Pemasaran Jadi Kendala Usaha Kecil Berbasis Ecobrick Kabarti

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Usaha kecil kerajinan tangan berbahan ecobrick atau sampah plastik dipadatkan yang ditekuni warga Kelurahan Panjang Utara, Kecamatan Panjang, Bandar Lampung menghasilkan berbagai produk. Di antaranya meja, kursi, casing vas bunga, kotak sampah, meja galon hingga produk lainnya.

Turina, ketua bengkel ecobrick Kabarti atau Kampung Baru Tiga menyebutkan sejumlah produk telah dijual ke konsumen di pulau Jawa dan wilayah Lampung. Harga yang ditawarkan untuk produk tong sampah Rp177.000, kursi Rp150.000, meja Rp200.000 hingga Rp300.000. 

“Dalam pemasaran kami memanfatkan media sosial Instagram, forum jual beli Facebook saat ada pesanan langsung kami kerjakan di bengkel ecobrick karena telah kami stok sejumlah bahan bakunya dari proses pemilahan sampah menjadi ecobrick,” terang Turina saat ditemui Cendana News, Selasa (6/4/2021).

Disebutkan, ada beberapa kendala yang dihadapi bengkel ecobrick Kabarti, yakni pemasaran produk, dan rendahnya daya saing imbas produsen ecobrick lain juga muncul di Lampung.

Turina menambahkan selama pandemi Covid-19 aktivitas di bengkel juga terhambat. Sebagai gantinya anggota kelompok akan tetap memproduksi ecobrick dari sampah plastik di rumah masing masing.

Turina, ketua bengkel ecobrick Kabarti Kelurahan Panjang Utara, Kecamatan Panjang, Bandar Lampung memperlihatkan hasil pembuatan perabotan ecobrick, Selasa (6/4/2021). Foto: Henk Widi

Nurpal, salah satu anggota bengkel ecobrick Kabarti menyebut produk kursi paling banyak diminati. Perabotan meja dan kursi yang artistik itu kerap dipesan oleh sejumlah cafe. Sebagai kursi yang memiliki estetika bisa digunakan sebagai pemanis ruangan.

“Pemesanan berdasarkan keinginan pelanggan kerap melihat modelnya dari internet terkait warna kain penutup kursi sofa,” cetusnya.

Turpal menyebut masih terus mengembangkan model dan varian produk. Sebagai cara untuk mempercepat setiap pesanan yang masuk bahan baku terus disiapkan. Pemasaran terus dilakukan oleh anggota yang sebagian dari generasi milenial dengan media sosial.

M. Supriyadi, lurah Kelurahan Panjang Utara menyebut produk bengkel ecobrick jadi salah satu usaha kecil. Di wilayah dengan 3353 kepala keluarga dan 11.778 jiwa itu ia menyebut mendukung sektor usaha kecil.

“Meski terkendala pemasaran namun sebagian warga juga tetap memiliki sektor usaha kecil lain dalam pembuatan kue basah dan kering,” cetusnya.

Dukungan kepada bengkel ecobrick yang memproduksi perabotan fungsional terus dilakukan. Memperkenalkan produk dan memasarkannya ke sejumlah lembaga terus dilakukan. Kegiatan membuat ecobrick bisa jadi pengisi waktu luang. Sebab sebagian warga juga memiliki usaha home industri pembuatan keripik dan menjual kue basah dengan gerobak.

Lihat juga...