Lebaran CDN

Membentuk Karakter Anak dengan Pendidikan Dini yang Tepat

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Menciptakan ekosistem pendidikan dini yang memberikan kesempatan anak untuk berinteraksi dan mandiri, akan membentuk anak yang suka belajar dan percaya diri dalam mengembangkan kemampuannya. 

Kepala Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Taman Kanak-kanak dan Pendidikan Luar Biasa (P4TK TK-PLB) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Abu Khaer, MPd, menyatakan dalam mewujudkan sistem pembelajaran berkelanjutan yang mampu membentuk anak, ada beberapa hal yang perlu diubah dalam sistem mengajar.

“Kelas itu untuk berdiskusi bukan hanya mendengar satu arah, beri kesempatan pada murid untuk mengajar di kelas, cetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas untuk meningkatkan karakteristik anak, temukan bakat anak terutama pada anak yang tidak percaya diri sehingga ia bisa berkembang sesuai dengan minatnya dan bantu guru yang mengalami kesulitan,” kata Abu Khaer dalam seminar online Kemdikbud, Kamis (29/4/2021).

Kepala P4TK TK-PLB Kemdikbud, Abu Khaer, MPd., dalam seminar online Kemdikbud, Kamis (29/4/2021). -Foto Ranny Supusepa

Sehingga makna pendidikan akan menjadi suatu upaya penuntunan anak tanpa mengubah karakter anak itu sendiri.

“Dengan memajukan layanan pendidikan bermutu, yang disampaikan tanpa melihat latar belakang peserta didik, termasuk kondisi peserta didik, maka kita bisa menciptakan generasi yang gemilang,” ucapnya.

Praktisi Pendidikan Sekolah Kembang Jakarta Lestia Primayanti menyatakan sekolah yang ingin dituju dengan sistem pembelajaran pengembangan karakter adalah sekolah yang menjadi tempat anak bertumbuh untuk menjadi suka belajar, bahagia dan antusias serta tetap tampil dengan  perbedaannya masing-masing.

“Penting dalam pendidikan dasar anak, seorang guru harus menempatkan kepentingan terbaik anak sebagai yang utama. Setiap anak memiliki keunikan dan kebutuhan masing-masing dan setiap anak adalah anak berdaya,” kata Lestia.

Konsep pembelajaran utama yang dikembangkan di Sekolah Kembang Jakarta adalah bermain.

“Bukan kalau selesai belajar atau selesai mengerjakan tugas lalu bermain. Tapi, pada tahapan dasar itu, anak memang bermain. Bukan belajar. Anak akan banyak belajar saat bermain,” paparnya.

Ia menyebutkan saat bermain, seorang anak akan menggunakan seluruh tubuh dan inderanya untuk memahami lingkungan sekitar. Selain belajar mengenal dirinya sendiri dan orang lain, termasuk gurunya.

“Saat bermain bersama teman, anak akan belajar untuk berhubungan dengan orang lain. Saat bermain, anak akan belajar bagaimana mencapai apa yang diinginkannya dengan cara yang menyenangkan,” paparnya lebih lanjut.

Praktisi Pendidikan Sekolah Kembang Jakarta Lestia Primayanti menjelaskan pola pembelajaran di sekolah miliknya, dalam seminar online Kemdikbud, Kamis (29/4/2021). -Foto Ranny Supusepa

Penerapan pembelajaran di Sekolah Kembang adalah tematik berbasis literatur anak dengan metode sentra pembelajaran.

“Semua dilakukan dengan membiasakan anak untuk mandiri dan memahami perannya. Seperti untuk rutinitas kelas, merupakan kesepakatan dengan anak-anak. Ekosistem tempat belajar juga harus memungkinkan anak untuk bisa melakukan semuanya secara sendiri. Misalnya, untuk mempersiapkan alat belajarnya,” kata Lesti.

Dan untuk meningkatkan interaksi anak, kelas tidak disusun berdasarkan umur.

“Perbedaan umur dalam tiap kelas membuat anak-anak semakin cepat untuk mandiri dan saling membantu. Anak yang berumur lebih besar akan belajar membantu adik-adiknya. Dan anak yang lebih kecil akan mencontoh kakak-kakaknya. Sehingga eskalasi pembelajaran bisa berlangsung dengan baik,” ujarnya.

Tugas guru bukanlah membuat anak untuk mengerti tapi mendampingi anak untuk mengembangkan kemampuannya, percaya akan kemampuannya dan mendorong anak untuk terus belajar menjadi anak mandiri.

“Menurut saya, guru itu mengajar karena mencintai. Karena mencintai, mereka mau memahami kebutuhan anak-anaknya dan mau untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman dan memberi stimulasi sesuai tahapan tumbuh kembang,” ucapnya.

Guru juga merancang kegiatan yang bermakna, menjadi teman belajar, terlibat dan bertanya pada anak untuk memantik pemikiran baru pada anak.

“Yang perlu ditekankan adalah pembentukan karakter anak itu, yang terbesar perannya adalah keluarga. Baru sekolah dan masyarakat. Sehingga untuk membuat anak bertumbuh dengan baik, maka yang dibutuhkan adalah kerja sama dan saling percaya antara orang tua dan sekolah. Bukan hubungan saling mengeluh,” pungkasnya.

Lihat juga...