Lebaran CDN

‘Modal Kita’ Bantu Anggota Koperasi Kembangkan Usaha Kuliner Tradisional

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MALANG – Terhitung sudah tiga tahun lamanya, Latifatu Sa’diah, menjadi anggota Koperasi Unit Desa (KUD) Suluh Sejahtera Mandiri.

Selama itu ia telah mengajukan tiga kali pinjaman Modal Kita dari salah satu koperasi binaan Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (Damandiri) tersebut untuk membesarakan usaha jajanan atau kuliner tradisional tempo dulu yang sudah dirintisnya sejak belasan tahun yang lalu.

Latifatu Sa’dia menunjukkan hasil produksi jajanan tradisional Petulo di rumahnya, Senin (26/4/2021). Foto: Agus Nurchaliq

“Pinjaman pertama 2 juta, pinjaman kedua naik menjadi 3 juta, kemudian pinjaman ketiga berhubung butuh modalnya sedikit jadi cuma mengajukan pinjam 2 juta. Saya sesuaikan dengan kemampuan untuk membayar pinjaman,” akunya saat ditemui Cendana News di rumahnya, di Desa Cerdas Mandiri Lestari (DCML) Kedungkandang, kota Malang, Senin (26/4/2021).

Disampaikan Latifa, selama ini pembayaran angsurannya terbilang cukup lancar meskipun pernah juga melakukan tunggakan namun langsung ia lunasi. Untuk membayar angsuran pinjaman Modal Kita setiap bulannya, ia ambilkan dari keuntungan usaha.

“Selama saya bisa bekerja saya utamakan untuk membayar tanggungan. Apalagi program DCML ini mencakup kampung, kalau nama saya jelek otomatis nama kampung saya juga ikut jelek, jadi saya jaga nama baik itu. Kalaupun terpaksa saya harus nunggak, saya bilang ke pengurusnya dan saya langsung bayar di bulan berikutnya,” ujarnya.

Menurutnya, selama ini ia pernah juga mengajukan pinjaman ke koperasi lainnya namun proses pencairannya tidak semudah di KUD Suluh Sejahtera Mandiri.

“Sebelumnya pernah pinjam ke tempat lain, tapi terlalu banyak persyaratan ini itu. Berbeda dengan di KUD Suluh Sejahtera Mandiri yang justru tidak memerlukan jaminan untuk mengajukan pinjaman, jadi sangat memudahkan warga,” ucapnya.

Diceritakan Latif, sejak 13 tahun yang lalu ia bersama suami mulai merintis pembuatan aneka jajanan tradisional tempo dulu. Sebagai pecinta jajanan tempo dulu, di awal usahanya ia pernah menjual jajanan Orog-orog yang terbuat dari tepung beras. Kemudian berganti dengan Getuk lindri.

“Karena peminat Orog-orog dirasa sudah mulai menurun, setelah itu saya ganti bikin getuk lindri. Dari yang awalnya hanya 3 kilogram dibuat manual bersama suami sampai sekarang bisa produksi 1 kuintal. Getuk ini peminatnya memang luar biasa, tapi buatnya susah,” sebutnya.

Sampai sekarang usaha Getuknya masih berjalan, tapi karena memasuki bulan puasa jadi produksi Getuknya libur dulu dan diganti dengan produksi jajanan Petulo yang berbahan tepung beras.

“Jadi khusus di bulan puasa ini saya bikin petulo. Saya yang bagian produksi, adik yang memasarkan,” pungkasnya.

Lihat juga...