Penerapan Pembelajaran ‘Hybrid Learning’ Butuh Kesiapan Guru

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Penerapan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas yang menerapkan sistem pembelajaran secara hybrid, membutuhkan kesiapan para guru. Tidak hanya kesiapan secara mental tapi juga pelatihan dalam mempersiapkan bahan ajar dan menyampaikannya kepada para murid dalam mencapai target pendidikan berkualitas untuk semua.

Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nahdiana menyatakan masa pembelajaran tatap muka bukan masalah buka atau tutup sekolah.

“Tapi peranan apa yang bisa hadir untuk mengisi masa pembelajaran gabungan ini yang membutuhkan kesiapan, baik mental dan materi dari para guru untuk tetap mencapai transfer pengetahuan dan mengembangkan keterampilan dan karakter peserta didik,” kata Nahdiana dalam online launching Gerakan Guru Cerdas, Kamis (8/4/2021).

Kadisdik DKI Jakarta Nahdiana saat menjelaskan peranan guru yang dibutuhkan dalam masa Pembelajaran Tatap Muka Terbatas, dalam online launching Gerakan Guru Cerdas, Kamis (8/4/2021). -Foto Ranny Supusepa

Ia menyatakan DKI Jakarta sudah mulai merencanakan persiapan pembelajaran tatap muka ini sejak Oktober 2021.

“Karena yang dipersiapkan bukan hanya infrastruktur. Tapi juga kesiapan guru dalam melakukan pembelajaran hybrid. Karena hak penuh diserahkan pada orangtua dalam memutuskan apakah anak belajar di sekolah atau tetap di rumah,” ujarnya.

Saat diputuskan anak untuk tetap di rumah maka layanannya adalah pembelajaran daring. Jika boleh sekolah, maka pembelajaran dilakukan luring.

“Ini tidak mudah bagi para pengajar. Dibutuhkan sistem kekinian dan juga ketepatan pemilihan metode yang mampu membantu guru mempersiapkan bahan ajar dan menyampaikannya pada peserta didik sesuai kondisi yang ada saat ini,” ujarnya lagi.

Nahdiana menyebutkan tercatat ada 82 ribu guru di DKI Jakarta dan 8 ribu entitas sekolah yang diharapkan bisa terbantu dengan Gerakan Guru Cerdas ini dan mampu mengembangkan proses belajar mengajar.

“Sehingga bisa mencapai mutu pendidikan dan menghasilkan peserta didik yang berkompetensi sesuai kebutuhan yang ada. Juga mampu menghasilkan rekayasa sosial jangka panjang jika bertransformasi. Suatu proses perbaikan mengarah ke kondisi pendidikan yang mengakses semua pihak,” tandasnya.

Kabid Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag DKI Jakarta Drs. Nur Pawaidudin menyatakan rasa terima kasihnya karena dilibatkan dalam Gerakan Guru Cerdas ini.

Kabid Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag DKI Jakarta Drs. Nur Pawaidudin, dalam online launching Gerakan Guru Cerdas, Kamis (8/4/2021). -Foto Ranny Supusepa

“Karena kami dari madrasah juga merupakan bagian dari proses pengajaran masyarakat. Faktanya, tidak semua pemda dan tidak semua lembaga mengikutsertakan madrasah dalam kegiatan pendidikannya. Sehingga kami sangat menghargai kolaborasi dari Disdik DKI Jakarta yang selama ini selalu melibatkan kami dan bekerjasama secara apik, bukan hanya di Gerakan Guru Cerdas ini,” ucap Nur dalam kesempatan yang sama.

Nur menyebutkan program Gerakan Guru Cerdas yang diinisiasi oleh lembaga independen dan relawan ini sebagai langkah sangat strategis dalam meningkatkan proses pembelajaran pada 12 persen dari seluruh peserta didik di Jakarta.

“Ada 6 madrasah di Jakarta yang saat ini masuk dalam program piloting pembelajaran tatap muka terbatas bersama Dinas Pendidikan. Dan diharapkan pada bulan Juli 2021 sudah bisa memasuki pembelajaran tatap muka,” ungkapnya.

Ia menyatakan pihak madrasah sangat menyambut baik program ini dan akan mendorong setiap pengajar madrasah untuk mengikuti pelatihan.

“Kami akan menekankan pada tiap pengajar untuk mengikuti dengan baik. Bukan hanya karena ditugaskan dari madrasah masing-masing untuk mengikuti. Tapi benar-benar melakukan perubahan pola pengajaran untuk mencapai pendidikan berkualitas dan bertransformasi menuju pembentukan generasi yang berkompetensi sesuai era saat ini,” pungkasnya.

Lihat juga...