Omset Warung Cerdas Wanareja Berangsur Pulih

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

CILACAP — Dua bulan terakhir omset penjualan di Warung Cerdas Wanareja, Kabupaten Cilacap berangsur mulai pulih setelah sempat mengalami penurunan hingga 50 persen lebih. Meskipun belum sepenuhnya normal seperti sebelum pandemi, namun peningkatan omset terus terjadi setiap harinya.

Pengelola Warung Cerdas Wanareja, Sudaryanto di kantornya, Selasa (30/3/2021). (FOTO : Hermiana E.Effendi)

Pengelola Warung Cerdas Wanareja, Sudaryanto mengatakan, saat ini per harinya omset penjualan di Warung Cerdas sudah mencapai kisaran Rp26 juta. Sebelumnya, omset sempat hanya pada angka Rp10 hingga Rp15 juta per hari.

“Memasuki Februari kemarin, omset penjualan mulai pulih, terutama untuk kebutuhan pokok, mungkin karena kondisi ekonomi masyarakat juga mulai membaik sehingga daya beli meningkat. Sampai dengan minggu terakhir Maret ini, masih terjadi peningkatan,” jelasnya Sudaryanto, Kamis (1/4/2021).

Selain kebutuhan pokok, beberapa produk hasil Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang disuplai ke Warung Cerdas Wanareja, penjualannya sekarang juga cenderung stabil. Seperti sale pisang, klanting, keripik singkong, keripik ubi, keripik bayam dan lain-lain.

Makanan ringan yang diproduksi oleh warga sekitar warung cerdas tersebut mulai laku, sehingga usaha bisa terus berjalan. Meskipun pada awal pandemi omset penjualan sempat menurun, namun sekarang berangsur sudah mulai normal kembali.

“Untuk per minggunya penjualan beberapa kripik produk UMKM rata-rata mencapai Rp 1 juta, sudah mulai normal kembali,” katanya.

Sudaryanto berharap, kondisi terus membaik, terlebih menjelang puasa dan lebaran nanti. Sebab, tahun lalu bisa dibilang tidak ada ‘panen’ atau peningkatan penjualan yang signifikan saat lebaran dan puasa.

“Kita berharap kondisi puasa dan lebaran tahun lalu, tidak terulang lagi tahun ini, karena dua minggu ke depan sudah masuk bulan puasa,” tuturnya.

Sementara itu, salah satu pelaku UMKM yang menyuplai produk keripik singkong ke Warung Cerdas, Ibu Tati membenarkan, jika omset penjualan produk UMKM mulai stabil. Ia mengaku pernah mengalami kondisi penurunan penjualan yang cukup dratis, sehingga berharap hal tersebut tidak terjadi lagi.

Selain menyuplai keripik singkong, Ibu Tati juga memproduksi keripik ubi dan bayam. Makanan tersebut dikemas dalam plastik, dengan ukuran sedang. Harga jualnya juga sangat terjangkau, hanya pada kisaran Rp5.000 hingga Rp10.000 per bungkus.

“Saya pernah mengalami penjualan sampai menurun dratis, sampai ada beberapa produk yang harus diambil karena tidak laku. Tetapi saya tetap mencoba untuk terus produksi, karena kalau berhenti, nantinya untuk menjaring pelanggan lagi akan sulit,” ucapnya.

Lihat juga...