Lebaran CDN

Ngaruh Rasan

CERPEN ADAM YUDHISTIRA

PENGHUJUNG  bulan haji itu Umak meneleponku, menyampaikan kabar jika Hambali hendak menikah dengan Rosidah.

Aku diminta pulang barang sehari-dua hari, agar bisa mendampingi Ebak menyiapkan segala sesuatunya. Tetapi kabar itu tak serta-merta membuatku gembira. Alih-alih gembira, justru kekhawatiran membiak di kepala.

Pernikahan bukan perkara mudah di kampung kami. Ada banyak aral yang mesti dilalui, salah satunya adat ngaruh rasan. Sebelum ijab kabul dilangsungkan, keluarga mempelai laki-laki mesti mengabulkan segala pinta keluarga mempelai perempuan.

Jika tak sanggup, jangan harap pesta pernikahan terlaksana. Tidak jarang adat itu menjadi pelerai cinta gadis dan bujang. Jika tak ada saling pengertian di kedua belah pihak calon besan, maka pesta pernikahan tak akan bisa dilangsungkan.

Sepanjang perjalanan, pikiran itu mengusikku. Aku salah satu korban adat itu. Karena itulah aku tak mau Hambali bernasib sama sepertiku. Dan untuk sekali ini, pada rencana pernikahan Hambali, aku telah mematri janji, akan kutentang adat itu. Adat yang menjerat leher kaum lelaki di kampung kami.

***
KETIKA fajar masih terang-terang tanah, biasanya Hambali sudah pergi menyadap getah karet di kebun milik Ebak di Bukit Guntung.

Ia akan pulang sebelum waktu salat Zuhur. Tetapi pagi itu, suasana rumah ini sedikit berbeda. Aku melihat adik bungsuku itu melamun di beranda. Aku enggan menyapanya, tersebab mafhum, mungkin lantaran pagi ini adalah pagi yang penting baginya. Kotak masa depannya akan dibuka.

Seminggu yang lalu Ebak dan kerabat kami sudah ngaruh rasan. Mereka mendatangi keluarga Rosidah untuk mengajukan pinangan serta niatan menyunting gadis itu untuk Hambali.

Sirih pinang bersusun di dalam nampan, wajik dan juadah sudah dihantarkan. Kini tinggal menanti jawaban dari pihak calon mempelai perempuan.

Ebak sudah berdandan rapi dan duduk di ruang tamu. Umak sedang menjerang air di dapur. Gemericik minyak panas menyambut satu per satu irisan pisang yang disulurkannya ke dalam wajan.

Aku duduk di kursi makan, tak jauh dari Umak, membantunya mempersiapkan hidangan perjamuan untuk tamu istimewa yang sebentar lagi akan datang.

Tamu istimewa itu adalah Pacik Zainuri, cugur kampung kami. Sebagai cugur, Pacik Zainuri bertugas menjadi penyambung lidah keluarga calon mempelai perempuan.

Lelaki tua itulah yang akan menyenaraikan jumlah mahar perkawinan yang wajib dipenuhi calon mempelai laki-laki.

Selama menunggu kedatangan tamu istimewa ini, kami lebih banyak diam. Perasaan kami dicekam was-was yang begitu tebal.

Apa yang nanti disampaikan Pacik Zainuri bisa jadi ladang pertaruhan martabat dan harga diri. Kupandangi wajah Ebak, Umak, dan Hambali berganti-ganti. Raut mereka sedikit tegang dan gundah.

Saat matahari naik sepenggalah, terdengar dua suara mengucap uluk salam di beranda. Pacik Zainuri rupanya sudah datang. Lelaki tua itu datang bersama Mang Salim, paman Rosidah. Kami menyambut kedatangan mereka dengan senyum paling ramah.

Umak dengan cekatan menyajikan penganan kecil sebagai jamuan, lalu duduk di samping Ebak. Aku dan Hambali duduk berdampingan, bersiap mendengar kabar yang akan diterakan.

Lantas dengan penuh ketakziman, Pacik Zainuri menyenaraikan jawaban keluarga besar Rosidah. Setelah usai lelaki tua itu menuntaskan kata-katanya, kami semua terdiam.

