Lebaran CDN

Petani Harus Bisa Mengukur Produktivitas Hasil Panen

Editor: Makmun Hidayat

PURBALINGGA — Selain bercocok tanam, para petani juga harus mempunyai kemampuan untuk mengukur produktivitas atau hasil panen sendiri. Hal tersebut penting untuk mengetahui mereka mengalami kerugian atau tidak, serta untuk mengetahui tingkat kesuburan tanah dan efektivitas pola tanam yang sudah dilakukan.

Petugas penyuluh pertanian Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, Priyanti mengatakan, selama ini petani hanya menghitung hasil panen secara global atau keseluruhan saja. Padahal melakukan ubinan atau proses perkiraan produktivitas dalam skala lebih kecil juga penting dilakukan.

“Ubinan ini dilakukan pada luasan lahan per 2,5 meter x 2,5 meter, untuk mengetahui hasil panen dari skala kecil lahan. Manfaatnya, petani bisa melakukan evaluasi proses tanam untuk menghasilkan hasil yang lebih baik ke depannya,” jelas Priyanti, Senin (12/4/2021).

Penyuluh pertanian di Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, Priyanti, Senin (12/4/2021). -Foto: Hermiana E. Effendi

Lebih lanjut Priyanti mengatakan, petani harus mengetahui secara pasti hasil panennya dan bisa mengukurnya sendiri. Sehingga dalam proses penjualan, mereka bisa mengawal hasil panen.

“Terkadang ada yang hasil panennya ditimbang langsung oleh pengepul yang datang, dan posisinya petani tidak bisa memperkirakan berapa banyak hasil panen mereka, sehingga sangat rentan jika ada manipulasi penimbangan hasil panen,” terangnya.

Terkait ubinan, Priyanti menjelaskan, untuk luasan yang diukur sebaiknya berbentuk bujur sangkar. Jika dalam 1 hektare dibentuk ubin seluas 6,25 M2 maka akan terdapat 16.000 ubin. Dan untuk menentukan sampel ubinan secara random, biasanya dilaksanakan ulangan sebanyak tiga kali agar margin error-nya kecil.

“Rataan dari tiga ulangan pengukuran panen tersebut kemudian dikalikan 16, karena terdapat 16.000 ubin,” katanya.

Dalam ubinan di Desa Tlahab Kidul, Kecamatan Karangreja pada lahan jagung milik petani, setelah dilakukan pengukuran dengan langkah kaki, terdapat 25 rumpun petak ubinan. Kemudian dilakukan panen dan untuk satu petak dihasilkan 6,580 kilogram. Mengingat angka ubinan, maka dikalikan 16 dan hasilnya dalam 1 hektar panen jagung bisa menghasilkan 10,5 ton.

“Jika petani sudah bisa memperkirakan produktivitas panennya, maka hasil panen bisa dikawal dengan baik dan petani mendapatkan hasil sesuai dengan jerih payahnya,” pesannya.

Sementara itu, salah satu petani di desa tersebut, Turyanto membenarkan, jika selama ini ia mempercayakan penimbangan hasil panen kepada tengkulak yang datang. Sebab, jika harus menimbang sendiri, terkadang tidak sempat, karena masih harus memanen lahan lainnya dan tidak semua petani memiliki alat timbang yang berukuran besar.

“Kalau kita bisa memperkirakan produktivitas panen, maka akan lebih mudah,” katanya.

Lihat juga...