Lebaran CDN

Memperbanyak Dzikrullah

OLEH: HASANUDDIN

MENGINGAT Allah swt atau dzikrullah salah satu yang amat ditekankan dalam Al-Qur’an. Terdapat 267 kali anjuran melakukan dzikrullah ini disebutkan dalam berbagai derivasinya, antara lain; Q.S. Al-Ahzab/33:41-42:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (41) وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً (42)

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.”

Juga dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa’/4:103:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلاةَ إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا (103)

” Maka apabila kamu telah menyelesaikan sholat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah sholat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

Juga dalam firman-Nya pada surah Ali-Imran/3:91 “Ingatlah kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk atau di waktu berbaring”. Yang dapat dipahami bahwa bagi seorang muslim, dzikir merupakan suatu amalan yang senantiasa dapat di lakukan, dan hendaknya di lakukan dalam segala situasi dan keadaan.

Dzikir yang Paling Diutamakan

Rasulullah Muhammad saw dalam berbagai kesempatan, sebagaimana terdapat dalam sejumlah hadits beliau menekankan arti penting kedudukan dzikir ini, serta telah memberikan contoh dalam pelaksanaannya untuk diikuti oleh para kaum muslimin.

Mengingat Allah swt, sambil mengucapkan kalimat La Ilaha Illa Allah, merupakan dzikir yang paling diutamakan. Beliau misalnya mengatakan: “Yang paling mulia (dari kalimat dzikir) adalah la ilaha illa Allah. Sabdanya lagi, “yang paling mulia dari dzikir para Nabi-Nabi sebelumku, adalah la ilaha Illa Allah. Juga Beliau menyampaikah bahwa; “la ilaha illa Allah, adalah benteng (perlindunganku), barangsiapa yang memasuki benteng perlindunganku ini, aman dari siksa Allah swt”.

Dalam melakukan dzikir kepada Allah, hendaknya oleh hamba dipahami makna kalimat tersebut, bahwa tidak ada yang disembah, dikehendaki, dituju, dimaksud, tidak ada yang berbuat, tidak ada nama-Nya selain Allah. Bahwa sesungguhnya (wujud selain Allah itu) ia bayangan bagi Allah Ta’ala, sedang bayangan sesuatu itu ditiadakan wujudnya, seperti tidak ada wujud setelah diteliti sebenarnya selain-Nya.

Kalau demikian adanya, maka nyatalah bahwa selain Allah itu bukanlah maujud pada keadaan sebenarnya. Bahwa sesungguhnya, wujud yang sebenarnya secara hakiki itu, adalah Dia yang berdiri sendiri dengan sendiri-Nya, tidak memiliki ketergantungan kepada apapun. Demikianlah yang disampaikan oleh Syech Yusuf al-Makasssry dalam Kitab beliau Subdatul Asraar.

Selanjutnya menurut beliau, wajib pula mengucapkan dzikir dalam hati dengan menyebut “Allah Allah” di dalam hati. Sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-an’am ayat 91, “Ucapkanlah Allah, lalu biarkan (berlangsung) secara berulang-ulang”. Kemudian, membenarkan dengan rahasianya, melalui dzikir Huwa-Huwa sebagaimana firman-Nya, “Ingatlah Aku, niscaya Aku akan mengingat engkau” (QS. Al-Baqarah/2: 152).

Lebih lanjut beliau menyampaikan (masih dalam kitab yang sama), bahwa la ilaha illa Allah adalah dzikir lisan, Allah Allah adalah dzikir hati, dan huwa-huwa adalah dzikir isyarat (rahasia). Berkata pula para ahli ilmu r.a. bahwa la ilaha illa Allah adalah dzikir bagi kalangan awam, Allah Allah dzikir kalangan khawash, dan huwa-huwa dzikir dari kalangan khawasul al-khawash.

Hal berikutnya yang perlu diperhatikan dalam berdzikir menurut Syech Yusuf Al-Makassary adalah wajib bagi hamba senantiasa melihat pada dirinya, dan menyadari kehadiran Allah bersamanya, Allah menyaksikanya.

Sebagaimana hadits Nabi Muhammad saw, “Sembahlah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, kalau tidak melihat-Nya, maka Dia yang melihat engkau”. Yang dimakasud “melihat” di sini adalah al-muraqaabah al-ihsaniyati (penglihatan hati yang baik).

Berkata sebagian ahli dzauq (rasa) dari kalangan sufi, qaddasallahu alaih bahwa maqom u’budullah kaannaka taraahu (sembahlah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya) adalah maqom orang awam, sedang maqom fain lam takun taraahu fainnahu yaraaka (kalau engkau tidak melihat-Nya, Dia melihat engkau) adalah maqom orang dari kalangan “khawash”, maka cerdaskanlah otakmu dan renungkan, insyaallah engkau akan mendapatnya.

Beliau juga menyampaikan, bahwa dalam melakukan dzikir hendaknya memperbaiki al-zdan (prasangka) karena prasangka ini sangat sering mengacaukan seseorang. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah selalu memperbarui taubat, “sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat, serta mencintai orang-orang yang bersih” (QS. Albaqarah/2: 156).

Tobat adalah sifat mubhalagah (yang sampai) kepada Allah. Tidak ada orang yang melakukan tobat, melainkan Allah pasti terima tobatnya. Karena di sana-sini, kita sering melakukan dosa dan berbagai kesalahan, maka kepada kaum mukminin dianjurkan agar senantiasa melakukan pertobatan dengan mengucapkan “astagfhirullah al adziim, waatubu alaih”.

Demikian penting dzikir kepada Allah ini bagi seorang mukmin, maka sudah seharusnya dipelajari dan diamalkan dalam kehidupan. Adapun teknis pelaksanaannya, bisa saja ditemukan perbedaan-perbedaan, karena Allah memberi petunjuk-Nya kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya.

Oleh karena itu, perbedaan-perbedaan teknikal atau prosedural yang dapat ditemukan dalam banyak varian aliran-aliran tarekat, jangan dipermasalahkan. Siapa pun yang mempermasalahkan perbedaan seperti itu, nyata bahwa seseorang itu belumlah sampai pada maqom kewalian.

Akhirnya, meskipun pembahasan tentang dzikir yang disampaikan pada catatan ini masih sangat singkat, semoga Allah swt menyempurnakan pemahaman kepada para pembaca. Selamat menunaikan ibadah-ibadah Ramadan, di hari Jumat yang penuh berkah. ***

Depok,  23 April 2021

Lihat juga...