Sungguh tak disangka, apa yang disampaikannya membuat kami kecewa. Keluarga Rosidah mematok mahar di luar batas kesanggupan yang kami bisa.

“Apa salahnya jika kita menawar mahar yang dipinta,” ucapku memecah keheningan yang bergulir di ruangan itu dan menyebarkan rasa tak nyaman.

“Bukankah ini demi kebaikan dua keluarga juga?”

“Aku tak mengira kalau lama hidup di kota membuat kau berubah, Badar,” sindir Pacik Zainuri. “Kau pikir kami sedang menjual anak domba, hingga bisa kau tawar seenaknya?”

Dengan ekor mata, kutangkap senyum sinis di bibir Mang Salim. “Ini aturan adat yang tak boleh dilanggar,” ujar lelaki setengah baya itu santai. “Jika tak sanggup memenuhinya, batalkan saja.”

Aku ingin membantah, tapi Ebak memandang tajam, seakan memberi isyarat agar aku diam. Tidak ada kemarahan di dalam sorot matanya, lebih ke penyesalan mendapati anak sulungnya menjelma menjadi pembangkang.

“Saat ini kami belum bisa memberikan jawaban,” kata Ebak pelan. “Beri kami waktu tiga hari di muka. Jawabannya akan segera Pacik terima.”

Demikianlah akhirnya, sampai Pak Zainuri dan Mang Salim pergi, tak ada kata sepakat yang kami capai. Mahar yang diajukan keluarga Rosidah, tak sanggup kami kabulkan. Dengan sisa-sisa rasa kesal di dada, aku coba menyampaikan pendirianku kepada Ebak.

“Apa yang salah dari saranku tadi?” tanyaku sambil memandangi wajah Ebak lekat-lekat. “Jika permintaan itu bisa diubah, kita bisa menikahkan Hambali dan Rosidah.”

“Apa kau sudah gila, Badar?” sentak Ebak. “Kau dengar sendiri omongan mereka tadi. Adat itu tak mungkin diingkari!”

“Tolong, Bak. Pikirkanlah. Aku tak ingin Hambali merasakan perasaanku dulu,” sahutku bersikeras. “Ebak tahu mengapa aku masih melajang sampai tua begini? Adat itu penyebabnya.”

Umak menatapku dengan sorot mata memohon, seolah meminta agar aku tak meneruskan kata-kata. Tapi hatiku sudah kadung luka. Sepuluh tahun yang lalu aku gagal menikahi Maryamah, gadis yang begitu kucinta. Sampai kini rasa sakitnya masih terasa.

Sebenarnya, jauh di lubuk hati, aku senang tinggal di kampung ini daripada hidup merantau di Jakarta. Namun ada sesuatu yang memaksaku pergi: luka yang tercipta dari adat istiadat di kampung ini. Rasa malu yang tak tertanggungkan, membuatku benci kampung sendiri.

Baca Juga

Rumah

Pergi

KRAPYAK

Hikayat Sulamat

Aku tak ingin Hambali merasakan kebencian dan kekecewaan itu. Maka, sebisa-bisanya akan kubela rasa cintanya kepada gadis itu. Tak peduli meskipun aku akan dibenci oleh penduduk kampung ini.

“Jika adat itu tak bisa diubah, kami para jejaka mungkin tak akan pernah menikah sampai tua!” sentakku sambil berdiri dan mencoba menggugat.

“Para gadis pun akan menjadi perawan tua, tersebab tak ada lelaki yang sudi meminang mereka!”

Ebak mendengus dan membuang muka ke jendela. Umak menggeleng dengan pipi berurai air mata. Hambali menunduk dalam-dalam.

Aku memang lega usai mengucapkan kalimat itu, namun kesakitan yang kusembunyikan, sesuatu yang kututupi, luka yang bertahun-tahun berusaha kusembuhi, akhirnya terkoyak lagi.

“Tak mengapa, Bang. Tak perlu dipaksakan,” ucap Hambali tiba-tiba seraya memegang lenganku.

“Pernikahanku dengan Rosidah dibatalkan saja.”

“Tapi kau akan ditimpa malu, Adikku!” sahutku emosi. “Seperti aku dulu.”

“Sungguh, Bang. Tak mengapa,” ucap Hambali dengan bibir memucat dan gemetar. “Aku bisa menerimanya.”

