Petani Kopi Leworook Flotim Mulai Lakukan Peremajaan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LARANTUKA — Rata-rata tanaman kopi jenis robusta maupun arabika milik petani di Kampung Leworook, Desa Leraboleng, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) telah berumur 30 tahun lebih dan ditanam sekitar tahun 1974.

Petani milenial di Kampung Leworook,Desa Leraboleng, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, NTT, Yosef Lawe Oyan yang mengajak petani budidaya kopi saat ditemui di rumahnya, Senin (5/4/2021). Foto : Ebed de Rosary

“Pertengahan tahun 2019 kami mulai membuka lahan baru seluas 20 hektare dan mulai melakukan peremajaan,” sebut Yosef Lawe Oyan, petani kopi di Kampung Leworook, Desa Leraboleng, Kecamatan Titehena, Kabupaten Flores Timur, NTT saat ditemui di rumahnya, Senin (5/4/2021).

Yolan sapaannya mengatakan, lahan tidur tersebut dibuka bersama 12 anggota kelompok tani Lewroook Kopi Lestari yang dibentuknya dengan beranggotakan 12 orang petani.

Kebun tersebut kata dia, hanya dikhususkan untuk budidaya kopi dengan jarak tanam teratur 4 meter setiap pohonnnya.

Untuk sementara di lahan tersebut ditanami jagung dan padi di sela-sela tanaman kopi sampai tanaman berbuah.

“Kami bekerjasama secara kelompok membuka lahan baru yang dikhususkan hanya untuk tanaman kopi. Tapi sementara belum berbuah sehingga saat musim hujan kami tanam padi dan jagung dahulu,” ucapnya.

Yolan menyebutkan, bibit diambil dari anakan yang terdapat di bawah pohon kopi di kebun petani. Diambil yang sudah bercabang dengan tinggi sekitar 30 sentimeter lalu dipindahkan ke lokasi baru.

Ia mengaku lebih banyak melakukan budidaya kopi robusta di kebun dengan ketinggian 800 sampai 900 meter di atas permukaan laut.

“Lebih banyak tanam kopi robusta. Kalau arabika pohonnya rentan terkena penyakit dan kalau angin kencang akan cepat tumbang dan dompolannya pun lebih cepat luruh,” sebutnya.

Yolan mengaku,kebun kopinya merupakan peninggalan orang tua tetapi dirinya juga menanam pohon baru karena prospek ke depannya bagus.

Disebutkan, budidayanya harus bagus hingga pasca panen agar harga jual kopi pun bisa terus mengalami peningkatan.

“Bulan Juli sampai November kami panen kopi jenis robusta sementara bulan April sudah mulai panen jenis Arabika,” terangnya.

Dominikus Kebirung Oyan, petani kopi Leworook menyebutkan, para petani di Desa Leraboleng banyak yang sudah mulai melakukan budidaya dan merawatnya.

Dominikus katakan, kebun kopi miliknya dahulunya tanpa perawatan dan seperti hutan namun setelah terbentuk kelompok petani dirinya mulai melakukan perawatan.

“Para petani mulai melakukan perawatan sebab harga jual terus meningkat dan kami merasakan keuntungan dengan menjual kopi, “ ujarnya.

Lihat juga...