Perkaya Khazanah Lokal, Pemkot Bekasi Diminta Hidupkan Lagi Mulok

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BEKASI – Kegelisahan para budayawan dan pelaku seni di Kota Bekasi, Jawa Barat, akibat tergerusnya khazanah lokal menjadi kekhawatiran tersendiri. Oleh karenanya, mereka menggagas agar Pemkot kembali menghidupkan pembelajaran muatan lokal (mulok) di tingkat sekolah dasar dan menengah.

Mulok untuk memperkaya khazanah lokal dan keberadaannya sebagai pendamping dari muatan bahasa Sunda yang selama ini diterapkan di sekolah. Mulok juga lebih memperkaya khazanah muatan lokal di Jabar.

Karena di Jawa Barat sendiri ada tiga bahasa resmi yang telah diakui meliputi bahasa Parahyangan (Sunda), Cirebon-Indramayu, dan bahasa Melayu Betawi yang meliputi wilayah Bekasi serta Depok.

“Mulok harus kembali dihidupkan dan digagas kembali oleh Pemkot Bekasi. Karena banyak tradisi budaya di Bekasi kian jauh tergusur. Jika tidak sejarah, budaya dan kesenian khas Kota Bekasi yang  makin lama kian hilang ditelan zaman,” ungkap Aki Maja, Budayawan Bekasi, kepada Cendana News, Minggu (4/4/2021).

Budayawan Bekasi, Aki Maja, saat dijumpai Cendana News di Bekasi, Minggu (4/4/2021). Foto: Muhammad Amin

Dikatakan Mulok bisa diajarkan oleh guru dari daerah mana pun, karena referensi dan sumbernya cukup banyak, dalam kaidah tulisan yang disusun oleh pelaku budayawan atau pun seniman. Hal tersebut menjadi salah satu cara pembelajaran disamping muatan lokal bahasa Sunda yang diajarkan di sekolah misalnya di wilayah Bekasi.

Menurutnya, saat ini, seni tradisi dan budaya Bekasi kian terpinggirkan, tanpa ada perhatian serius dari pemerintah daerah. Ia mencontohkan, seperti rumah tradisional adat Bekasi makin hilang. Begitu pun seni tradisi yang meliputi wayang kulit Bekasi, topeng Bekasi, tanjidor Bekasi, ikut tergusur tanpa ada pelestarian.

“Ini tidak lain, karena masyarakat pun ketika ada hajatan, beberapa seni tradisi sudah tidak lagi dipanggil main. Kalau pun main tidak ada ruang cukup luas di kampung,” paparnya.

Sementara lanjut Aki Maja, Pemkot Bekasi sendiri dalam rangka menyelenggarakan pesta lebih senang memanggil budaya dari luar meskipun dengan anggaran yang mahal. Ironisnya, yang nonton tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan, hanya ada segelintir orang.

“Kami pengen banget menggagas dengan seniman budayawan, satu hari ditetapkan Pemda. Ada satu hari khusus berkesenian. Karena selama ini, provinsi juga kerap bertanya tentang budaya Bekasi yang bisa diangkat,” jelasnya.

Ia berharap Pemkot dan DPRD Kota Bekasi, bisa menjawab kegelisahan para budayawan dan pelaku seni di Bekasi sehingga bisa dimunculkan lagi tradisi mulok agar bisa diterapkan di Bekasi, diajarkan ke semua siswa SD dan SMP.

“Mulok itu tidak menggusur bahasa Sunda, tapi Mulok lebih memperkaya khazanah muatan lokal di Jabar dengan regulasi khusus sebelum jauh tertinggal. Menghidupkan lagi budaya Bekasi yang kian luntur karena tanpa kepedulian,” tukasnya.

Muatan lokal atau Mulok bisa dimulai dari pelajaran sejarah tradisi dan budaya di Bekasi, baik masa lampau maupun masa sekarang. Budayawan dan seniman siap memberi support tentunya, asal regulasinya jelas, tidak mencampur dengan beberapa pelajaran.

Ketua DPRD Kota Bekasi, Chairoman J Putro, terpisah, mendukung ide tersebut. Ia mengaku meminta Komisi IV segera merumuskan muatan lokal untuk diterapkan di sekolah sehingga bisa menjaga dan mengenalkan kepada generasi penerus tentang muatan kearifan lokal.

“Ini ide adalah masukan membangun dalam menjaga seni tradisi Bekasi sebagai ciri khas lokal. Tentunya ini akan menjadi ‘PR’ bersama menyambut tahun ajaran baru mendatang,” tegasnya.

Lihat juga...