Lebaran CDN

Omzet Turun 80 Persen, UMKM Tetap Bangkit Beradaptasi 

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Di tengah badai Covid-19, pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) turut terhempas, omzetnya turun hingga 80 persen. Namun mereka tetap bertahan dengan bantuan stimulus dan berupaya bangkit beradaptasi produknya.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM), Teten Masduki mengatakan UMKM mempunyai daya tahan dari krisis ke krisis bisa menyelamatkan ekonomi nasional. Namun di tengah badai Covid-19 ini UMKM turut terhempas dan bahkan banyak yang tutup.

Bahkan dari data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sekitar 500 ribuan UMKM yang kolaps dari 64 juta usaha.

“Ini karena 40-80 persen omzetnya UMKM turun di tengah badai Covid-19, akibatnya banyak yang punya masalah ke pembiayaan,” ujar Teten, pada webinar bertajuk Pembiayaan dan Adaptasi UMKM di Jakarta yang diikuti Cendana News, Selasa (20/4/2021).

Tetapi secara keseluruhan, Teten meyakini  UMKM  relatif bisa bertahan punya daya desilensi. Tentu ini menurutnya tidak terlepas dari dukungan pemerintah mulai dari restrukrisasi pinjaman, subsidi bunga  termasuk juga yang anbankable  ada hibah modal kerja.

Lebih lanjut dikatakan dia, dengan  daya beli masyarakat yang terbatas selama pandemi ini. Justru UMKM  memiliki adaptasi yang baik untuk bertahan. Yakni para pelaku UMKM mengubah produk mereka ke produk homecare, makanan atau kesehatan.

“Perubahan produk ini terjadi karena adanya demand yang tinggi dari masyarakat. Maka pelaku UMKM beradaptasi dengan market, dan bahkan ke platform digital,” ungkap Teten.

Dikatakan dia, tahun 2020 ada peningkatan 4 juta UMKM yang on boarding digital atau bertransformasi berjualan dari offline ke online. Sehingga totalnya ada 12 juta UMKM yang on boarding atau naik sekitar 19 persen.

Teten juga menyampaikan, bahwa data BPS mencatat pandemi Covid-19 menyebabkan konsumsi rumah tangga untuk makanan dan minuman selain restoran terkontraksi 1,39 persen sepanjang tahun 2020.

Sedangkan penyedia restoran dan hotel mengalami kontraksi sebesar 7,98 persen. Kemudian, hasil survei World Bank 2021 menunjukkan 59,2 persen responden bermata pencaharian wiraswasta.

Dan sebanyak 74,1 persen mengandalkan penjualan online sebagai pendapatan utama. Tapi sebanyak 51 persen di antaranya adalah reseller dan produsen baru mencapai 11 persen.

“Pelaku UMKM melakukan transformasi digital sebagai  upaya akses pasar yang lebih luas di tengah pandemi Covid-19,” ujarnya.

Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo), Ikhsan Ingratubun menambahkan, dalam kondisi Covid-19, UMKM hanya mampu bertahan selama dua hingga tiga bulan. Hal itu disebabkan adanya pembatasan sosial seperti PSBB pada Maret-Juni 2020.

“Kebijakan PSBB ini berpengaruh besar terhadap dampak UMKM, dan kondisi riilnya hanya mampu bertahan 2-3 bulan. Nah,  sebenarnya di bulan Juni 2020 itu sudah kolaps,” ujar Ikhsan pada acara yang sama.

Untungnya kata dia, pemerintah dengan kebijakannya memberikan stimulus bagi pelaku UMKM. Seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT) atau Bantuan Presiden Produktif sebesar Rp 2,4 juta per unit usaha.

“Nah, bantuan 2,4 juta itu dana hibah dari pemerintah. Ini sangat membantu UMKM yang kolaps bisa bangkit lagi,” ujarnya.

Selain itu, tambah dia, pinjaman kredit usaha rakyat (KUR) sebagai modal berdagang. Sehingga pelaku UMKM yang kolaps merasa diperhatikan oleh pemerintah  bersyukurlah pemerintah di tengah pandemi ini.

“UMKM kan kunci dari pemulihan ekonomi bangsa ini dalam kondisi pandemi yang sudah berlangsung setahun ini. Saya kira kebijakan pemerintah sudah bagus untuk kembali bangkitkan UMKM dengan bantuan stimulus,” pungkasnya.

Lihat juga...