Lebaran CDN

Permohonan Mengikuti Kompetisi Lari Dunia Dengan Kaki Palsu Ditolak

Atlet disabilitas asal Amerika Serikat, Blake Leeper (kanan), saat berlari dengan menggunakan kaki palsunya di semifinal USATF Championships di Drake Stadium, pada 26 Juli 2019 - foto Dok Ant

JAKARTA – Organisasi Atletik Dunia menolak permohonan atlet penyandang disabilitas Amerika, Blake Leeper, untuk berlari dengan menggunakan alat bantu prostesis tertentu (RSP). Kebijakan tersebut mengancam atlet tersebut menjadi tidak bisa ikut Olimpiade dan berbagai event atletik internasional lainnya.

Organisasi itu mengatakan, mekanis pasif bilah serat karbon elastis yang digunakan Leeper, memberinya kelebihan panjang kaki 104 sentimeter. Bahkan untuk tinggi badannya, ketika dia berdiri, menjadi 184 sentimeter. Dengan demikian, Leeper mendapatkan keunggulan kompetitif dibandingkan atlet lain, yang tidak menggunakan alat bantu semacam itu.

Atletik Dunia memiliki aturan tentang tinggi badan maksimum yang diijinkan (MASH), yang mencegah atlet penyandang disabilitas dari kompensasi berlebihan karena ketiadaan anggota tubuhnya dan regulasi tersebut diterapkan dalam kasus Leeper. ”Keputusan itu berarti membuat Leeper, tidak dapat bersaing memakai RSP di berbagai event atletik internasional atau Olimpiade,” kata Organisasi Atletik Dunia dalam sebuah pernyataannya, Senin (26/4/2021).

Leeper hanya diizinkan menggunakan kaki palsunya itu di kompetisi internasional lainnya, tetapi hasil lomba tidak akan diakui dan akan dicantumkan secara terpisah. Pada Oktober lalu, Leeper, kalah dalam banding di Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS), karena pelarangan menggunakan kaki palsunya, yang memungkinkannya bersaing dengan atlet berbadan sehat, sekaligus mengakhiri peluangnya ikut serta di Olimpiade Tokyo.

Leeper (31), yang terlahir tanpa kaki di bawah lutut, finis kelima di nomor lari 400 meter dalam kejuaraan Amerika Serikat pada 2019 lalu. Tetapi dia dilarang berkompetisi di kejuaraan dunia berikutnya di Doha. (Ant)

Lihat juga...