Lebaran CDN

PLTU Batu Bara di Tanggerang Gunakan Bahan Bakar Sampah Rumah Tangga

Wali Kota Tanggerang, Arief Rachadiono Wismansyah saat penandatanganan komitmen kerja sama secara daring dengan PT Indonesia Power, untuk pemanfaatan jumputan padat sampah rumah tangga menjadi bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap - foto Ant

JAKARTA – Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Kota Tanggerang, Banten, memanfaat jumputan padat sampah rumah tangga, sebagai bahan bakar co-firing. Sampah tersebut sebagai pengganti batu bara, untuk menghasilkan listrik bagi masyarakat.

Wali Kota Tangerang, Arief Rachadiono Wismansyah mengatakan, pemanfaatan jumputan padat sampah untuk energi, akan menjadi salah satu solusi penanganan masalah sampah di wilayahnya. “Dengan teknologi yang ada saat ini, sampah rumah tangga dapat diolah menjadi energi terbarukan pengganti batu bara,” kata Arief, Sabtu (24/4/2021).

Uji coba co-firing, dengan memanfaatkan pengolahan sampah skala riset lima ton per-hari, telah dilakukan oleh PT Indonesia Power yang merupakan anak usaha PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Bahan bakar jumputan padat merupakan bahan bakar yang berasal dari sampah yang telah melalui proses pemilahan dan homogenisasi, menjadi ukuran butiran kecil atau dibentuk menjadi pelet. Bahan tersebut dapat digunakan sebagai pengganti bahan bakar fosil.

Jumputan padat itu diolah melalui teknologi biodrying atau melalui teknologi maggot. Teknologi biodrying adalah dekomposisi zat organik secara parsial, dengan memanfaatkan panas yang dihasilkan oleh mikroorganisme dibantu aerasi untuk menghilangkan kelembaban. Sedangkan teknologi maggot adalah dekomposisi zat organik dengan memanfaatkan belatung lalat Black Soldier Fly.

Direktur Utama PT Indonesia Power, Ahsin Sidqi mengatakan, pemanfaatan sampah untuk energi merupakan komitmen negara dalam mengurangi penggunaan batu bara pada pembangkit listrik. “Kami akan terus mengembangkan supaya teknologi co-firing untuk PLTU bisa memanfaatkan 100 ton sampah per hari,” kata Ahsin.

Seperti diketahui, co-firing merupakan proses penambahan bahan biomassa sebagai bahan bakar pengganti parsial atau bahan campuran batu bara di PLTU. Dalam kurun waktu tiga tahun ke depan, PLN berencana untuk dapat melakukan co-firing pada 52 lokasi PLTU batu bara eksisting dan menargetkan peningkatan kapasitas pembangkit energi terbarukan sebesar 16 gigawatt. “Melalui transformasi ini, kami berinovasi dan mendorong penggunaan green energy yang ramah lingkungan,” ucap Direktur Mega Proyek dan Energi Terbarukan PLN, Ikhsan Asaad. (Ant)

Lihat juga...