Lebaran CDN

Pandemi, Kebutuhan pada Agama Semakin Meningkat

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Dai, ulama sekaligus pimpinan Pondok Pesantren Ora Aji, yang terletak di Dusun Tundan, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Miftah Maulana Habiburrahman, atau yang akrab disapa Gus Miftah menyebut pentingnya mencari guru agama yang tepat.

Hal itu diperlukan agar masyarakat tidak mudah terjerumus pada hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran dan tuntunan agama. Misalnya sikap intoleransi, paham radikalisme, hingga perilaku yang mengarah ke tindakan terorisme.

“Di era pandemi seperti sekarang ini, tingkat kebutuhan orang untuk beragama semakin tinggi. Karena orang cenderung takut akan datangnya kematian. Namun saat kita mau berguru, bergurulah pada guru yang tepat. Guru-guru yang menyejukkan, yang mengajarkan Islam dengan penuh keramahan, Islam yang  menyenangkan. Namun tetap kompeten,” ujarnya saat ditemui di pondok pesantren Ora Aji, Senin (19/4/2021).

Menurut Gus Miftah, munculnya sikap-sikap intoleransi, radikalisme hingga terorisme tak jarang bermula justru dari kesalahan seseorang dalam memilih guru agama. Sehingga membuatnya salah dalam memahami agama itu sendiri. Yang pada akhirnya membuatnya tersesat dan melakukan hal yang tidak semestinya.

“Apalagi saat ini banyak kelompok yang mengatasnamakan agama dan mengajarkan agama secara sembunyi-sembunyi. Kalau tidak ada sesuatu tentu akan mengajarkan secara terbuka. Sehingga pemerintah maupun aparat kepolisian harus senantiasa bersinergi, berkomunikasi dan merangkul mereka. Termasuk pada tokoh-tokoh masyarakat setempat. Agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi,” katanya.

Masyarakat dinilai juga harus senantiasa menyaring setiap informasi yang diperoleh dari manapun asalnya, khususnya di media sosial. Agar tidak serta-merta asal menelan informasi yang belum tentu kebenarannya tersebut, bahkan hingga membagikannya secara luas melalui jaringan media sosial yang dimiliki.

“Netizen harus saring sebelum sharing. Lalu postinglah yang penting. Jangan yang penting posting. Karena itu bahaya. Ketika kita mem-viralkan sesuatu yang tidak penting, terkadang justru menguntungkan pihak atau kelompok itu. Sehingga tidak perlu, dan kita hindari,” katanya.

Sementara itu menanggapi kasus viralnya seorang pria bernama Jozeph Paul Zhang yang diduga menistakan agama Islam dan mengaku sebagai nabi ke-26, Gus Miftah pun menanggapinya dengan santai. Ia menilai orang-orang semacam itu hanyalah orang stres yang tidak paham agama.

Pasalnya, menurut Gus Miftah, orang yang paham agama mestinya tidak akan mungkin melakukan hal-hal bodoh semacam itu. Karena agama menurutnya merupakan sesuatu yang mestinya diamalkan bukan diperdebatkan.

Karena bagaimana pun setiap agama tidak ada yang mengajarkan untuk melakukan kekerasan dan menghina agama lain.

“Menurut saya itu hanya motif orang stres. Kalau paham agama tidak mungkin melakukan. Karena tidak ada agama apa pun yang mengajarkan kekerasan dan hina agama lain. Sehingga orang seperti itu hanyalah orang stres,” katanya.

Lihat juga...