Rusia: Konflik Baru Donbass Dapat ‘Hancurkan’ Ukraina

MOSKOW/KIEV — Rusia memperingatkan pada Kamis (1/4) bahwa peningkatan serius konflik di Donbass dapat “menghancurkan” Ukraina saat NATO menyuarakan keprihatinan atas apa yang dikatakannya sebagai pembangunan besar militer Rusia di dekat wilayah timur Ukraina.

Rekaman media sosial yang tidak diverifikasi menunjukkan Rusia telah memindahkan sejumlah besar tank, pengangkut personel lapis baja, dan peralatan lainnya ke wilayah yang berbatasan dengan Ukraina serta Krimea, yang dicaplok Moskow dari Ukraina pada 2014.

Aktivitas Rusia menimbulkan tantangan dini bagi pemerintahan Presiden AS Joe Biden, yang minggu ini mengadakan percakapan via telepon dengan pejabat senior Ukraina –dukungan terbuka kepada pemerintah Presiden Volodymyr Zelenskiy.

“Sebagian, itu adalah taktik biasa, menaikkan dan menurunkan konflik untuk menciptakan ketidakstabilan, untuk menunjukkan bahwa Rusia adalah pemain kunci,” kata seorang diplomat Uni Eropa. “Kami tidak dapat mengecualikan bahwa kepresidenan Biden adalah bagian dari perhitungan Rusia, bahwa sudah waktunya bagi Moskow untuk menunjukkan sedikit kekuatan.”

Moskow dan Kiev telah lama saling menuduh gagal menerapkan kesepakatan perdamaian atas Donbass.

Hubungan semakin tegang terkait nasib pipa gas Nord Stream 2 ke Jerman, yang ingin dihentikan oleh Kiev dan Washington, juga oleh tindakan keras di Ukraina terhadap seorang pengusaha terkemuka yang dekat dengan Rusia.

NATO mengatakan prihatin dengan peningkatan militer Rusia ketika para duta besar negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara itu bertemu untuk membahas peningkatan kekerasan baru-baru ini di Donbass, Ukraina timur.

Donbass menjadi daerah tempat pasukan Ukraina memerangi pasukan separatis dukungan Rusia dalam konflik yang diperkirakan Kiev telah menewaskan 14.000 orang sejak 2014 .

Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin berbicara dengan mitranya dari Ukraina, Andrii Taran, dan “mengutuk eskalasi tindakan agresif dan provokatif Rusia di timur Ukraina belakangan ini,” kata Pentagon.

“Saya menegaskan kembali dukungan kami yang tak tergoyahkan untuk kedaulatan Ukraina, integritas teritorial, dan aspirasi Euro-Atlantik,” kata Austin di Twitter.

Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba menuduh Rusia melakukan “gangguan sistemik” terhadap situasi keamanan di Donbass dan Krimea.

Juru bicara presiden Rusia, Dmitry Peskov, meremehkan pembangunan militer itu, dengan mengatakan “ini seharusnya tidak mengganggu siapa pun dan tidak menimbulkan ancaman bagi siapa pun”. Rusia mengambil langkah-langkah untuk memastikan keamanan perbatasannya sendiri, katanya.

“Ada peningkatan aktivitas di perbatasan Rusia oleh NATO, aliansi lain, masing-masing negara -semuanya mewajibkan kami untuk waspada,” kata Peskov.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan bahwa sebagian besar militer Ukraina tampaknya memahami bahaya “konflik panas” di Donbass.

“Saya sangat berharap bahwa mereka tidak akan ‘dihasut’ oleh politisi, yang pada gilirannya akan ‘dihasut’ oleh Barat, yang dipimpin oleh Amerika Serikat,” kata Lavrov.

“Presiden Rusia Putin mengatakan hal ini belum lama, tetapi pernyataan ini masih relevan hingga kini, bahwa mereka yang akan mencoba memulai perang baru di Donbass – akan menghancurkan Ukraina.”

Keprihatinan NATO

Seorang pejabat NATO mengatakan kepada Reuters bahwa Moskow merongrong upaya perdamaian di Ukraina wilayah timur.

“Sekutu berbagi keprihatinan mereka tentang kegiatan militer skala besar Rusia baru-baru ini di dan sekitar Ukraina. Sekutu juga prihatin tentang pelanggaran Rusia terhadap gencatan senjata Juli 2020 yang menyebabkan kematian empat tentara Ukraina pekan lalu,” kata pejabat itu.

Ukraina, negara-negara Barat, dan NATO menuduh Rusia mengirim pasukan dan senjata berat untuk menopang kekuatan yang mewakili mereka di Donbass –yang merebut sebagian wilayah timur Ukraina pada tahun 2014.

Rusia mengatakan hanya memberikan dukungan politik dan kemanusiaan kepada pejuang separatis dalam apa yang dianggapnya sebagai konflik internal.

Intelijen militer Ukraina menuduh Rusia merekayasa provokasi untuk membuat dalih mengirim satuan-satuan militer Rusia tambahan ke Donbass.

“Selain itu, upaya untuk memajukan pasukan pendudukan Rusia merasuk ke Ukraina tidak dipungkiri,” katanya. [Ant]

Lihat juga...