Lebaran CDN

Mengenal Tradisi Keramas ‘Merang’ Sambut Ramadhan di Bekasi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

BEKASI — Tradisi keramas atau bebersihan keramas dengan abu merang dibakar menjadi salah satu budaya warga Bekasi saat menyambut bulan suci Ramadhan, di samping budaya lainnya. Merang, adalah jerami padi yang dibakar jadi arang kemudian diisi air, untuk disaring.

Bang Elok Ketua Koasi Konsen Bekasi saat ditemui di Bekasi, Minggu (11/4/2021). Foto: Muhammad Amin

Dulu mendekati bulan suci Ramadhan, aroma bakaran merang begitu berasa di hidung, di setiap lingkungan perkampungan. Merang dibakar biar item dan abunya dimasukin bokor kecil dan di atasnya ditutupin kain tipis buat nyaring abu. Abu merang yang berwarna item selanjutnya dijadikan untuk keramas rambut dan seluruh badan, wanginya pun mampu membuat plong dan adem.

Tapi Tradisi itu sudah tidak terdapat lagi di Bekasi, dulu biasanya menjelang memasuki bulan suci Ramadhan, warga tua muda melakukan siraman (mandi keramas) untuk membersihkan seluruh tubuhnya menggunakan merang. Tapi tak kalah penting dari tradisi itu adalah bentuk upaya dalam membersihkan hati.

“Sekarang hanya tinggal ruwahan yang masih dilaksanakan di beberapa perkampungan di Kota Bekasi, saat menyambut bulan suci Ramadhan. Ruwahan didahulu dengan doa bersama, dilanjutkan dengan makan bersama,” ujar Aki Maja Budaya Bekasi, kepada Cendana News, Minggu (11/4/2021).

Tidak ada lagi tradisi nyorog atau hantar nasi dan lauk pauk kepada orang tua, saudara, sesepuh dan lainnya. Semua sepertinya ditukar dengan go send, sehingga nilai luhur makna dari nyorog itu sendiri tergusur. Tidak ada lagi hantaran sayur ikan bandeng dari anak kepada orang tua, saudara atau tokoh tertentu yang dihormati.

Ketua Yayasan Kebudayaan Orang Bekasi (Koasi) konsen untuk pelestarian dan pengembangan tradisi, budaya, dan seni, Bang Ilok, mengisahkan bahwa dulu orang kampung Bekasi, menghadapi bulan Ramadhan dari sebulan sebelumnya telah direpotkan dengan beragam persiapan, mulai dari membersihkan pemakaman keluarga, penutupan pengajian, sembahyang nisfu.

Hal lainnya warga juga sibuk mempercantik rumah dengan kapur, dan pada saat sehari menyambut bulan suci ramadhan malamnya di jalan kampung dipasang colen atau pelita sebagai penerangan. Semua tradisi dilakukan sebagai lambang membersihkan hati, menyambut bulan suci ramadhan. Pembersihan diri dengan seluruh badan, bahkan sampai kuku tangan dan kaki dikikis dengan beling agar terlihat bersih luar dalam.

“Kami sebagai pegiat budaya Bekasi, berharap pemerintah bisa menjadikan munggahan, ruwahan menyambut bulan suci Ramadhan sebagai acara rutin tahunan yang dipusatkan di satu tempat sebagai agenda budaya. Itu hanya salah satu cara mengenalkan dan menjaga budaya agar tetap dikenal,” jelasnya.

Saat ini, ruwahan diakuinya masih ada, di kampung-kampung, tapi ada yang dilupakan yakni makanan budaya sayur ikan kuning yang dulu harus ada setiap ruwahan. Karena itu adalah lambang kegembiraan masyarakat Melayu Betawi Bekasi ketika menyambut bulan suci.

Menjaga budaya atau tradisi harus dimulai dari diri sendiri, lanjut Bang Ilok, tapi pemerintah harusnya ikut dalam membuat event tahunan sebagai upaya dalam pelestarian. Sehingga tradisi warisan leluhur tetap terjaga sebagai salah satu nilai kearifan lokal.

“Koasi Bekasi, akan mencoba mendorong pemerintah untuk membuat event budaya yang mulai ditinggalkan. Ini adalah salah satu cara untuk mengenalkan kembali budaya Bekasi agar tidak lekang oleh zaman,” ungkap Bang Ilok.

Lihat juga...