Lebaran CDN

Masa Panen Padi, Lapangan Pekerjaan Musiman Warga Lamsel

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Musim panen padi di Lampung Selatan (Lamsel) jadi berkah bagi sebagian warga. Panen padi dengan sistem borongan memakai alat perontok padi jadi sumber penghasilan Harsono dan warga lainnya di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan.

Ia mengaku, masa panen saat Ramadan membuat proses panen dipercepat memakai alat. Normalnya panen memakai sistem perontokan manual.

Bersama dengan sebanyak dua puluh orang pekerja, panen dengan dos dilakukan dengan sistem pembagian kerja. Tahap pertama pekerja melakukan pemotongan batang padi, penumpukan jerami, perontokan padi.

Usai dirontokkan tahap selanjutnya pekerja akan mengangkut gabah ke atas kendaraan. Sistem borongan akan diupah gabah kering panen (GKP) 9:1 untuk pemilik lahan dan alat dos.

Harsono menyebut mendapatkan sekitar 40 karung GKP pemilik alat dos bisa mendapat 4 karung. Dalam sehari ia dan rekan rekannya mendapatkan sekitar 10 karung lebih dengan berat rata rata 1 kuintal.

Hasil penjualan GKP yang kini mencapai Rp3.500 atau Rp350.000 per kuintal akan dibagi kepada pekerja. Per hari ia bisa mendapat hasil rata rata Rp75.000 hingga Rp100.000.

“Sistem pemanenan dengan alat dos bisa selesai hanya dalam jangka maksimal empat hingga lima jam, lalu pindah ke lahan lain sehingga bisa mendapatkan bagian gabah untuk dijual dan upah dalam bentuk uang,” terang Harsono saat ditemui Cendana News, Jumat (23/4/2021).

Pekerjaan sebagai buruh panen sistem dos sebut Harsono jadi alternatif mendapat hasil. Sebab sebagian buruh dominan warga yang tidak memiliki lahan sawah.

Meski pekerjaan membutuhkan tenaga yang prima, panen dengan alat dos jadi pilihan. Dalam satu kali masa panen ia menyebut rombongan pekerja bisa mendapat sekitar 10 ton gabah.

Masa panen juga menjadi berkah bagi buruh angkut atau kerap disebut manol. Sesuai kesepakatan buruh angkut akan diupah dengan sistem per karung.

Setiap karung sesuai jarak, Samsudin, salah satu buruh angkut mendapat upah Rp5.000 hingga Rp8.000. Mampu mengangkut puluhan karung ia bisa mendapat hasil ratusan ribu per hari. Meski butuh tenaga kerja, buruh angkut jadi sumber penghasilan.

“Pengangkutan gabah dilakukan dari lahan sawah yang sulit diakses motor dan mobil,” terangnya.

Sesampainya di rumah, GKP yang tidak dijual pemilik menjalani proses pengeringan. Pemilik kerap memanfaatkan jasa tenaga kerja pengeringan.

Suyatinah, salah satu buruh jemur mengaku setiap hari ia bisa menjemur puluhan karung padi. Rata rata upah yang diterima dari proses pengeringan mencapai Rp50.000 hingga Rp70.000 per hari.

Tenaga kerja penjemuran sebutnya diperlukan untuk mengeringkan gabah. Harga gabah yang murah saat masa panen rendengan mencapai Rp3.000 hingga Rp3.500 per kilogram membuat pemilik memilih menyimpan gabah.

Penyimpanan gabah dilakukan untuk cadangan selama Ramadan hingga Idulfitri. Sebagian dijual dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG) dan beras.

“Tugas sebagai buruh jemur mengeringkan padi hingga siap simpan dalam karung, upahnya puluhan ribu per hari,” bebernya.

Padi yang telah dijemur oleh sebagian buruh jemur siap disimpan di lumbung sebagai stok milik Marwiati (kanan) di Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Jumat (23/4/2021) – Foto: Henk Widi

Marwiati, pemilik padi menyebut membutuhkan buruh panen, angkut hingga jemur. Hasil panen GKP hingga GKG sebutnya sengaja tidak dijual.

Sebagian padi akan digiling untuk membayar upah tenaga kerja. Ia mengaku memilih menyimpan gabah untuk stok.

Sebab pada masa tanam ketiga diprediksi akan sulit air. Stok digunakan untuk berjaga-jaga kala masa paceklik.

Lihat juga...