Lebaran CDN

Lestarikan Populasi Binatang, Brigif Raider 17 Tangkarkan Rusa Tutul

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Upaya mendukung pelestarian keanekaragaman hayati, Brigif Para Raider 17 Kijang 1 Kostrad melakukan penangkaran rusa bintik putih yang bernama latin Axis Deer atau rusa tutul.

Rusa yang berasal dari hibah Istana Negara Bogor, Jawa Barat itu dipelihara di Taman Rusa Bintik Putih di kompleks Brigif Para Raider 17 Kujang 1 di Jalan Nusantara, Cijantung, Jakarta Timur.

Kopral Kepala Jahuri, yang merupakan pengelola Taman Rusa Bintik Putih mengatakan, awalnya ada lima rusa berjenis kelamin jantan dan betina yang dipelihara.

Kopral Kepala Juhari, yang merupakan pengelola Taman Rusa Bintik Putih ditemui di area Taman Rusa Bintik Putih di kompleks Brigif Para Raider 17 Kujang 1, Jalan Nusantara, Cijantung, Jakarta Timur, Rabu (21/4/2021). Foto: Sri Sugiarti.

“Kita ambil rusa bintik putih atau rusa tutul (Axis Deer) ini dari Istana Bogor tahun 2009. Ini rusa hibah yang kita kembangbiakkan, dan kini jumlahnya ada 48 ekor,” ujar Jahuri, kepada Cendana News, Rabu (21/4/2021).

Rusa tersebut dipelihara di sebuah kandang terbuka berbahan kayu beratap seng yang berada dalam taman yang dipagar besi dengan rindang pepohonan.

Kelima ekor rusa tersebut berhasil ditangkarkan hingga melahirkan dan anakannya tumbuh menjadi rusa yang sehat.

“Rusa tutul ini habitat aslinya dari India dan Srilangka yang ditangkarkan di taman ini untuk dilestarikan,” imbuhnya.

Menurutnya, cara memelihara rusa ini hampir sama seperti pengembangbiakan kambing. Yakni diberikan makan rerumputan setiap harinya pada pagi dan sore.

“Rusa tutul ini spesiesnya sama seperti kambing, cara melahirkannya juga dan makannya juga rumput. Jadi setiap hari, kita ngarit rumput, tapi bisa juga dikasih makan wortel dan buncis sebagai selingan,” ujar Jahuri.

Jika sakit pun, menurutnya, rusa tutul ini biasanya hanya terserang diare karena pengaruh cuaca. “Kalau mencret atau diare cukup diberi vitamin saja, dan rusa itu kembali sehat. Jadi penangkaran rusa ini sangat mudah,” ungkap pria kelahiran Majalengka 52 tahun ini.

Yang membedakan menurutnya, hanya kandang yang harus dibuat mirip seperti habitatnya, yakni berukuran cukup luas dan ada semacam kubangan.

“Untuk kandang rusa dibuat terbuka dan luas, tidak tertutup seperti kandang kambing. Jadi rusa-rusa ini bebas berinteraksi di alam bebas taman ini,” paparnya.

Lebih lanjut dijelaskan, rusa jantan setiap tahunnya akan melepaskan atau menanggalkan tanduknya. Setelah terlepas, tanduk tersebut akan kembali tumbuh memanjang seiring berjalannya waktu.

Penangkaran rusa-rusa ini akan terus dikembangbiakkan sebagai perlindungan ekosistem bagi hewan endemik India dan Srilangka ini.

Jahuri berharap konservasi ini dapat menyasar pelestarian dan keanekaramanan hayati agar keseimbangan ekosistem rusa bintik putih tetap terjaga.

“Rusa ini merupakan satwa yang sampai saat ini memiliki status konservasi satwa yang dilindungi,” tandasnya.

Dalam perkembangan, kata Jahuri, pihaknya telah memberikan tiga ekor rusa kepada Brigif 1 Jaya Sakti di daerah Kalisari, Jakarta Timur untuk dikembangbiakkan kembali.

“Tiga ekor rusa kita kasih ke Brigif 1, dikembangbiangkkan di area kolam renang Brigif, dan jumlahnya sudah bertambah. Jadi kelestarian rusa ini tetap terjaga dengan baik,” imbuhnya.

Dikatakan Jahuri, sejauh ini keberadaan rusa-rusa di taman Brigif Para Raider 17 Kujang 1 cukup menarik warga yakni sebagai sarana edukasi wisata.

Sehingga warga Jakarta Timur dan sekitarnya, jika ingin menyaksikan tingkah lucu hewan rusa ini tidak perlu pergi ke kebun binatang. Tapi bisa berkunjung ke Taman Rusa Bintik Putih.

Hewan herbivora ini dikenal tidak agresif dan ramah, sehingga kata dia, warga yang berkunjung, khususnya anak-anak tidak perlu takut untuk memberi makan langsung dengan tangan.

“Anak-anak bisa interaksi dengan rusa ini, memberi makan dan bercanda dengan tingkah lucu rusa,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan taman rusa ini menjadi salah satu upaya untuk melindungi populasi rusa sehingga terus berkembang biak.

Jahuri juga berharap taman rusa ini menjadi sarana alternatif wisata edukasi bagi anak-anak.

“Harapan kita, adanya rusa ini semakin banyak masyarakat yang tertarik, juga dapat menjadi sarana edukasi. Apalagi rusa juga termasuk salah satu hewan penanda alami atau Early Warning System (EWS) suatu bencana,” terangnya.

Lihat juga...