Lebaran CDN

Pokmaswas Jalur Gaza di Flotim Catat 2.491 Tukik Dilepasliarkan

Editor: Makmun Hidayat

LARANTUKA — Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Jalur Gaza di Desa Sulengwaseng, Kecamatan Solor Selatan, Kabupaten Flores Timur (Flotim), Nusa Tenggara Timur, satu dari dua Pokmaswas yang aktif melakukan konservasi penyu, mencatat telah melepasliarkan sekira 2.491 tukik.

“Sejak tahun 2018 kelompok kami sudah melepaskan 2.491 tukik atau anak penyu,” kata Ketua Pokmaswas Jalan Lurus Gagah Perkasa (Jalur Gaza) Desa Sulengwaseng, Wilwelmus Wokadadewa Melur, saat ditemui di tempatnya, Rabu (21/4/2021).

Mus sapaannya menjelaskan, untuk tahun 2018 pihaknya telah melepas sebanyak 550 ekor tukik,  tahun 2019 ada 750 tukik dan tahun 2020 jumlah tukik yang dilepas mencapai 950  ekor.

Ketua Pokmaswas Jalur Gaza,  Wilwelmus Wokadadewa Melur, saat ditemui di rumahnya di pesisir pantai Desa Sulengwaseng, Rabu (21/4/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Dia menjelaskan, semua tukik tersebut ditetaskan di tempat penangkaran sederhana yang berada di Pantai Sulengwaseng di atas tanah miliknya seluas sekitar 3 hektare yang direncanakan akan dijadikan tempat wisata.

“Kami setiap malam saat musim penyu bertelur selalu berjalan mencari telur penyu. Usai menemukan sarangnya, telur penyu pun diangkut bersama pasir di sekitar sarangnya dan dibawa ke tempat penetasan,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Theresia Werang, isteri Mus yang selalu setia mendampinginya dalam melakukan konservasi penyu bersama 15 anggota Pokmaswas Jalur Gaza.

Theresia menjelaskan, penyu yang paling banyak ditetaskan merupakan jenis penyu sisik dan penyu hijau sebab menurutnya mayoritas dua jenis penyu ini yang biasa bertelur di pantai selatan Pulau Solor.

“Kadang setiap malam kami berjalan sejauh 3 kilometer untuk mencari sarang penyu.Kami menggunakan senter sebagai penerangan dan ember plastik untuk menampung telur penyu,” ucapnya.

Theresia mengaku tanggal 13 April 2021, pihaknya kembali membenamkan 113 telur penyu bersama seluruh anggota sementara tanggal 17 April 2021 kembali dibenamkan 98 telur lagi.

Ia menjelaskan, biasanya penyu bertelur setiap tahunnya di bulan April hingga September tetapi di tahun 2021 waktu bertelur penyu lebih awal dimana sejak bulan Februari sudah ada penyu yang bertelur.

“Kami bekerja tanpa ada bayaran dari pemerintah atau lembaga manapun. Ini sebagai bentuk kesadaran kami untuk melakukan konservasi penyu agar bisa berguna bagi anak cucu kami,” tuturnya.

Lihat juga...