Sambut Ramadan, Perguruan Silat Pancaraga Gelar Silaturahmi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BEKASI – Menjaga silaturahmi menjadi salah satu cara perguruan silat budaya Betawi Pancaraga, ranting 4 Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat, menyambut bulan suci Ramadan 1442 Hijriyah. Ajang tersebut diisi dengan doa bersama, gelar motivasi, dilanjutkan  penampilan silat dari guru dan peserta lainnya.

“Menyambut bulan suci Ramadan tahun ini, latihan diliburkan sebulan penuh. Hari ini adalah bentuk silaturahmi budaya bagi pembina, guru dan orang tua dari pesilat Betawi,” ujar Iman Maulana, Guru Besar Silat Pancaraga, kepada Cendana News, Minggu (4/4/2021).

Guru Besar Kang Iman Maulana, menyampaikan nasihat kepada peserta silat Betawi Pancaraga, di acara silaturahmi menyambut bulan suci Ramadan 1442 H, Minggu (4/4/2021). – Foto: Muhammad Amin

Dikatakan,  saat ini keberadaan silat Betawi Pancaraga di Jatiasih telah menjelma menjadi penjaga budaya. Keberadaannya sudah mulai dikenal khalayak sebagai pusat silat Betawi yang mengusung nilai budaya warisan leluhur. Khususnya sejak beberapa tahun terakhir.

Menurut  Kang Iman, keberadaan Pancaraga sendiri telah mengajarkan seni bela diri selama 14 tahun berjalan. Tapi, diakuinya, baru beberapa tahun terakhir mulai dikenal di wilayah Jatiasih sebagai alternatif salah satu aktivitas budaya disamping perguruan silat lainnya di wilayah setempat.

“Sebenarnya keberadaan perguruan silat Pancaraga sifatnya tertutup. Tidak bisa dibuka, ini pesan dari guru. Tapi, saat ini perguruan silat Pancaraga sudah menjelma sebagai kegiatan budaya. Tidak ada tujuan lainnya selain melestarikan budaya khas Betawi,” jelasnya.

Keberadaan silat Pancaraga lanjutnya, selain sebagai ajang silaturahmi, juga bisa menjadi kegiatan olahraga. Tujuannya yang penting adalah memberdayakan seni bela diri sebagai warisan budaya di Jatiasih. Saat ini, juga telah memiliki sembilan ranting yang tersebar di beberapa wilayah setempat.

Guru pembina ranting 4, Anang, menegaskan, ajang silaturahmi bersama orang tua dan peserta silat. Boleh dikata sebagai momen perpisahan menyambut libur selama bulan suci Ramadan.

“Pesan kepada seluruh peserta silat Pancaraga, tetap berlatih mandiri di rumah. Habis libur puasa, semua gerakan harus masih ingat, tidak kaku setelah pelatihan silat Pancaraga digelar kembali,” ujarnya.

Silat Betawi Pancaraga, juga selalu menekankan untuk rendah hati, tidak sombong meskipun telah memiliki kebolehan dalam jaga diri.

Satu hal yang ditanamkan kepada murid adalah sifat sederhana di setiap latihan. Seperti tawasul, berzikir dan juga doa bersama sebelum latihan dimulai, jadi acuan setiap minggu.

“Banyak manfaat dari belajar silat Betawi Pancaraga bagi anak-anak, karena penekanannya pada sifat rendah hati. Pastinya, anak diajari berdoa, zikir dan tawasul, sehingga menjadi budaya yang mulia,” ujar Bang Juki, penyedia tempat latihan.

Lihat juga...