Lebaran CDN

Pelaku Usaha Minta Kenaikan Tarif di Pelabuhan Tanjung Priok Dievaluasi

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Pelaku usaha merasa keberatan atas kebijakan PT Pelindo II (Persero) atau IPC yang menaikkan sejumlah pos tarif di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Pengenaan tarif baru untuk biaya penumpukan (storage) dan biaya pengangkatan kontainer ke truk (lift-on) dinilai tidak sejalan dengan upaya pemerintah untuk menekan biaya logistik. 

“Langkah tersebut juga tentunya kontraproduktif dengan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang dilakukan pemerintah,” ungkap Ketua Harian Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Mahendra Rianto dalam webinar bertajuk Membincang Kebijakan Tarif Baru Pelabuhan Tanjung Priok, Selasa (13/4/2021).

Ketua Harian Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Mahendra Rianto memberikan paparan dalam webinar bertajuk Membincang Kebijakan Tarif Baru Pelabuhan Tanjung Priok, Selasa (13/4/2021). -Foto Amar Faizal Haidar

Mahendra menyebut, kenaikan tarif yang terjadi saat ini mencakup biaya penumpukan berbasis waktu (hari) dan ukuran (20 ft & 40 ft). Kenaikan pada setiap pos tarif berkisar antara 7 persen sampai 39 persen. Selain itu, terdapat kenaikan biaya pengangkutan kontainer ke truk.

“Untuk handling kontainer ukuran 20 ft naik dari Rp187.500 menjadi Rp285.500. Sedangkan untuk ukuran 40 ft naik dari tarif lama Rp281.300 menjadi Rp428.250,” ungkap Mahendra.

Dia berharap IPC dan kementerian terkait bisa mengevaluasi kebijakan yang baru dikeluarkan tersebut, karena skema tarif baru tidak hanya membebani dunia usaha, tetapi juga akan berdampak langsung pada sektor-sektor lainnya.

“Kalau ini dibiarkan, maka akan berujung pada terhambatnya pemulihan ekonomi nasional yang tengah terpukul oleh pandemi Covid-19,” tukas Mahendra.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Logistik dan Pengelolaan Rantai Pasokan, Rico Rustombi berpendapat, momentum kenaikan tarif kali ini kurang tepat. Pasalnya, kondisi perekonomian masih negatif, walaupun sudah mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

“Nanti di saat yang tepat setelah ekonomi benar-benar pulih kembali, barulah hal ini dapat dikaji dan didiskusikan lagi oleh seluruh pihak pemangku kepentingan,” kata Rico.

Di samping itu Rico mengingatkan, bahwa kanaikan tarif di pelabuhan juga akan berdampak luas ke berbagai sektor usaha yang terkait. Hal ini dikarenakan posisi pelabuhan sebagai lini penghubung kegiatan produksi dan perniagaan.

“Kami sangat khawatir, kenaikan ini dampaknya akan dirasakan tidak hanya oleh sektor logistik, tapi juga pada sektor industri, kegiatan ekspor-impor hingga konsumen,” pungkas Rico.

Lihat juga...