Lebaran CDN

Ramadan, Pendapatan Jasa Sol Sepatu di Jember Meningkat

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JEMBER  – Menjalani profesi sebagai tukang jahit sepatu dan sandal bisa menjadi berkah tersendiri. Apalagi di Bulan Ramadan. 

Tansil, pemilik stan jahit sepatu di Jalan Kalimantan, Jember, menyatakan, setiap tahun pesanan untuk jasa jahit sepatu meningkat 3 kali lipat saat Bulan Ramadan. Sedangkan saat di hari  biasa setiap harinya hanya menyelesaikan 5 sampai 8 pasang sepatu dan sandal.

“Setelah puasa melewati hari ke-10, titipan sepatu dan sandal mulai meningkat untuk dijahitkan. Seperti sekarang, ada beberapa pasang sepatu dan juga beberapa pasang sandal yang harus dijahit,” ujar Tansil, kepada Cendana News, ditemui di wilayah Jalan Kalimantan, Kelurahan Tegal Boto, Kecamatan Sumbersari, Jember, Selasa (27/4/2021).

Pesanan perbaikan yang paling banyak kali ini, menurutnya beberapa pasang sandal yang harus diselesaikan. Beberapa sandal anak-anak dan sandal orang dewasa.

“Paling banyak yang harus saya kerjakan saat ini sepasang sandal, sedangkan untuk sepatu hanya beberapa pasang saja. Seperti sandal orang dewasa dan sandal anak-anak,” tegasnya.

Ramainya pesanan yang diterima, membuat Tansil setiap hari harus meluangkan waktu untuk  menyelesaikan pesanan.

“Karena di Bulan Ramadan banyak orang yang memperbaiki sepatu dan sandal setiap hari, maka seringkali pesanan jahitan yang saya kerjakan di sini, dilanjutkan di rumah. Karena banyak pelanggan yang juga meminta agar cepat diselesaikan,” ungkapnya.

Tansil menambahkan, seringkali beberapa pasang sandal dan sepatu saat ia kerjakan di rumah, baru terselesaikan di waktu menjelang Sahur tiba.

“Supaya pelanggan tidak beralih ke tempat tukang jahit lainnya, saya harus sesegera mungkin menyelesaikan jahitan sesuai yang dipesan pelanggan. Walaupun meluangkan waktu untuk lembur setiap malam,” ujarnya.

Selama menjalani profesi sebagai jasa penjahit sepatu dan sandal, menurutnya, waktu yang dijalaninya  sudah sekitar 10 tahun. Sedangkan untuk tarif jasa yang didapatkan, yakni kisaran 15 ribu sampai 20 ribu rupiah.

“Tarif itu sesuai dengan tingkat kesulitan yang harus saya kerjakan. Seperti sepatu olahraga dan sandal, karena pengerjaannya mudah, saya pasang tarif 15 ribu. Sedangkan untuk sepatu fantovel dan sepatu gunung, tarif yang saya dapatkan 20 ribu per pasang,” ungkapnya.

Dirinya memang sengaja tak pernah menaikkan harga tarif. Tansil mengatakan, tarif yang ia peroleh sudah cukup menguntungkan untuk dirinya.

Terpisah, Joko warga Kelurahan Kaca Piring, Kecamatan Gebang, Jember, mengatakan, selama 4 tahun dirinya menjalani profesi tukang jahit sepatu dan sandal yang rusak. Hal itu ternyata jauh lebih menguntungkan dari sebelumnya ketika harus bekerja ke luar kota.

Joko, saat ditemui Cendana News sedang memperbaiki sepatu di wilayah Jalan Jawa VII, Kelurahan Tegal Boto, Kecamatan Sumbersari, Jember, Jawa Timur, Selasa (27/4/2021).- Foto: Iwan Feri Yanto

“Sejak membuka usaha jasa ini, pendapatan yang diperoleh setiap hari selalu ada dan menguntungkan. Hanya saja, saat baru pertama kali menjalani usaha ini, selama dua hari pertama tidak ada pesanan jahitan sama sekali. Waktu itu hari Jumat baru mulai ada pelanggan sampai sekarang,” ungkapnya.

Selama bulan Ramadan, Joko mengatakan, pesanan yang harus dikerjakan memang mengalami peningkatan, dibandingkan hari sebelum bulan Ramadan.

“Pelanggan yang datang ke sini bukan hanya minta dijahitkan sandal atau sepatu yang sudah lama dipakai dan rusak. Seringkali juga, ada sandal yang baru saja dibeli dari toko, oleh pelanggan minta untuk dijahit supaya kuat,” ucapnya.

Lihat juga...