Lebaran CDN

Masa Panen Lebih Lama, Komoditas Ketan Menjanjikan Keuntungan

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Varietas padi ketan jarang dibudidayakan oleh petani, karena usia panennya yang lebih lama dibanding varietas padi beras. Namun bagi petani di Lampung Selatan, padi ketan varietas grendel, thailand dan ketan hitam masih banyak dibudidayakan.

Suyatinah, petani ketan di desa Pasuruan, kecamatan Penengahan, mengatakan, usia padi ketan genjah sama dengan Ciherang, maksimal 100 hingga 110 hari.

Usia tanam hingga panen yang sama dengan varietas padi biasa, membuat Suyatinah menanam padi ketan. Proses tanam dilakukan dengan pemisahan petak sawah. Memanfaatkan sekitar lima petak dari total puluhan petak sawah, ia masih bisa mendapat hasil lima kuintal. Pemilihan varietas padi ketan genjah mempermudah proses perawatan.

Pengeringan gabah ketan thailand dilakukan dengan terpal oleh Suyatinah, petani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Senin (19/4/2021). -Foto: Henk Widi

“Padi ketan varietas thailand dan grendel memiliki warna kulit hampir sama dengan padi Ciherang. Namun pada varietas ketan hitam, malai buah lebih tegak, batang lebih tinggi dan warna kulit hitam. Ketiga jenis ketan ini banyak dibudidayakan petani untuk kebutuhan Ramadan dan Lebaran. Masyarakat menggunakan ketan untuk acara tradisi, mendorong penananam padi ketan,” terang Suyatinah, saat ditemui Cendana News, Senin (19/4/2021).

Menurut Suyatinah, petani tetap mengandalkan padi ketan karena banyak digunakan untuk kebutuhan pembuatan kuliner tape, jadah, lemper dan penganan yang disajikan kala acara pernikahan setelah lebaran Idulfitri.

Suyatinah juga bilang, banyak petani lain enggan menanam padi ketan. Sebab, persepsi padi varietas ketan memiliki usia tanam lebih lama. Namun, menurutnya usia panen padi ketan mencapai 110 hari juga memiliki nilai ekonomis lebih tinggi. Beras varietas IR64, Ciherang dijual seharga Rp10.000 hingga Rp12.000 per kilogram. Sementara beras ketan thailand, ketan grendel dan ketan hitam bisa mencapai Rp18.000 hingga Rp20.000 per kilogram. Meski harga lebih mahal, petani tetap menanam ketan dalam jumlah terbatas.

“Keterbatasan lahan juga jadi kendala untuk penanaman varietas padi ketan, namun pemilik padi ketan sebagian menanam satu hamparan,”cetusnya.

Suyatinah juga menyebut, persepsi padi ketan menjadi pengundan organisme pengganggu tanaman (OPT) bisa dicegah. Pengaturan jarak tanam, penanganan hama dengan insektisida, pestisida menjadi cara meminimalisir populasi OPT. Setelah 110 hari proses pemanenan, bisa dilakukan sebagai stok kebutuhan selama bulan Ramadan dan Idulfitri.

“Hasil gabah kering panen padi ketan disimpan untuk pembuatan tape saat Idulfitri,” cetus Suyatinah.

Suyatinah mengaku mendapat hasil panen padi ketan sebanyak lima kuintal. Sesuai perhitungan, setelah dikeringkan masih bisa diperoleh sekitar 450 kilogram beras ketan. Padi varietas ketan kerap banyak diminta oleh pengecer di pasar tradisional. Sebab, beras ketan banyak digunakan untuk sejumlah kuliner tradisional.

Suminah, petani lainnya di desa Pasuruan, menyebut ketan masih menjadi andalan. Sebab, sesuai kearifan lokal setempat penanaman padi varietas Ciherang dan ketan menjadi pelengkap. Padi ketan yang dibudidayakan varietas thailand dan grendel. Kedua jenis ketan tersebut memiliki masa tanam hingga panen selama 110 hari. Masa tanam yang sama memudahkan proses perawatan.

Petani, sebut Suminah, telah meninggalkan varietas padi ketan usia lebih lama. Masa tanam tidak serentak berpotensi mengundang OPT pada satu hamparan. Pemilihan masa tanam padi yang memiliki usia sama membuat padi ketan masih menjadi andalan. Harga yang lebih mahal juga menjadikan budi daya padi ketan dipertahankan.

Lihat juga...