Sejumlah Sekolah di Yogyakarta Siap Jalankan PTM, Juli

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Sejumlah sekolah di Yogyakarta mengaku telah sepenuhnya siap untuk menjalankan proses Pembelajaran Tatap Muka  (PTM) secara serentak pada Juli 2021 mendatang.

Selain telah mendapatkan izin dari para orang tua siswa/wali murid, pihak sekolah juga mengaku telah melengkapi sekolah masing-masing dengan berbagai sarana dan prasarana pendukung penerapan protokol kesehatan.

Tak hanya itu, seluruh tenaga pendidik maupun kependidikan juga telah mendapatkan vaksin sehingga tidak ada alasan lagi penundaan proses pembelajaran tatap muka. Terlebih para guru menilai pembelajaran tatap muka mendesak segera dilakukan demi kepentingan seluruh siswa.

“Kita telah sepenuhnya siap untuk menjalankan pembelajaran tatap muka. Saat ini kita bahkan sudah mulai melakukan uji coba untuk siswa kelas VI. Dan tidak ada masalah, semua berjalan lancar,” ujar Kepala Sekolah SD Negeri 2 Srandakan Bantul, Temu Hartono, Kamis (8/4/2021).

Temu menilai dengan berbagai persiapan yang telah dilakukan mulai dari penerapan protokol kesehatan secara ketat hingga vaksinasi bagi semua guru, semestinya sudah tidak ada lagi kekhawatiran bagi orang tua/wali murid untuk mengizinkan anaknya mengikuti proses pembelajaran tatap muka.

Salah satu hal yang juga sangat penting menurutnya adalah, dengan proses pembelajaran tatap muka, anak atau siswa akan bisa kembali menjalani proses pendidikan sebagaimana mestinya. Mengingat selama setahun terakhir anak tak bisa menjalankan proses belajar secara maksimal karena dilakukan dengan sistem daring.

“Memang pembelajaran tatap muka harus segera dilaksanakan demi kepentingan siswa itu sendiri. Karena selama ini mereka tak bisa maksimal belajar, akibat menerapkan sistem BDR (Belajar Dari Rumah). Seperti misalnya siswa kelas 1, mereka kesulitan mengikuti pelajaran menulis dan berhitung karena tidak mendapatkan bimbingan langsung dari guru. Sementara para orang tua/wali murid juga merasa tidak mampu menggantikan peran guru. Itu baru soal materi pelajaran, belum lagi soal pembentukan karakter dan sebagainya,” bebernya.

Di SD Negeri 2 Srandakan, Bantul, sendiri terdapat total sebanyak 119 siswa. Selama setahun terakhir mereka harus mengikuti proses belajar mengajar secara daring akibat adanya pandemi Covid-19. Namun praktiknya proses pembelajaran secara daring ini tidak berjalan maksimal. Dibuktikan banyaknya siswa yang kesulitan mengikuti materi pelajaran.

Bahkan pihak sekolah harus melakukan upaya khusus, berupa pemberian materi secara langsung dengan sistem tatap muka, guna mengejar ketertinggalan para siswa. Dimana setiap 3 hari sekali, para guru harus mendatangi rumah siswa masing-masing untuk memberikan pendampingan.

“Karena proses belajar mengajar secara daring dinilai kurang maksimal, maka kita kerahkan guru untuk melakukan pendampingan langsung dengan sistem tatap muka. Baik itu dengan cara guru mendatangi rumah siswa dan membuat kelompok kecil, atau siswa sendiri yang langsung datang ke sekolah secara terbatas,” pungkasnya.

Lihat juga...