Lebaran CDN

Petani di Lampung Bakar Jerami karena Efektif dan Efisien

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah petani di wilayah Kabupaten Pringsewu, Lampung, masih melakukan pembersihan jerami sisa panen padi dengan cara dibakar. Selain dinilai lebih efisien, abu sisa pembakaran jerami juga bisa digunakan sebagai pupuk.

Nurdin, petani di Desa Wates, Kecamatan Gadingrejo, menyebut pembersihan jerami dengan cara dibakar dilakukan karena lebih cepat dan efesien. Ia juga meyakini, abu pembakaran jerami bisa dipergunakan sebagai pupuk. Usai dibakar, abu jerami akan ditaburkan di area persawahan dengan campuran dolomit.

“Dolomit merupakan bubuk kapur yang berguna untuk menurunkan pH tanah,” kata Nurdin, saat ditemui Cendana News, Senin (12/4/2021).

Lebih jauh Nurdin mengatakan, pembakaran jerami dilakukan juga karena disebabkan efek dari penggunaan alat Dos dalam proses panen. Alat Dos membuat sisa jerami sangat halus dan kurang diminati sebagai pakan ternak.

Penggunaan mesin pemanen padi dos di lahan pertanian Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Prungsewu, mempercepat proses pembersihan lahan, Senin (12/4/2021). -Foto: Henk Widi

Nurdin mengakui, pembakaran jerami memang  berdampak pada polusi udara. Namun, ia berkilah bahwa pembakaran jerami dilakukan dengan memperhitungkan arah angin. Ada pun cara lain selain membakar, adalah dengan menumpuk jerami. Namun, cara itu memakan waktu lebih lama.

“Petani memiliki target untuk pengolahan lahan masa tanam ke tiga, sehingga pembersihan jerami dipercepat agar bisa dilakukan proses perendaman lahan dengan air, selanjutnya ditraktor,” terang Nurdin.

Nurdin menyebut, masa pengolahan lahan akan dilakukan pada pertengahan April, dan masa tanam dilakukan pertengahan Mei. Keberadaan saluran irigasi permanen yang lancar mempermudah pengolahan lahan. Lancarnya pasokan air memungkinkan petani di wilayah Gadingrejo bisa mempercepat pengolahan lahan. Saat masa tanam ke tiga, ia memastikan tetap bisa menanam padi.

Petani lain bernama Sunarto, menyebut proses pembersihan lahan dengan sistem bakar lebih efesien. Saat proses perontokan padi memakai mesin Dos jerami yang dihasilkan lebih cepat kering. Hanya dalam jangka waktu dua hari setelah panen, jerami kering bisa langsung dibakar. Sebaliknya, saat jerami dipanen manual proses pembakaran butuh waktu lama.

“Alasan petani melakukan pemusnahan jerami dengan sistem bakar karena lebih cepat kering usai perontokan dengan alat dos,” cetusnya.

Nurdin menyebut, sistem bakar pada limbah panen sekaligus menghemat biaya operasional. Sebab, pada lahan yang luas pembersihan lahan sebelumnya kerap dilakukan dengan sistem upahan. Dalam sehari, ia bisa mengeluarkan uang Rp100.000 untuk upah perun atau pembersihan lahan. Sebagai gantinya, ia memilih membakar jerami agar mempercepat pembersihan lahan dan menghemat pengeluaran.

Sujanto, petani di Pekon Bulukarto, juga menyebut pembersihan jerami dengan pembakaran lebih efesien. Pembakaran jerami juga bisa menjadi cara untuk memutus mata rantai hama. Sebab, proses pembakaran dilakukan dengan sistem dihamparkan. Percepatan pembersihan lahan dilakukan petani sebelum bulan Ramadan.

“Petani akan mengurangi aktivitas di sawah saat Ramadan, sehingga pembersihan lahan dipercepat,” terang Sujanto.

Sujanto bilang, usai panen padi varietas Ciherang, ia memilih menyimpan gabah kering panen (GKP). Hasil panen sebanyak 5 ton per hektare dijual sebanyak 3 ton. Harga GKP pada level petani masih berkisar Rp3.500 hingga Rp3.800 per kilogram. Sebagian hasil panen disimpan dalam bentuk gabah kering giling (GKG) setelah dikeringkan. GKG yang disimpan menjadi stok untuk Ramadan dan Idulfitri.

Lihat juga...