Lebaran CDN

Produksi Gabah di Kudus 2020 166.494 Ton

KUDUS  – Tingkat produksi gabah di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, selama tahun 2020 belum mampu memenuhi target produksi sebanyak 167.154 ton gabah kering panen (GKP) karena realisasinya hingga akhir tahun hanya 166.494 ton GKP, menyusul banyaknya tanaman padi petani yang terdampak banjir.

“Sementara target luas tanam pada tahun 2020 mencapai 25.716 hektare, sedangkan realisasinya bisa melampaui karena mencapai 28.267 hektare,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus, Catur Sulistyanto di Kudus, Kamis.

Akan tetapi, lanjut dia, realisasi luas panen di bawah luas tanam karena ada tanaman padi yang puso atau gagal panen akibat dampak perubahan iklim, mulai dari banjir dan kekeringan serta adanya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Dengan realisasi tanam seluas 28.267 hektare, luas panennya hanya 25.555 hektare

Dari hasil produksi gabah sebanyak 166.494 ton GKP, maka beras yang bisa dihasilkan sekitar 105.723,69 ton beras.

Adapun target provitasnya, setiap hektarenya sekitar 6,50 ton GKP, namun realisasinya mencapai 6,48 ton per hektarenya.

Dengan standar kebutuhan beras penduduk sebesar 92,87 per kilogram per kapita per tahun dengan jumlah penduduk sekitar 881.128 jiwa, maka kebutuhannya berkisar 81.830,36 ton, sehingga stok beras di Kudus masih mengalami surplus.

Dengan demikian, ketersediaan pangan di Kudus tersedia dalam jumlah aman, mengingat stok beras yang dimiliki masyarakat juga belum termasuk dalam penghitungan.

Sementara luas areal tanaman padi di Kabupaten Kudus pada musim tanam kedua hingga kini progresnya cukup bagus, karena realisasi target setiap bulannya selalu melampaui. Misal target bulan Maret 2021 seluas 2.055 hektare realisasainya hingga akhir Maret 2021 mencapai 3.995 hektare, sedangkan bulan April 2021 ditargetkan 5.093 hektare.

Sementara luas areal lahan irigasi teknis di Kudus total luasnya sekitar 14.929 hektare, sedangkan lahan sawah tadah hujan seluas 5.724 hektare.

Jika musim tanam (MT) kedua ini mundur, bisa berdampak pada kesempatan petani memanfaatkan MT ketiga yang biasanya berlangsung dua bulan dengan tanaman palawija terlewatkan karena MT I diperkirakan dimulai September 2021. (Ant)

Lihat juga...