Lebaran CDN

Kreativitas Kampung Jawi Dongkrak Perekonomian Warga Sekitar

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Keberadaan desa wisata Kampung Jawi Gunungpati Semarang, mampu mendongkrak perekonomian masyarakat sekitar. Lewat kreativitas, mereka mampu menyulap desa yang biasa saja, menjadi wisata kuliner dengan konsep angkringan khas Jawa.

Kreativitas tersebut juga terlihat dalam penggunaan uang kepengan, yang dibuat dari kayu sebagai alat tukar pembayaran. Ide kreatif tersebut, membuat para pengunjung menjadi tertarik untuk datang ke desa yang terletak di Kalialang Lama VII RT 02/RW 01, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang tersebut.

“Keberadaan Kampung Jawi ini,  tak lepas dari Pasar Jaten yang terlebih dahulu mulai eksis serta dikenal oleh banyak orang. Konsepnya hampir sama, dengan menawarkan beragam kuliner tradisional Jawa. Namun saat itu, Pasar Jaten hanya buka setiap hari Minggu Legi dan Kliwon menurut pasaran Jawa,” papar Koordinator Kampung Jawi, Siswanto saat dihubungi di Semarang, Selasa (20/4/2021).

Namun seiring dengan peningkatan jumlah pengunjung, Pasar Jaten diubah menjadi sebuah kampung khas yang menawarkan beragam kuliner tradisional Jawa. Mereka juga memilih membuka usaha tersebut di pinggir Sungai Kripik, sehingga dikenal juga dengan angkringan pinggir kali (sungai-red).

“Konsep sebuah tempat bersantai, bernuansa tempo dulu kampung tradisional Jawa, namun waktu operasionalnya di malam hari. Alhamdulillah, semenjak dibuka pada awal 2019 lalu, lambat laun mulai diterima masyarakat sekitar dan para pengunjung,” terangnya.

Seorang pedagang Nuryani, tengah melayani pesanan kuliner dari pembeli di Kampung Jawi Semarang, Selasa (20/4/2021). -Foto Arixc Ardana

Keberadaan Kampung Jawi pun mampu mendongkrak perekonomian masyarakat. Terlebih seluruh tenant atau pedagang makanan yang ada di lokasi tersebut, merupakan warga sekitar.

“Ini menjadi profesi masyarakat sekitar, mereka ikut berdagang. Ada yang kalau siang masih bekerja dan malam berjualan di sini, ada juga yang full sebagai pedagang di Kampung Jawi. Jadi ini juga untuk menumbuhkan perekonomian masyarakat,” terangnya.

Disinggung mengenai penggunaan uang kepengan dari kayu, Siswanto mengaku hal tersebut juga menjadi ide kreatif, untuk menarik minat pengunjung.

“Sistem pembayaran menggunakan kepengan kayu. Caranya pengunjung menukarkan uang rupiah mereka dengan kepengan kayu, senilai Rp 3 ribu per kepeng. Nantinya pengunjung cukup menukarkan kepengan kayu tersebut, dengan aneka makanan yang tersedia,” paparnya.

Cara ini rupanya disukai pengunjung, sebab seakan mereka diajak kembali ke masa tempo dulu, di mana pembayaran dilakukan dengan cara barter atau menggunakan uang kepengan.

Di satu sisi, datangnya bulan Ramadan, juga berimbas pada omzet penjualan aneka kuliner yang ditawarkan. Per hari angkanya sampai jutaan rupiah. “Alhamdulillah, kalau nominalnya berapa yang tahu pasti para pedagang yang  ada, namun yang jelas, beragam makanan yang disajikan laris manis dibeli untuk berbuka puasa, atau dibungkus dibawa pulang,” tandasnya.

Sementara, salah seorang pedagang Nuryani, mengaku selama bulan Ramadan ini, minat pengunjung sangat tinggi. Dirinya bahkan harus menambah stok jualan hingga dua kali lipatnya dibanding hari-hari biasa.

“Ramai selama bulan Ramadan ini, bahkan kalau ada pengunjung yang datang di atas pukul 17.00 WIB sudah tidak dapat meja, jadi mereka harus duduk lesehan atau menunggu meja kosong,” pungkasnya.

Lihat juga...