Lebaran CDN

Limbah Kemasan Plastik dan Karet Berpotensi Jadi Media Tanam

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Penggunaan kemasan berbahan plastik yang sulit terurai di alam masih jadi pilihan. Namun dampak bagi lingkungan kemasan plastik kerap jadi sampah. Atasi pencemaran limbah kemasan plastik alih-alih dibakar berimbas polusi udara sebagian warga memanfaatkan sebagai media tanam.

Suyatinah, memakai kemasan plastik bekas jadi media tanaman sayuran, bumbu dapur. Warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan itu menyebut sampah kemasan makanan cukup beragam.

Beberapa sampah kemasan makanan itu di antaranya kaleng susu, kemasan minyak goreng, plastik makanan dan botol minuman. Selain kemasan plastik jenis ember cat, ember semen dan ban bekas bisa jadi media tanam.

Dibandingkan hanya dibuang, dibakar mencemari lingkungan, Suyatinah berkreasi dengan kompos. Kompos yang dibuat dari daun, sayuran, kotoran ayam ditimbun dalam tanah. Setelah satu bulan terfementasi pupuk kompos bisa digunakan sebagai media tanam. Jenis tanaman pilihan berupa kencur, jahe merah, kunyit, stoberi dan tanaman bunga. Media tanam tepat akan menjaga kesuburan tanah.

“Kemasan makanan bekas yang hanya dibuang bisa dimanfaatkan untuk menjaga lingkungan agar tetap hijau, tanaman bunga berpotensi jadi penyejuk halaman dan beberapa tanaman bumbu bisa dipanen tanpa harus membeli karena penanaman memanfaatkan lahan pekarangan,” terang Suyatinah saat ditemui Cendana News, Rabu (14/4/2021).

Kemasan plastik bekas minyak goreng dimanfaatkan Suyatinah, warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan untuk menanam sayuran, Rabu (14/4/2021). -Foto Henk Widi

Suyatinah bilang pemanfaatan bahan bekas untuk menanam sayuran, bunga dan tanaman bumbu ikut menjaga lingkungan. Memasuki masa panen dengan adanya limbah sekam padi bisa dimanfaatkan untuk campuran media tanam. Beberapa limbah kemasan botol plastik yang masih bisa bernilai jual akan diambil pengepul untuk didaur ulang.

Pemanfaatan ulang (reuse) bekas kemasan makanan, ember juga dilakukan Lisdaryanti. Ia mengaku proses daur ulang (recycle) sampah plastik akan dilakukan sejumlah pengepul. Upaya pengurangan sampah plastik (reduce) dilakukan dengan pembuatan ecobrick. Namun jumlah sampah terbatas membuat ia lebih memilih pemanfaatan sampah dengan pemakaian ulang.

“Menjadikan kemasan, ember dan botol untuk pemanfaatan ulang sebagai pot juga menghemat pengeluaran,” ungkap Lisdaryanti.

Jenis ember bekas cat sebut Lisdaryanti berpotensi digunakan untuk menanam kencur. Jenis sayuran tomat, seledri, bawang daun dan kangkung ditanam olehnya memakai plastik kemasan minyak. Melalui proses penggunaan berulang hingga puluhan kali sejumlah plastik kemasan akan hancur. Penggunaan kemasan untuk pot sebutnya lebih cepat mengurai plastik dibanding ditimbun atau dibakar.

Atin Indarto, memanfaatkan limbah ember untuk budidaya stroberi skala rumah tangga. Kerap melihat bekas ember semen dan kemasan plastik dibuang ia menjadikannya sebagai media tanam. Pemanfaatan kemasan plastik, ember sebutnya memiliki fungsi ganda. Selain menghasilkan buah dari tanaman berbagai tanaman menjadi penghias halaman.

“Tanaman stroberi dan sejumlah tanaman bunga, sayuran bisa menghijaukan halaman,”paparnya.

Berbagai jenis kemasan makanan, minuman sebut Atin Indarto kerap dibuang ke sungai. Antisipasi sampah banjir imbas sampah ia memilih mempergunakannya untuk pot. Pencemaran lingkungan imbas sampah yang sulit terurai juga bisa dicegah dengan pemanfaatan ulang. Agar lebih efektif media tanam tersebut memanfaatkan pupuk organik untuk kesuburan tanah.

Lihat juga...