Lebaran CDN

Ramadan, Relawan Literasi Tetap Semangat Ajak Mencintai Buku

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Memasuki bulan suci Ramadan tahun kedua selama masa pandemi Covid-19, ikut berdampak pada relawan literasi.

Mufrodi, relawan literasi Es Krim Pustaka menyebut, pola kegiatan membudayakan minat baca berubah. Warga asal Desa Mataram Baru, Kecamatan Mataram Baru, Lampung Timur menyebut normalnya ia berkeliling menjual es krim sembari membawa buku.

Menemani anak-anak membaca buku dilakukan Mufrodi, relawan literasi Es Krim Pustaka di Desa Mataram Baru, Kecamatan Mataram Baru, Lampung Timur, Kamis (29/4/2021) – Foto: Henk Widi

Selama pandemi Covid-19 aktivitas berkeliling yang dilakukan Mbah Buyut, sapaan akrabnya mengalami hambatan.

Terhambatnya kegiatan dipengaruhi sejumlah sekolah tidak melakukan kegiatan belajar tatap muka. Ia juga mengalami pengurangan aktivitas usaha berjualan es krim di objek wissta. Sebagian objek wisata alam yang tetap buka menjadi tempat menjual es krim dan membawa buku.

Semula Mbah Buyut mengaku bisa mendatangi sejumlah anak di pedesaan. Namun agar tetap bisa membudayakan minat baca, ratusan koleksi buku di rumah sekaligus perpustakaan disiapkan.

Buku koleksi hasil donasi dari pemerhati literasi, membeli dari keuntungan menjual es krim disusun memakai rak kayu sederhana. Meski mendapat gerobak buku, namun aktivitas berkeliling mulai berkurang.

“Tetap berkeliling sebagai bagian dari relawan pustaka bergerak Indonesia untuk bisa mencerdaskan anak-anak melalui buku, namun selama masa pandemi dan Ramadan tentunya memperhitungkan aspek kesehatan. Saya lebih banyak melakukan kegiatan literasi di rumah,” terang Mufrodi saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (29/4/2021).

Mufrodi bilang, selama masa pandemi Covid-19 pola belajar anak berubah. Semula anak usia sekolah lebih banyak melalukan kegiatan belajar tatap muka.

Namun setelah sistem belajar dalam jaringan (daring) anak dominan memakai gawai. Sistem belajar memakai gawai tersebut kerap menggeser kecintaan pada aktivitas membaca buku. Namun ia tidak kehilangan akal, rumah jadi tempat membaca buku.

Memiliki anak yang masih bersekolah membuat Mufrodi tetap semangat mengajak mencintai buku. Memiliki rumah dengan tempat duduk di teras, kursi di bawah pohon membuat anak-anak kerap datang.

Meski semula memiliki koleksi puluhan buku namun berkat dukungan dari donatur bukunya bertambah. Forum Literasi Lampung (FLL) sebutnya menjadi donatur penambah koleksi buku.

“Saya terus berusaha agar anak-anak di desa saya tetap mencintai buku, bisa meminimalisir pemakaian gawai hingga kecanduan,” terang Mufrodi.

Mufrodi yang memiliki panggilan Mbah Buyut di kalangan anak-anak, relawan literasi, mengaku edukasi mencintai buku ikut mengalami pergeseran.

Sebelum Covid-19 ia bisa leluasa berkeliling kampung. Namun selama anak-anak tetap membaca buku protokol kesehatan dengan penyiapan tempat cuci tangan disediakan. Waktu yang digunakan juga fleksibel memberi kesempatan anak membaca buku kapan pun.

Husnul Khotimah, salah satu anak di Desa Mataram Baru menyebut, ia mengisi waktu Ramadan dengan membaca buku.

Sejumlah aktivitas yang tetap dilakukan olehnya dengan melalukan kegiatan belajar daring. Selain mengisi absensi secara online, sejumlah tugas dikerjakan dengan aplikasi WhatsApp. Membaca buku di perpustakaan Mbah Buyut nyaman dengan koleksi buku beragam.

“Anak-anak usai melakukan tugas membantu orang tua, mengerjakan tugas sekolah membaca buku jadi pengisi waktu luang,” cetus Husnul Khotimah.

Normalnya, saat pembelajaran tatap muka ia mengikuti kegiatan pesantren kilat. Saat sore kegiatan mengaji dilakukan di masjid yang ada di dekat rumah.

Membaca buku dengan mengajak anak-anak lain menjadi cara mencintai buku. Anak-anak yang semula tidak mencintai buku bisa mencintai buku dengan cukup melihat buku bergambar yang disediakan oleh Mufrodi.

Lihat juga...