Peliknya Pembelajaran di Masa Pandemi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Penerapan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas tak serta merta menyelesaikan peliknya permasalahan pendidikan di masa pandemi ini. Karena, setiap metode pembelajaran ternyata memiliki kendala masing-masing.

Koordinator Gerakan Guru Cerdas yang juga merupakan Direktur Executive Vox Point Indonesia, Indra Charismiadji, menjelaskan, pembelajaran tatap muka terbatas diberlakukan sebagai jembatan pada pembelajaran tatap muka yang sesungguhnya.

“Tapi ada yang dilupakan bahwa saat pembelajaran tatap muka terbatas diberlakukan, tidak otomatis akan berjalan seperti tatap muka sebelum pandemi. Karena terbatas, guru dituntut untuk mengajar dalam dua model. Tatap mukanya jalan, daringnya juga jalan,” kata Indra dalam online launching Gerakan Guru Cerdas yang diikuti Cendana News, Kamis (8/4/2021).

Hal ini berpotensi menimbulkan masalah, menurut Indra, karena dalam satu model pengajaran yaitu daring selama pandemi saja kemarin muncul kendala.

“Apalagi jika harus mengaplikasikan dua model pengajaran dalam saat bersamaan. Guru tidak disiapkan untuk mengajar daring secara baik. Dan tidak juga disiapkan saat harus mengajar di pembelajaran terbatas. Orang tua juga tidak dipersiapkan,” ucapnya.

Karena itu, lanjutnya, Gerakan Guru Cerdas ini disiapkan bagi para guru tanpa biaya apa pun, baik dari sekolah maupun anggaran negara atau pemda. Hanya berbasis pada kerjasama perusahaan yang peduli pendidikan Indonesia dan para relawan.

“Ini akan diberlakukan selama 100 hari atau bersertifikat 96 jam. Karena menurut penelitian, perubahan bisa terlihat jika dilakukan minimal 60 hari. Dan rencananya akan selesai pada 17 Agustus, sekaligus sebagai bentuk perayaan tujuh belasan dengan hadirnya guru yang siap untuk melakukan pembelajaran hybrid,” ujar pengamat pendidikan ini.

Indra menyebutkan bahwa gerakan ini menyasar para guru dari PAUD hingga SMA/SMK baik madrasah, sekolah negeri dan sekolah swasta dengan jumlah guru sekitar 100 ribu.

“Kegiatan ini akan dilakukan secara daring dan disesuaikan dengan jadwal mengajar guru. Targetnya adalah guru yang bisa mengajar secara hybrid dan portofolio peserta didik yang siap dengan sistem pembelajaran baru,” ucapnya.

Sistem pembelajaran baru ini maksudnya adalah pembelajaran berbasis proyek, memanfaatkan teknologi digital, mengintegrasikan mata pelajaran dan menitikberatkan pada pengembangan karakter atau soft skills.

“Contoh pembelajarannya, kalau di kelas X, menggabungkan Biologi, PPKN, Bahasa Indonesia dan Matematika dalam sebuah proyek yang dilalukan oleh kelompok. Proyeknya tidak hanya satu. Bisa berbentuk podcast, blog, komik digital, film pendek atau aplikasi dan animasi. Anak akan didorong aktif dan mandiri. Sementara guru akan menjadi corong menjawab masalah sesuai dengan tema yang diberikan. Misalnya adalah tema jika Indonesia terserang pandemi yang disebabkan bakteri,” paparnya.

Anak akan terdorong untuk belajar tentang bakteri, tentang pandemi dan juga kerjasama pemerintah dalam menanggulangi pandemi.

“Dengan sistem ini, maka akan dicapai level C6 yaitu mencipta. Di mana anak akan berkomunikasi, berkolaborasi, berpikir kritis dan kreatif. Atau yang disebut oleh mas menteri sebagai pembelajaran dengan paradigma baru,” tandasnya.

Menanggapi hadirnya program Gerakan Guru Cerdas, Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Heru Purnomo, yang juga merupakan Kepala Sekolah SMPN 52 Jakarta menyatakan sangat mengapresiasi.

“Tapi, hal ini tidak menyelesaikan masalah utama dari pelaksanaan PJJ lalu. Yaitu terkait ketersediaan fasilitas memadai dalam pelaksanaan daring dan pahamnya anak akan kompetensi dasar,” ucapnya saat dihubungi terpisah.

Heru mengakui bahwa pelaksanaan pembelajaran hybrid ataupun daring memang menurunkan potensi penyebaran COVID 19 dan mencegah sekolah menjadi klaster baru.

“Kondisi di lapangan adalah ketersediaan fasilitas yang tidak memenuhi kebutuhan daring tersebut. Faktanya, dari murid saya sendiri, saat saya tanyakan ujian akan menggunakan komputer dan atau laptop dan atau hape, didapatkan 48 persen menggunakan laptop dan 52 persen menggunakan hape. Hanya dua anak murid yang menjawab bisa menggunakan komputer, laptop dan hape secara bersamaan. Artinya, lebih dari setengah murid saya hanya memiliki hape dan mengandalkan kuota untuk belajar dan ujian,” paparnya.

Heru menyampaikan bahwa setiap metode pembelajaran memang memiliki kelebihan dan kekurangan. Tapi dirinya, cenderung pada pelaksanaan pembelajaran tatap muka, sesuai dengan arahan SKB 4 Menteri.

“Tentunya dengan protokol kesehatan ketat, baik administratif, fisik dan psikis, sesuai dengan SKB 4 Menteri. Dan perlu sosialisasi juga terkait SOP pada orang tua, sebagai pihak yang akan mendukung anaknya untuk menerapkan dan menaati protokol kesehatan,” katanya tegas.

Ia menyatakan, permasalahan yang timbul di sekolahnya adalah terkait kuota dan fasilitas yang harus berbagi.

“Belum ada angka pasti tapi dari setiap kelas disampaikan ada kendala keterlambatan penyerahan tugas sebagai akibat kurangnya fasilitas maupun kurangnya daya tangkap atau penyerapan kompetensi dasar yang harus diperoleh,” ungkapnya.

Dan, lanjutnya, ada kemungkinan pada sekolah yang tingkatnya lebih rendah dari SMPN 52 atau pada sekolah swasta dengan rating menengah rendah, angka kendala ini berpotensi lebih besar.

Heru menyampaikan dalam perencanaan pemberlakuan pembelajaran tatap muka di SMPN 52, sedang disusun pola pembelajaran dua hari secara berurut untuk setiap tingkat kelas.

“Setiap kelas akan belajar 4 mapel secara tatap muka dan 6 mapel akan dilakukan di rumah berbasis tugas di rumah dengan panduan keterangan singkat dari guru dan menggunakan bahan ajar buku. Empat mapel ini rencananya adalah bahasa Inggris, matematika, bahasa Indonesia dan IPA,” urainya.

Atau sebagai alternatif, enam mapel masuk dalam pembelajaran tatap muka, meliputi empat mapel yang sudah disebut ditambah dengan IPS dan PPKN atau agama.

“Mengapa kami menggunakan buku sebagai bahan belajar, bukannya mencari informasi di internet adalah untuk mengeliminasi ketergantungan pada gadget dan secara mental mengurangi beban atas tidak punya hape atau karena harus berbagi,” tuturnya.

Heru menegaskan semua alternatif memang masih akan diuji coba dan dicari yang paling sesuai dengan kebutuhan para peserta didiknya.

“Kita masih terus membicarakan yang paling terbaik untuk semuanya. Baik guru maupun peserta didik. Untuk diaplikasikan pada Juli 2021 ini,” pungkasnya.

Lihat juga...