Makan Sayur Pahit Tanpa Nasi, Puasa ala Umat Katolik

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Memasuki pekan suci Paskah umat Katolik tetap wajib menjalankan laku mati raga. Kewajiban saat masa Prapaskah disebut Apolonius Basuki diisi dengan pantang, puasa, derma dan sedekah.

Aturan puasa sebut pastor Paroki Ratu Damai Teluk Betung dimaknai boleh makan kenyang sekali dalam sehari. Sementara pantang tidak mengonsumsi makanan, minuman kesenangan yang dipilih.

Secara khusus dalam hal pemilihan makanan menurut Romo Apolonius Basuki bisa ditentukan umat. Ia menyebut secara umum dalam gereja Katolik hari jumat sepanjang tahun dipilih sebagai hari pantang.

Apolonius Basuki, pastor Paroki Ratu Damai, Teluk Betung, Bandar Lampung, menjelaskan makna pantang, puasa saat Prapaskah secara virtual, Sabtu (3/4/2021) – Foto: Henk Widi

Hari puasa dan pantang ditetapkan saat hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Bagi sebagian umat puasa dan pantang bisa menyesuaikan kondisi dan kesepakatan keluarga, komunitas dan pribadi.

Salah satu alternatif yang kerap dipilih oleh umat dengan pemilihan kuliner tertentu. Saat pekan suci jelang Paskah dimaknai sebagai masa berduka, berkabung umat bisa memilih makanan tertentu.

Seperti Yesus yang makan roti tidak beragi tanpa rasa dipadukan dengan sayur pahit menjadi simbol persiapan Paskah. Masa berkabung ini dalam tradisi masih diikuti sebagian umat Katolik.

“Askese atau penyangkalan diri dengan mengonsumsi makanan yang dipandang tidak enak bagi lidah menyesuaikan niat saat pantang dan puasa pada hari Rabu dan Jumat Agung. Diteruskan saat Sabtu Suci,” terang romo Apolonius Basuki secara virtual, Sabtu (3/4/2021).

Kewajiban puasa dan pantang diwajibkan bagi orang dewasa. Sementara wajib puasa bagi yang sehat, berusi 18 hingga 60 tahun. Kewajiban dalam memilih makanan bisa dilakukan keluarga dalam memaknai Prapaskah dan pekan suci.

Beberapa umat melakukan tradisi puasa dalam komunitas biara, rumah tangga dengan makanan tanpa nasi, makanan pahit.

Yohana, salah satu umat Katolik di Teluk Betung bilang makanan menu pantang dan puasa telah dipilih tanpa nasi. Secara khusus saat pekan suci ia menyebut mengurangi nasi dan menggantinya dengan ubi jalar, singkong dan tiwul.

Yohana menyiapkan daun pepaya untuk direbus selanjutnya ditumis sebagai menu saat Tri Hari Paskah di Teluk Betung, Bandar Lampung, Sabtu (3/4/2021) – Foto: Henk Widi

Sebagai pengganti lauk ia hanya menambahkan garam dan sayuran memakai daun singkong, daun pepaya pahit dan sawi pahit.

“Saya ingin memaknai masa berkabung dalam masa penderitaan Yesus Kristus sebelum disalib dengan puasa dan pantang makanan tertentu,” cetusnya.

Mengonsumsi makanan tanpa nasi diganti tiwul, sayur pahit sebutnya jadi cara mengurangi uang belanja. Sebagai bentuk askese atau penyangkalan diri, uang belanja yang digunakan akan diserahkan dalam aksi puasa pembangunan (APP).

Selain menyadarkan akan nasib orang lain yang tidak beruntung solidaritas puasa, pantang diisi dengan makanan tanpa nasi dan sayuran pahit.

Saat puasa dan pantang pada Tri Hari Suci Paskah, ia mengaku tidak hanya dengan makanan. Kegiatan meniadakan hiburan seperti menonton televisi, memakai handphone, mendengarkan musik dilakukan olehnya.

Setelah Jumat Agung dan memasuki Sabtu Suci ia memilih melakukan aktivitas di rumah dengan mati raga.

“Saya memilih merenungkan detik-detik waktu peristiwa Jumat Agung hingga Sabtu Suci dengan membaca Alkitab dan merenungkan makna sengsara, wafat Kristus,” sebutnya.

Memaknai masa berkabung dengan makanan sebutnya jadi tradisi jelang Paskah. Meski hari raya ia menyebut keluarganya tidak menyediakan menu yang enak.

Ia bahkan memilih mengganti nasi dengan hanya merebus ubi jalar, singkong. Nasi putih kerap diganti olehnya dengan menggunakan nasi tiwul.

Sang keponakan, Christeva dan Pitka juga mengikuti masa pantang dan puasa dengan makanan yang telah dipilih. Meski memakai menu tiwul dan sawi pahit, makanan itu menjadi pengingat akan rasa solidaritas bagi sesama yang lebih menderita.

Askese atau penyangkalan diri saat Prapaskah dan Tri Hari Suci Paskah sekaligus jadi cara lebih memaknai makna Paskah.

Christeva bilang pemilihan makanan saat pantang dan puasa Prapaskah hingga Tri Hari Suci Paskah telah disepakati. Memantang atau menghindari makanan nikmat bagi lidah sebutnya jadi cara puasa sederhana.

Makan tiwul dan sayuran pahit menjadi cara penyadaran akan orang lain yang sulit mendapatkan makanan. Uang jajan untuk membeli makanan disisihkan sebagai tabungan mengisi APP yang diserahkan saat Paskah.

Lihat juga...