PGRI Flotim: Banyak Sekali Permasalahan yang Dialami Guru

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LARANTUKA — Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Cabang Kabupaten Flores Timur yang baru beberapa bulan terbentuk mulai menginventarisir atau mendata berbagai permasalahan yang dialami para guru.

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Cabang Kabupaten Flores Timur (Flotim), NTT, Maksimus Masan Kian saat ditemui di Kota Larantuka, Rabu (31/3/2021). Foto : Ebed de Rosary

“Kami baru sebulan lakukan pendataan permasalahan yang dialami para guru secara online menggunakan sistem,” kata Maksimus Masan Kian, Ketua PGRI Cabang Kabupaten Flores Timur (Flotim), NTT saat dihubungi Cendana News, Kamis (1/4/2021).

Maksi sapaannya mengatakan, para guru mengisi sendiri permasalahan yang dialaminya sehingga bisa diketahui secara pasti apa saja masalah yang dialami para guru.

Dia sebutkan, setelah dilakukan pendataan selama sebulan selama Maret 2021, ternyata banyak sekali permasalahan yang dialami oleh para guru terutama guru-guru di desa dan kecamatan.

“Banyak sekali permasalahan yang dialami seperti terlambat dalam kenaikan pangkat dan golongan. Ada juga guru yang kesulitan mengurus Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK),” jelasnya.

Maksi menambahkan, permasalahan lainnya seperti pengangkatan guru untuk mengisi sebuah jabatan tetapi dari segi umur guru-guru tersebut belum memenuhi persyaratan.

Selain itu kata dia, ada guru yang sudah pensiun tetapi tidak mengetahuinya dan masih mengajar selama 10 bulan.

Ia melanjutkan, PGRI Flotim pun sudah menyelesaikannya bersama dengan dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (PKO) serta DPRD Sikka.

“Banyak sekali permasalahan yang ditemukan dan kita berharap agar Dinas PKO Flotim bisa bekerja cepat mengatasi permasalahan ini. Kita akan menyelesaikannya sesuai prioritas setelah dikumpulkan datanya,” ungkapnya.

Sementara itu, Linus Lusi, M.Pd, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT saat menyambangi PGRI Flotim menyebutkan, pendidikan akan maju apabila harkat dan martabat guru dimuliakan.

Linus mengakui, anggaran 20 persen yang dialokasikan untuk anggaran pendidikan merupakan langkah yang cerdas sebab mendesak dan penting sebab setiap orang memiliki hak memperoleh pendidikan.

“Harkat dan martabat guru sangat penting. Maknya jangan berharap lebih apabila harkat dan martabat guru belum dimuliakan,” ucapnya.

Linus memaparkan pihaknya bertugas mengangkat kepala sekolah jenjang SMA atau sederajat serta meningkatkan kesejahteraan para guru dengan memprogramkan Tambahan Penghasilan (Tamsil).

Dia menambahkan, dinasnya pun mengalokasikan anggaran untuk memberikan upah bagi guru honor sesuai Upah Minimun Regional (UMR) dan pihaknya pun terus berupaya agar gaji guru honor ditingkatkan.

Lihat juga...