Relawan Literasi di Lampung Tingkatkan Minat Baca pada Anak

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Keberadaan puluhan relawan literasi di provinsi Lampung, diakui memiliki peran penting dalam menumbuhkan minat baca di kalangan anak-anak. Terlebih di masa pandemi, ketika pembelajaran dilakukan daring.

Eni Amaliah, ketua Forum Literasi Lampung (FLL), menyebut ada puluhan relawan literasi di 15 kabupaten kota di Lampung. Relawan literasi berbentuk rumah baca, perpustakaan, perpustakaan keliling hingga pusat kegiatan belajar.

“Relawan literasi memang sempat mengalami kesulitan saat pandemi Covid-19. Sebab, anak-anak yang akan mengakses buku bacaan kerap tidak bisa datang ke perpustakaan. Namun sejumlah relawan literasi dengan kreativitasnya bisa menjangkau anak-anak membawa buku. Sejumlah buku yang disediakan relawan bersifat edukatif dan rekreatif,” kata Eni Amaliah, Kamis (1/4/2021).

Eni menjelaskan, rencana besar menjadikan Lampung sebagai provinsi literasi butuh dukungan sejumlah elemen. Pemerintah tingkat provinsi hingga desa, organisasi, lembaga nonpemerintah hingga relawan sangat dibutuhkan.

“Fasilitas pendukung berupa perpustakaan tetap, perpustakaan bergerak akan makin lengkap dengan akses buku yang beragam menyesuaikan kebutuhan usia, terutama anak-anak agar lebih mencintai buku bacaan,” terang Eni.

Eni Amaliah, ketua Forum Literasi Lampung saat ditemui Cendana News dalam diskusi literasi di Bandar Lampung, Sabtu 13 Maret 2021 -Dok: CDN

Eni Amaliah bilang, relawan harus ikut berbenah mengikuti perkembangan zaman. Sebab saat pandemi Covid-19, tantangan bagi relawan cukup banyak dengan sistem pembelajaran memakai gawai. Sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) berbasis internet telah mendorong anak-anak membaca buku bacaan digital.

Transformasi bagi relawan literasi, sebutnya, ikut meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Sejumlah relawan yang tergabung dalam simpul literasi diberi materi peningkatan kapasitas.

Pembekalan diberikan untuk melakukan inventarisasi buku bacaan yang dimiliki. Sebab, dalam proses menebarkan budaya membaca, akses buku yang disediakan harus menyesuaikan usia anak.

“Beberapa relawan literasi yang mendapat donasi buku harus bisa melakukan pemilahan buku sesuai usia, sehingga mudah dipahami,” terang Eni Amaliah.

Minat baca buku fisik, sebut Eni Amaliah, ikut mengalami perkembangan dengan adanya electronic book (e-book). Relawan literasi juga perlu memanfaatkan teknologi yang ada. Sebab, sebagian relawan literasi memanfaatkan media sosial untuk aktivitas. Pemanfaatan media sosial akan membantu relawan literasi bertukar informasi, koleksi buku dan sharing pengalaman.

Mufrodi, pegiat literasi es krim pustaka di Mataram Baru, Lampung Timur, mengaku masih butuh koleksi buku. Selama ini, ia memiliki semangat untuk mendukung kegiatan literasi melalui perpustakaan bergerak. Menggunakan motor, ia bahkan mendapat bantuan rak buku yang bisa dipakai untuk membawa ratusan buku. Lokasi menebarkan budaya membaca dilakukan di area objek wisata.

“Saya memiliki pekerjaan menjual es krim, namun tetap membawa buku untuk dibaca oleh anak-anak di pedesaan,” cetusnya.

Sebagai relawan literasi, Mufrodi juga ikut terlibat dalam Forum Literasi Lampung. Pertemuan dengan sejumlah pegiat literasi dari sejumlah wilayah, membuat ia bisa menambah koleksi buku. Kendala yang dihadapi oleh sejumlah pegiat literasi menjadi semangat baginya. Buku bacaan yang dibawa akan meningkatkan minat baca bagi anak.

Sementara itu, koleksi buku yang terbatas tidak menghalangi semangat Ardi Yanto, pegiat literasi Motor Perahu Pustaka. Warga Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan itu memilih membawa buku ke objek wisata. Aktivitas anak yang belum melakukan kegiatan sekolah tatap muka, membuat ia bisa lebih banyak berkeliling membawa buku.

Jenis koleksi buku yang disukai anak-anak dominan jenis bacaan bergambar. Namun, kendala yang dihadapi relawan literasi ketersediaan buku masih mengandalkan donasi. Sebagai pekerja wiraswasta, ia kerap menyisihkan sebagian hasil pekerjaannya untuk membeli buku. Edukasi melalui buku dilakukannya, agar anak-anak pedesaan tidak tergantung gawai.

“Buku bacaan bergambar akan mendorong minat baca bagi anak, setidaknya mengurangi ketergantungan pada gawai untuk bermain game, mengakses media sosial,” bebernya.

Keberadaan relawan literasi yang memberi dampak positif, diakui Gunawan Handoko. Ketua komunitas minat baca Indonesia provinsi Lampung itu, mengaku relawan membantu distribusi buku. Selama ini, buku banyak tersimpan di perpustakaan desa, sekolah dan perpustakaan pemerintah. Keberadaan relawan yang sebagian berkeliling bisa menjangkau anak-anak di pedesaan.

“Minat baca buku di Indonesia cukup tinggi. Namun, akses buku yang terhambat menjadi kendala karena orangtua lebih memilih membeli kebutuhan pokok lain.  Sejumlah donatur dan elemen yang peduli minat baca bagi generasi muda bisa berkolaborasi dengan relawan,” pungkas Gunawan Handoko.

Lihat juga...