Lebaran CDN

Lahan Tergenang Banjir, Petani Kaligondang Panen tak Maksimal

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

 PURBALINGGA – Area sawah di Desa Cilapar, Kecamatan Kaligondang sempat tergenang banjir saat musim hujan lalu. Namun, berkat kegigihan para petaninya, mereka masih bisa panen, meskipun hasilnya tak maksimal.

Lahan pertanian yang tergenang banjir akibat meluapnya Sungai Ranu di desa tersebut mencapai 150 hektare.

Area lahan yang tergenang banjir merupakan milik para petani yang tergabung dalam kelompok tani Citra Desa Cilapar dan Gapoktan Toto Raharjo.

“Meskipun sempat tergenang banjir, namun para petani tidak putus asa, mereka tetap memelihara tanaman padi dan akhirnya bisa sampai panen, walaupun hasilnya tidak maksimal,” kata petugas penyuluh pertanian Desa Cilapar, Suwanto, Senin (26/4/2021).

Petugas penyuluh pertanian Desa Cilapar, Suwanto, di Kaligondang, Kabupaten Purbalingga, Senin (26/4/2021). Foto: Hermiana E. Effendi

Lebih lanjut Suwanto menjelaskan, varietas padi yang ditanam petani adalah jenis Inpari 32 dan IR 64. Dari hasil perhitungan hasil panen menggunakan metode ubinan, dari lahan seluas 2,5 x 2,5 meter persegi menghasilkan gabah kering panen (GKP) sebanyak 4,5 kilogram.

Hasil panen tersebut terbilang sedikit, karena pada awal musim tanam, saat usia padi masih hitungan hari, lahan tersebut terendam banjir selama beberapa hari.

Suwanto mengatakan, untuk musim tanam berikutnya, pihaknya mendorong para petani untuk lebih memperbanyak penggunaan pupuk organik.

Menurutnya, pupuk organik mempunyai banyak manfaat, antara lain meningkatkan produktivitas tanaman padi.

“Banyak keuntungan yang diperoleh petani jika menggunakan pupuk organik, karena pupuk tersebut menyuburkan tanah, meningkatkan unsur hara dalam tanah, sehingga tanaman menjadi lebih subur dan produksi padi meningkat. Karena itu, kita terus dorong para petani untuk memperbanyak penggunaan pupuk organik, termasuk saat terjadi banjir, tanaman bisa lebih kuat bertahan,” jelasnya.

Pupuk organik juga lebih murah dan bisa dibuat sendiri oleh para petani. Ia mencontohkan untuk 2 ekor kambing misalnya, bisa mencukupi kebutuhan pupuk organik pada lahan seluas 0,14 hektar. Pupuk organik, juga sebagai salah satu cara untuk mengantisipasi kekurangan pupuk saat musim tanam.

Sementara itu, salah satu petani, Sabar mengatakan, pada waktu lahannya terendam banjir, sebenarnya ia sudah pasrah.

Namun, setiap hari ia selalu mengontrol perkembangan tanaman padi miliknya, sehingga saat air mulai surut, ia langsung membersihkan area pertanian dari berbagai kotoran yang dibawa air sungai. Dan langsung melakukan pemupukan ulang secara menyeluruh.

“Alhamdulillah banyak tanaman padi yang masih bertahan meski terendam banjir, tetapi beberapa ada yang membusuk juga dan langsung kita bersihkan supaya tidak merambat ke tanaman lainnya. Dan sekarang masih bisa panen, walaupun hasilnya tidak banyak,” ucapnya.

Lihat juga...