, dirinya mengaku trauma tinggal di bantaran kali. Bila ada relokasi, keluarganya siap untuk direlokasi. Sebab, di tempat lama rumahnya berada di samping kali dan sudah mengalami kerusakan.

“Kalau ada relokasi, maka kami siap dilakukan relokasi agar tidak was-was terjadi banjir bandang lagi bila masih menetap di rumah lama. Kami berharap, pemerintah membantu modal usaha buat kami karena modal usaha dan barang dagangan semuanya telah rusak,” ungkapnya.

Maimunah bercerita, saat lagi tertidur pulas pada Minggu (4/4/2021), air sudah mulai masuk dari bagian belakang rumah dan dia pun memanggil suami dan anak-anak, lalu mengambil senter karena listrik padam.

Dikatakannya, air dari bagian belakang rumah yang berbatasan dengan kali mulai meninggi, dan saat hendak ke luar ke jalan raya yang berada di depan rumah, ternyata sudah dipenuhi banjir juga.

“Saya mau menyeberangi jalan menuju pompa bensin, anak saya tidak mau dan takut karena banjir mengalir deras di jalan raya,” kenangnya.

Saat itu, Maimunah mengatakan kepada sang anak, bila tidakk menyeberang jalan melewati banjir dan memilih bertahan di rumah, bisa-bisa meninggal dan terbawa banjir bandang.

Keduanya pun menyeberang menuju pom bensin di sebelah barat jalan raya dibantu adiknya yang bekerja sebagai Satpam di pompa bensin tersebut.

Dijelaskannya, setelah menyeberang keduanya duduk beberapa lama dan banjir pun mulai mengering.

“Kami pun kembali ke rumah mengambi baju karena baju kami basah. Setelah kami menyeberang, banjir kembali datang. Rumah dan kios saya hancur, kami mengungsi tanpa membawa harta benda kecuali pakaian di badan,” jelasnya.

Maimunah mengaku mengungsi di Posko MAN Flores Timur, bersama anak dan seluruh anggota keluarganya sebanyak 11 orang.

Sementara itu Yustina salah seorang warga Waiwerang mengaku rumahnya mengalami kerusakan parah karena berada persis di dekat kali dan sudah tidak bisa dipergunakan lagi.

Yustina menyebutkan, beberapa warga yang rumahnya berdekatan dengannya juga mengalami kerusakan parah dan tidak bisa ditempati lagi, karena rusak terkena material banjir bandang.

“Saya juga sepakat bila pemerintah melakukan relokasi pengungsi ke tempat yang lebih aman. Lebih baik kami menetap di tempat baru daripada kembali ke tempat semula yang bisa saja akan terjadi banjir bandang lagi,” ujarnya.

Lihat juga...