Lebaran CDN

PPLP Kulonprogo Konsisten Tolak Aktivitas Penambangan Pasir Besi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

YOGYAKARTA — Sejumlah warga di kawasan pesisir pantai Kulonprogo kembali memasang spanduk berisi penolakan aktivitas penambangan pasir besi di sepanjang jalan yang melewati desa mereka.

Salah seorang warga, yang tergabung dalam kelompok Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP) Kulonprogo, Abu, asal desa Garongan, Panjatan, Rabu (21/4/2021). Foto: Jatmika H Kusmargana

Pemasangan puluhan spanduk itu dilakukan sebagai bentuk peneguhan komitmen warga yang secara konsisten menolak alih fungsi lahan oleh perusahaan penambangan pasir besi sejak 15 tahun silam.

Warga yang tergabung dalam kelompok Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP) Kulonprogo itu mengaku tetap akan mempertahankan lahan pesisir pantai itu sebagai lahan pertanian yang selama ini telah menjadi penopang hidup mereka.

Salah seorang warga, Abu, asal desa Garongan, Panjatan, menyebut sejak awal, seluruh warga desanya telah sepakat menolak alih fungsi lahan pertanian sebagai lokasi penambangan sekaligus lokasi pabrik pengolahan pasir besi PT Jogja Magasa Iron yang didirikan sejak 2005.

Selain mengancam mata pencaharian warga yang mayoritas bekerja sebagai petani, aktivitas penambangan pasir besi di kawasan pesisir pantai itu juga dikhawatirkan akan mengancam dan merusak kondisi lingkungan sekitar.

“Sejak awal kita menolak. Karena kalau sampai lahan itu jadi ditambang, kita mau bercocok tanam dimana. Belum lagi dampaknya yang bisa-bisa menimbulkan abrasi pantai dan kerusakan lingkungan lainnya,” katanya Rabu (21/04/2021).

Kawasan sepanjang pesisir pantai selatan Kulonprogo sendiri merupakan kawasan berpasir yang berstatus Sultan Ground. Karena tak terurus, selama ini warga sekitar memanfaatkannya untuk bercocok-tanam aneka sayur-sayuran seperti cabai, melon, semangka, sawi, pepaya, terong, tomat hingga bawang merah.

“Saya punya sekitar 5.000 meter persegi. Saya manfaatkannya untuk bercocok-tanam. Memang sejak awal tidak ada sertifikat apapun karena kita hanya pakai saja. Dulu PT JMI memang menawarkan ganti rugi lahan Rp75ribu per meter. Namun sejak awal kita tolak,” katanya.

Meski sebagian besar warga di pesisir pantai Kulonprogo seperti desa Karangsewu, Bugel, Pleret, Garongan dengan tegas menolak keberadaan aktivitas penambangan pasir besi oleh PT JMI, namun faktanya ada pula sebagian warga yang menerima. Yakni warga di desa Karangwuni Wates.

Seluruh warga di desa Karangwuni Wates ini bahkan telah menerima ganti rugi lahan dari perusahaan. Sementara itu pihak perusahaan PT JMI sendiri selama ini juga sudah rutin beraktivitas melakukan penambangan pasir besi di kawasan desa Karangwuni ini.

“Kalau disini tidak ada masalah. Warga bahkan sudah menerima uang ganti rugi sejak lama. Meskipun memang tak sedikit warga yang kecewa, karena janji perusahaan untuk memperkerjakan petani yang dulu lahannya tergusur tidak dilakukan. Termasuk saya,” ujar salah seorang warga desa Karangwuni yang enggan disebutkan namanya.

Lihat juga...