Lebaran CDN

Optimalkan Penggunaan Sampah Kulit Jagung jadi Aksesoris Cantik

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BANDUNG – Bagi kebanyakan orang, kulit jagung mungkin saja tidak ada artinya, ia tidak lebih sebatas sampah yang harus dibuang atau dibakar. Namun bagi Ani Ratnaningsih, kulit jagung sangat besar artinya.

Lewat tangan dinginnya, perempuan asal Kota Bandung itu bisa mengkreasikan kulit jagung menjadi berbagai aksesoris seperti kalung, gelang, anting, bunga tulip yang cantik dan bernilai jual tinggi.

“Sebetulnya kalau kita punya ilmunya, barang-barang yang mungkin kita anggap sampah di sekitar kita itu bisa jadi sangat besar artinya. Seperti saya, sejak tahu cara membuat kerajinan tangan dari bahan dasar kulit jagung, sampai sekarang saya hampir tidak pernah membiarkan kulit jagung berserakan seperti sampah,” kata Ani Ratnaningsih kepada Cendana News, Rabu (21/4/2021) di Desa Mendalasari, Cikancung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Ibu Ani Ratnaningsih (kiri) ditemani Ibu Aminah (kanan) sedang membuat kerajinan tangan dengan bahan dasar kulit jagung, Rabu (21/4/2021) di Desa Mandalasari, Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Foto: Amar Faizal Haidar

Pengembangan kulit jagung menjadi kerajinan tangan tersebut sudah digeluti Ani sejak 10 tahun terakhir. Ia menyebut, telah berlangganan dengan salah seorang petani jagung di daerah garut, untuk bisa menyuplai kulit jagung kepadanya.

“Kulit jagung dari mereka itu sudah sampai pengelolaan tahap satu. Jadi dari kulit jagung mentah, oleh mereka dikeringkan, sampai warnanya betul-betul putih. Lalu kemudian dijual ke kita,” terang Ani.

Kulit jagung yang sudah kering tersebut, oleh Ani kemudian diukir atau digunting menjadi berbagai bentuk kerajinan yang diinginkan. Setelah itu dibungkis dengan plastik lalu dilaminating, sehingga kulit jagung menjadi kuat.

“Setelah itu tinggal kita kreasikan saja. Kita bisa buat macam-macam. Misalnya lukisan dari kulit jagung, atau aksesoris. Secara bahan sih tidak mahal, yang bikin mahal justru proses pembuatannya karena butuh ketelitian. Paling murah kita jual kerajinan ini di harga Rp25.000,” ujar Ani.

Lebih lanjut, Ani bersyukur, lewat brand Kembang Kamonesan, ia berhasil menjual berbagai kreativitas tersebut. Dan ia pun menyebut, bahwa peminat aksesoris yang berasal dari kulit jagung itu cukup banyak.

“Saya juga sudah melatih cukup banyak orang. Saya diminta mengisi pelatihan di berbagai daerah. Saya pikir ini bukan semata-mata tentang ekonomi dan kreativitas, tapi juga tentang pelestarian lingkungan, karena kita harus bisa mengelola limbah yang potensial menjadi bernilai,” papar Ani.

Di tempat yang sama, Aminah, salah satu peserta yang mengikuti pelatihan pengembangan kulit jagung bersama Kembang Kamonesan mengaku senang bisa mendapatkan pengetahuan tentang cara mengelola limbah menjadi kerajinan.

“Kalau tidak ikut ini mana kita tahu kalau ternyata kulit jagung bisa jadi barang bernilai. Alhamdulillah senang sekali,” tuturnya.

Selain mendapat pengetahuan, Aminah pun mengaku kini mendapatkan kesempatan untuk berkecimpung di bisnis penjualan Kembang Kamonesan.

“Tentu kita bukan hanya mau tahu cara bikinnya, tapi juga ingin agar bisa dapat penghasilan. Sekali lagi syukur alhamdulillah, dikasih kesempatan ikut terlibat di bisnisnya. Jadi bikinnya senang, ditambah dapat uang juga,” pungkas Aminah.

Lihat juga...