Lebaran CDN

PGRI Flotim Minta Distribusi Bantuan Korban Banjir Bandang, Merata

Editor: Makmun Hidayat

LARANTUKA — Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), meminta kepada stakeholders, mendistribusikan bantuan korban banjir bandang secara merata. Salah satunya, Desa Nobo, juga perlu disasar.

“Harusnya distribusi bantuan merata kepada korban bencana banjir bandang yang melanda beberapa kecamatan di Pulau Adonara,” kata Maksimus Masan Kian, Ketua PGRI Kabupaten Flores Timur, saat ditemui di Kota Larantuka, Selasa (13/4/2021).

Warga tambah Maksi, membuka posko dan menerima bantuan di kantor desa, namun suasana di desa ini tidak seramai beberapa titik yang terkena dampak bencana. Dia menyebutkan, saat PGRI Kabupaten Flores Timur tiba di Desa Nobo, tidak ada satu bantuan pun ada di lokasi.

Ia memaparkan, hal yang dapat direfleksikan dari kunjungan di tempat ini adalah, mestinya ada perimbangan bantuan pada titik yang terdampak sehingga tidak menimbulkan kekecewaan.

“Logistik bantuan sesegera mungkin disalurkan ke tangan yang berhak memperolehnya sehingga jangan terjadi penumpukan,” tegasnya.

Ketua PGRI Kabupaten Flores Timur, Maksimus Masan Kian saat ditemui di Kota Larantuka, Selasa (13/4/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Maksi meminta agar tidak hanya bantuan sembako dan lainnya, bantuan tenaga dari TNI, Polri, masyarakat lainnya dan juga alat berat dibutuhkan di tempat ini dalam penataan kembali tempat mereka.

“Para donatur yang ingin menyalurkan sumbangannya, lokasinya sekitar 100 meter dari lapangan bola kaki, tempat mendaratnya helikopter yang ditumpangi Presiden RI,” paparnya.

Maksi menyebutkan, dengan semangat budaya Lamaholot sesama warga saling membantu. Keluarga yang tidak terkena musibah, menolong korban yang terkena dampak.

Korban yang tidak lagi memiliki rumah atau kondisi rumah yang terendam dan rusak berat, lanjutnya, menumpang di rumah keluarga lainnya yang tidak terkena dampak.

“Mereka terlayani makanan dan minuman hasil dari donasi warga sekitarnya yang peduli membantu sesama yang terkena musibah,” ujarnya.

Maksi mengatakan, sebelumnya pengurus PGRI Kabupaten Flores Timur didampingi Pengurus Cabang Ile Boleng, Witihama, Kelubagolit dan Adonara mengunjungi Desa Nobo, Kecamatan Ile Boleng, pada Minggu (11/4). Ada satu nilai yang menarik di desa ini, yakni mereka saling menopang satu dengan yang lain meskipun tidak ada bantuan pemerintah.

Ditambahkan, selain dari jajaran pengurus PGRI, turut hadir komunitas Guru Garis Depan (GGD), guru SMPN 1 Larantuka, SMPN 2 Larantuka dan SMPN 1 Lewolema. Termasuk Karang Taruna Desa Lamatou, Kecamatan Lewolema.

“Ada 68 orang hadir di Desa Nobo, berdialog dengan masyarakat dan meninjau langsung lokasi dan kondisi rumah yang rusak. Termasuk juga gereja di desa ini yang terendam lumpur setinggi 3 meter,” jelasnya.

Menurut Yosep Kia Uba, Ketua PGRI Cabang Ile Boleng, konsentrasi bantuan sepertinya belum merata, karena di Nobo memang bantuan sangat minim, padahal korban sangat membutuhkan bantuan.

“Sejak awal, memang desa kami Nobo tidak seviral tempat yang lain, sehingga saat donasi disalurkan, Desa Nobo terlewatkan,” ujarnya.

Yosep menambahkan, beberapa hari ini setelah pihaknya membuka informasi dan publikasi, beberapa donatur mulai menyalurkan bantuan.

Ia mengatakan, kesepakatan warga di Desa Nobo, logistik bantuan tidak boleh ditumpuk di posko, tetapi langsung disalurkan ke tangan korban atau yang berhak menerima bantuan.

“Kami tidak ingin bantuan tercecer karena kami memahami sahabat dan keluarga yang membantu ini pun tentu dalam keterbatasan,” kata Yosep.

Lihat juga...