Aku tahu adikku sedang berdusta. Di matanya, aku melihat ngarai kecewa. Aku tahu bukan itu yang diinginkannya. Hambali mencintai Rosidah. Andai pernikahan ini gagal terlaksana, tak terbayang betapa hancur perasaannya.

“Malam nanti, biar aku yang mendatangi orang tuanya. Akan kusampaikan kalau…”
“Tak usah, Bang,” ucap Hambali menetak omonganku. “Memang aku yang salah. Mungkin aku tak berjodoh dengan Rosidah.”

Aku memandang wajah adikku dengan perasaan hancur. Sorot matanya kehilangan cahaya. Andai bisa dibuat lebih mudah, aku yakin pernikahannya bisa berjalan dengan bahagia.

Penghasilannya dari menyadap getah karet itu, kurasa cukup untuk membiayai hidup mereka. Tapi apabila mahar yang dipinta adalah emas dan uang berjuta-juta, mana mungkin keluarga kami sanggup mengabulkannya.

Sementara aku cuma pegawai rendahan, sungguh tak mampu jika diminta untuk meringankan beban keluarga.

Esok paginya, dengan segenap berat hati, aku pamit pada Ebak, Umak, dan Hambali. Kepada mereka tetap kusampaikan, bagaimanapun caranya, akan kucari cara agar pernikahan itu terlaksana.

Tetapi, baru satu hari tiba di Jakarta, kabar buruk itu kuterima. Dengan terisak, Umak mengatakan bahwa keluarga besar Rosidah menolak pinangan Hambali.

Pernikahan mereka dibatalkan. Seharian itu adikku tak banyak bicara. Ia mulanya pamit menyadap getah karet seperti biasa, namun setelah berjam-jam, ia tak kunjung pulang.

Ebak menyusulnya dan menemukan adik kesayanganku, lelaki muda yang patah hati itu, sudah tergantung di dahan pohon karet tua. Ia menebus malu dengan nyawanya.

***

HUJAN sehalus kapas tak menyurutkan langkah para pembawa keranda menuju lahan pemakaman. Tangis dan ratap pilu bersitingkah dengan bunyi guruh di kejauhan, merayau bersama desau angin, melintasi kebun karet yang sunyi di lereng Bukit Mategelung.

Di belakang barisan pemanggul keranda, aku tak mengira akan melihat sosok Pacik Zainuri. Ingin rasanya kuusir lelaki tua itu dari barisan para pelayat.

Kehadirannya hanya membuat kesedihan di hati kami berlarat-larat. Suka tak suka, lelaki tua itulah yang menjadi muara duka yang kami rasa. Hati batunya menyebabkan luka di dada kami semua.

Selesai liang kubur diuruk dan doa-doa dipanjatkan, para pelayat mulai meninggalkan pemakaman. Aku berjalan paling belakang, tepat di belakang Pacik Zainuri.

Di hadapan beberapa warga yang turut mengantar adikku ke peristirahatannya, lelaki tua itu terus mengulang cerita yang sama.

Aku berjuang meredam api yang membakar rongga dada. Namun lisan lelaki tua itu semakin lama semakin berbisa.

Tanpa rasa iba, ditudingnya Hambali sebagai lelaki tak tahu diri, yang menaruh cinta pada perempuan lebih tinggi.

Api dendam melahap habis kesabaran dan akal sehatku. Mataku bersitumbuk dengan seonggok kayu. Kayu itu kuayunkan ke kepalanya berulangkali.

Jerit ngeri para pelayat tak mampu menghentikan ayunan tanganku. Ketika itu, entah kenapa, di mataku Pacik Zainuri telah menjelma seekor babi.  ***

Catatan:
Ngaruh rasan: negosiasi kedua belah pihak keluarga calon mempelai tentang kisaran besar mahar pernikahan. Adat ini masih dipakai di sebagian desa di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.
Cugur: tetua adat.
Ebak: Ayah.
Umak: Ibu.

Adam Yudhistira, lahir pada 1985. Saat ini bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, cerita anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di berbagai media massa cetak dan daring di Tanah Air. Selain bersastra, ia juga berbahagia mengelola sebuah Taman Baca di kampungnya. Buku kumpulan cerpennya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (Basabasi, 2017).

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...