Menikmati Kelezatan Kue Bugis yang Lembut

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Kue bugis kerap dikenal dengan kelembutannya.

Novianti, salah satu warga keturunan Bangka yang menetap di Bumiwaras, Teluk Betung, Bandar Lampung mengaku membuat kue bugis untuk pesanan. Sejumlah pedagang kue tradisional memesan untuk dijual kembali di pasar. Kue Bugis dibuat dari bahan tepung beras, sagu, ketan dan bahan lain.

Novianti (kanan) melakukan proses pembuatan kue bugis di Bumiwaras, Teluk Betung, Bandar Lampung memenuhi pesanan pelanggan, Sabtu (3/4/2021) – Foto: Henk Widi

Novianti bilang kue bugis dibuat dalam beberapa lapisan. Lapisan utama di bagian dalam berupa parutan kelapa yang telah diolah bersama gula merah.

Pada bagian kedua berupa lapisan tepung ketan. Lapisan ketiga kue bugis disempurnakan dengan tepung beras yang diakhiri dengan pelapis daun pisang kepok. Paduan rasa gurih, asin, manis dan aroma wangi pandan jadi penggugah selera.

Bahan pembuatan kue bugis sebut Novianti cukup beragam. Ia menggunakan bahan tepung aci dari sagu, tepung ketan, santan, daun pandan.

Parutan kelapa yang telah diolah dengan campuran gula merah sebagai isian telah disiapkan sebelumnya. Sebagai kemasan jenis daun pisang kepok muda jadi pilihannya.

“Pada tahap pertama bahan tepung kanji, tepung ketan dan daun pandan yang telah dihaluskan dibuat menjadi adonan. Lalu diaduk perlahan hingga tercampur sempurna memakai baskom hingga kalis, sehingga mudah dibentuk,” terang Novianti saat ditemui Cendana News, Sabtu (3/4/2021).

Setelah adonan menjadi kalis Novianti bilang, bahan akan dipipipihkan untuk diberi isian. Bahan yang dibuat adonan sebutnya telah dipisahkan antara bahan tepung kanji, tepung ketan dan tepung beras.

Pada lapisan luar ia memipihkan adonan tepung kanji, selanjutnya lapisan tepung ketan dan tepung beras. Semua adonan pipih lalu diberi isian parutan kelapa dan gula dan dikemas daun pisang.

Novianti mengaku proses pembuatan kue bugis sepintas rumit. Namun ia mengaku mewarisi pembuatan kue tersebut dari sang mama asal Bangka.

Setelah adonan dibuat menjadi bulat dengan isian parutan kelapa dan gula, kue bugis yang dikemas daun pisang lalu disusun dalam alat pengukus. Ia membungkus adonan dengan daun pisang berbentuk kotak ukuran kecil.

“Banyak pelanggan suka dengan ukuran kecil karena mudah ditelan sehingga sensasi lumer isian parutan kelapa dan gula terasa,” terang Novianti.

Setelah dikukus kurang lebih setengah jam ditandai dengan adonan yang matang, kue bugis bisa diangkat. Semua kue bugis yang diangkat dari alat pengukus selanjutnya didinginkan.

Novianti akan mengemas dalam wadah plastik mika berisi sekitar sepuluh kue bugis mandi dengan harga per bungkus kue Rp1.000. Kue bugis dijual ke pedagang pasar.

Lestari, salah satu pedagang kue tradisional menyebut kue bugis jadi pelengkap jajanan pasar. Selain kue bugis ia juga menjual risoles, cenil, onde onde, donat dan berbagai kue tradisional.

Lestari (kanan) melayani pelanggan yang membeli kue bugis dan sejumlah kue tradisional di Pasar Gudang Lelang, Teluk Betung, Bandar Lampung, Sabtu (3/4/2021) – Foto: Henk Widi

Berjualan di pasar Gudang Lelang, ia mengaku kue bugis cukup diminati karena memiliki tekstur lembut. Kue tersebut kerap digunakan untuk menu sarapan bersama secangkir teh hangat.

“Kue tradisional bugis dan jajanan pasar lain dijual mulai harga Rp1.000 banyak dipesan oleh ibu rumah tangga dan pegawai kantor,” bebernya.

Herlina, salah satu penyuka kue bugis mengaku lapisan bahan tepung kanji, ketan dan beras cukup lembut. Aroma wangi daun pisang, daun pandan menggugah selera saat bercampur dengan parutan gula kelapa.

Sebagai kue yang lembut ia kerap memberikannya bagi sang anak sebagai menu sarapan. Disantap bersama teh hangat kue bugis menjadi penambah energi saat pagi.

Lihat juga...