MUI Kota Bekasi Kokohkan Islam Wasathiyah Lewat PKU

Editor: Makmun Hidayat

BEKASI — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bekasi, Jawa Barat terus mengokohkan pendidikan Islam wasathiyah kepada kalangan ustaz di wilayah setempat. Hal tersebut sebagai salah satu cara dalam mencegah paham radikalisme di kalangan umat.

Hal lainnya, kaderisasi ulama tersebut sebagai bekal untuk para ulama di Kota Bekasi dalam menjawab tantangan dakwah di era teknologi dan informasi, liberalisasi dan masuknya paham-paham radikal di Kota Bekasi.

“MUI menunjuk saya sebagai direktur pendidikan kader ulama (PKU). Setelah mendapat mandat saya langsung merekrut para tokoh assatisah, di 12 kecamatan semuanya para ustaz dengan pendidikan S1, S2 dan jebolan pesantren,” kata K.H. Abu Bakar Rahziz Direktur PKU MUI Kota Bekasi, Kamis (1/4/2021).

Dikatakan saat ini ada seratusan ustaz dan ustazah mengikuti program pendidikan ulama yang digelar oleh MUI Kota Bekasi. Mereka mengikuti kegiatan belajar di asrama haji atau tempat yang telah ditentukan dengan pengisi materi dari berbagai ulama.

Para ustaz dan ustazah tersebut belajar wawasan Islam kaffah dengan mengkaji berbagai kitab seperti kitab dari Habib Ali Al Jufri Tahrim dan Habib Umar, bahkan ada tentang Islam wasathiyah dari Kemenag, dan lainnya materi terkait Islam toleran, yang dikembangkan.

Pendidikannya melalui semacam diklat berisi materi pelatihan kajian Al Quran, kajian hadis, kajian fiqih, kajian dakwah dan tantangan pemikiran dan isu-isu kontemporer.

Selain itu juga diberikan pelatihan multimedia dan leadership. Keseluruhan materi disampaikan melalui metode pembelajaran dengan seminar kelas, brainstorming, sharing ide dan resitasi dalam menelusuri referensi primer.

“Peserta PKU sebenarnya mereka sudah memiliki wawasan Islam di pesantren. Ke depan mereka akan menjadi ulama yang menciptakan harmonisasi di Bekasi sebagai Kota toleran,” ungkap K.H Abu Bakar yang juga sebagai pengasuh Ponpes Mahasina Daqwah, Jatiwaringin Bekasi ini.

Dia juga mengungkapkan, di pesantrennya, sejak dini santri diberikan pelajaran tentang ahli sunnah wal jamaah (Aswaja) pemahaman ketauhidan yang benar, wawasan kebangsaan yang benar.

“Santri di sini juga warna warni, tapi kemudian ada pemahaman Islam  yang pas dan tepat,” tukasnya.

Dia pun mengaku prihatin atas peristiwa teror di Mabes Polri yang kecenderungannya kalangan remaja banyak muncul. Dan memang, imbuhnya, 48 persen berangkat dari keluarga, anak orangtua bertindak kekerasan, 18 persen berangkat dari pengajian dan pertemanan, 9 persen dari medsos, dominan urusan keluarga, dan pengajian sifatnya eksklusif doktrin.

“Perlu dibenahi, makanya Islam wastasiyah itu harus terus dikembangkan di NU itu istilah Islam moderat. Pendidikan, Islam kaffah sejak dini anak harus diberi pemahaman islam yang benar mulai dari akidah, fiqih dan ahli sunnah wal jamaah,” ucapnya.

Lihat juga...