Perayaan Paskah Momentum Tingkatkan Kepedulian pada Sesama

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Perayaan Paskah kebangkitan Yesus Kristus jadi momentum refleksi bagi umat Kristiani.

Demikian diungkapkan RD Apolonius Basuki dalam homili Hari Raya Paskah di gereja Ratu Damai, Teluk Betung, Bandar Lampung. Diikuti umat secara langsung dan virtual imbas pandemi Covid-19, pastor paroki itu mengajak umat lebih solider kepada sesama.

RD. Apolonius Basuki, pastor paroki gereja Ratu Damai Teluk Betung, Bandar Lampung memberikan homili atau khotbah hari raya Paskah, Minggu (4/4/2021) – Foto: Henk Widi

Menjalani masa pandemi Covid-19 sebut Romo Apolonius seperti menjalani jalan salib dengan segala kesulitan yang dihadapi.

Umat Kristiani harus tahu cara menjalaninya, sabar, bijak dalam bersikap sehingga iman dimurnikan. Masa pandemi menjadi perjalanan dari zona ketakutan lalu masuk dalam zona belajar, bertumbuh dalam zona berbuah.

Sejak masa awal pandemi umat Kristiani diajak untuk untuk melatih kesabaran dengan adanya belanja berlebih (panic buying), banyak yang mengeluh.

Keluhan berasal dari orangtua yang memiliki anak usia sekolah imbas belajar online. Banyak orang mudah marah, gampang tersinggung, reaktif dan budaya ketidakpedulian yang sama bahayanya dengan pandemi.

“Semua umat manusia merasakan hal yang sama terutama saat zaman modern dengan kecanggihan teknologi yang ada, ketidakpedulian pada sesama menurun menjadi tantangan bagi umat Kristiani untuk lebih meningkatkan kepedulian pada sesama dengan berbagai cara,” terang RD Apolonius Basuki, Minggu (4/4/2021).

Ketidakpedulian terlihat pada tangan yang usil dengan langsung share berita yang tidak jelas asal usulnya atau berita bohong.

Romo Apolonius mengajak umat untuk menerima kenyataan dengan berhenti share berita bohong yang membuat ketakutan, kecemasan. Namun akan lebih baik menyadari situasi diri dan berpikir sebelum bertindak. Sebab dampaknya akan lebih buruk dari pandemi Covid-19.

“Stop info yang tidak jelas kebenarannya, menyadari bahwa semua orang melakukan yang terbaik jangan sampai kehilangan akal sehat,” bebernya.

Penderitaan dalam hidup sebut romo Apolonius Basuki berasal dari kejahatan manusia. Imbas pandemi banyak orang tidak sehat hidupnya dengan membenci orang lain.

Saat hari raya Paskah umat Katolik bisa belajar dari Maria Maghdalena dan Petrus, Yohanes. Mereka yakin dan percaya bahwa Yesus bangkit dan hidup dari kematian. Keyakinan itu dilakukan dengan menunggu Yesus di Galilea sesudah bangkit.

Galilea sebut Apolonius jadi simbol kehidupan sehari-hari dengan kesadaran bahwa Yesus hadir secara rohani.

Umat Kristiani diajak untuk tetap solider, ekaristis, kreatif, optimis bersama Yesus yang bangkit. Paskah juga menjadi momentum untuk lebih memikirkan orang lain dan memberi bantuan untuk meringankan beban. Bakat dan kemampuan bisa digunakan untuk membantu orang lain.

“Hiduplah pada masa kini dan fokus pada masa depan dengan optimis, tidak menyesali masa lalu dan tidak khawatir pada masa depan,” bebernya.

Romo Apolonius juga mengajak untuk hidup penuh kasih sayang pada diri sendiri dan orang lain. Berterima kasih dan mengapresiasi orang yang berbuat baik kepada kita.

Mengontrol emosi dengan tidak mudah reaktif, tidak mudah tersinggung dan menebarkan optimisme, pengharapan. Hidup di keluarga, tempat kerja, gereja, adaptasi dengan perubahan dengan mempraktikkan doa pribadi dan bersama.

Pada perayaan Paskah di gereja Ratu Damai Teluk Betung liturgi dilakukan dalam kesederhanaan. Tanpa adanya perarakan meriah, saat Paskah gereja Katolik juga melalukan pembaharuan janji baptis.

Seluruh umat yang hadir memperbarui janji baptis tanpa adanya percikan air baptis. Normalnya sebelum pandemi umat diperciki dengan air baptis. Jumlah umat yang hadir di gereja dibatasi dengan sistem terjadwal dan absensi.

Perayaan Paskah saat pandemi juga digelar virtual di kapel Keuskupan Tanjungkarang. RP Alexander P, SCJ dalam homilinya mengajak umat untuk melihat sejarah Paskah.

Berangkat dari kitab Perjanjian Lama Paskah dimaknai “Tuhan Lewat” saat ada tulah atau pandemi di Mesir. Keselamatan diperoleh bagi umat yang percaya pada Allah dan bebas dari penindasan Mesir.

“Paskah menjadi perayaan bebasnya umat dari perbudakan Mesir, dari keadaan tidak selamat menjadi selamat sesuai tradisi Yahudi,” ulasnya.

Tradisi Paskah dalam gereja Katolik dimaknai sebagai Paskah yang baru. Paskah menjadi lambang Allah yang memiliki belas kasih, bukan penghukum.

Momentum itu menjadi momentum meninggalkan kehidupan lama ke kehidupan baru. Kehidupan baru juga diwujudkan dalam kepedulian kepada sesama dalam masa pandemi Covid-19.

Menyeberang dari laut menuju keselamatan juga dimaknai sebagai momen meninggalkan egoisme. Egoisme berganti menjadi kepedulian pada sesama yang membutuhkan.

RP Alexander juga mengajak untuk menjaga keselamatan diri dan orang lain. Wujudnya dengan kepedulian, memutus mata rantai Corona melalui menjaga kesehatan.

Disiplin diri jaga kesehatan menjadi semangat Paskah agar tetap optimis dan kreatif.

Lihat juga...