Lebaran CDN

Perawatan Tepat untuk Hasilkan Kokon Sutera yang Bagus

Editor: Makmun Hidayat

BOGOR — Budidaya ulat sutera atau Bombyx mori memang menjanjikan hasil yang memuaskan, jika kokon yang dihasilkan memiliki kualitas yang bagus. SUntuk mendapatkan kokon yang bagus, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh peternak ulat sutera.

Dosen Departemen Biologi, FMIPA Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr. Dedy Duryadi Solihin menyatakan untuk memastikan kokon ulat sutera yang dihasilkan sesuai dengan keinginan, para peternak harus mempersiapkan mulai dari masa telur.

“Kalau mau bagus kualitas kokon-nya, peternak sudah harus mulai memperhatikan dari masa telur, hingga nanti saat ulat sutera mulai proses mengokon. Tidak susah untuk dilakukan, hanya membutuhkan ketelatenan disiplin. Baik masalah kebersihan maupun pemberian pakannya, hingga lokasi dan bentuk bangunan yang terjamin cahaya, sirkulasi udara dan ketenangannya,” kata Dedi saat ditemui di Kebun Percobaan Sukamantri, Bogor, Senin (12/4/2021).

Dosen Departemen Biologi, FMIPA IPB, Dr. Dedy Duryadi Solihin menjelaskan tahapan perawatan ulat sutera di Kebun Percobaan Sukamantri, Bogor, Senin (12/4/2021). -Foto Ranny Supusepa

Ia menyebutkan pada instar pertama atau penetasan telur, peternak harus menyediakan tempat yang gelap sebagai medium telur.

“Ini berlaku hingga instar ketiga. Selama instar pertama hingga ketiga ini, daun murbei yang diberikan harus daun muda, yaitu daun urutan kesatu hingga ketiga dan harus dirajang halus. Saat memasuki instar ketiga, daun murbei tetap dirajang tapi bisa kasar,” ucapnya.

Saat antara instar ketiga ke keempat, bibit ulat sutera mulai dipindahkan ke kotak budidaya.

“Untuk pakannya, bisa diberikan daun murbei urutan 1-5 yang dirajang kasar. Baru pada akhir instar keempat, daun murbei bisa diberikan secara utuh,” ucapnya lagi.

Memasuki instar kelima, Dedi menyebutkan sudah harus dilakukan penjarangan jumlah ulat sutra dalam kotak budidaya.

“Maksudnya agar populasi ulat dalam satu kotak tidak padat dan akhirnya menyebabkan ulat harus bersaing untuk mendapatkan makanan. Atau menghindari kurangnya asupan daun murbei per ulat,” paparnya.

Pemberian pakan dilakukan tiga kali sehari, yaitu pukul 7 pagi, pukul 13 siang dan pukul 5 sore. Pemberian pakan pukul 5 sore, jumlahnya harus dua kali lipat dibandingkan waktu lainnya.

Ulat sutera yang sedang mengokon yang membutuhkan keheningan, seperti yang dijelaskan oleh Dedi di Kebun Percobaan Sukamantri, Bogor, Senin (12/4/2021). -Foto Ranny Supusepa

“Untuk menjaga ekosistem yang bersih, pembersihan sisa daun di bagian bawah kotak budidaya harus dilakukan tiga kali sehari,” tuturnya.

Setelah instar kelima, maka ulat sutera yang sudah siap untuk mengkokon akan mulai terlihat.

“Ini terlihat dengan adanya serat di sekitar mulut ulat sutra dan penurunan nafsu makan. Artinya sudah saatnya ulat dipindahkan ke tempat mengokon, yang membutuhkan tempat hening. Kalau berisik, ulat sutra akan berhenti mengokon dan serat yang dihasilkan tidak berkualitas atau menurun kualitasnya,” kata Dedi.

Dari tahapan pemeliharaan ini, Dedi menekankan ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh peternak.

“Yaitu masalah bibit, sarana prasarana budidaya dan ketersediaan daun murbei. Sehingga kami dari IPB berusaha membantu setiap tahapan ini. Baik melalui penelitian terkait bibit dan pakan juga dalam memberikan pelatihan pada peternak. Tujuannya hanya satu, membantu petani melewati kendala selama budidaya dan bisa menjadikan budidaya ulat sutera ini sebagai penghasilan yang memberi kesejahteraan,” pungkasnya.

Lihat juga...