Lebaran CDN

Sektor Usaha Pertanian Jagung, Serap Jasa Tenaga Kerja di Lamsel

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Perputaran masa tanam hingga panen komoditas jagung menyerap jasa tenaga kerja cukup besar di Lampung Selatan. Endo, petani jagung di Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan menyebut jasa tenaga kerja dibutuhkan untuk sejumlah kebutuhan. Siklus pertanian jagung jadi penyerap jasa tenaga kerja berbasis kearifan lokal dan kegotongroyongan.

Kearifan lokal dalam penanaman jagung sebut Endo dilakukan dengan sistem arisan tenaga. Sejumlah pemilik lahan jagung akan bergantian membantu penanaman. Namun arisan tenaga kerja tetap menghasilkan upah jasa penanaman sistem borongan. Arisan tenaga kerja dilakukan oleh minimal sepuluh hingga lima belas orang. Rata rata upah mencapai Rp50.000 hingga Rp70.000.

Endo menyebut tahap pengolahan lahan atau pelantir memakai jasa bajak tenaga sapi dan traktor. Pengolahan lahan memakai bajak tenaga sapi dan traktor membutuhkan biaya sekitar Rp350.000 hingga Rp400.000 perhektare. Proses pengolahan lahan hingga siap ditanami akan menjadi sumber penghasilan bagi pemilik bajak sapi dan traktor.

“Biaya operasional untuk pengolahan lahan dalam sektor usaha pertanian jagung akan tertutupi saat panen dari hasil penjualan jagung kering dengan sistem pitilan atau karungan selama maksimal empat bulan,” terang Endo saat ditemui Cendana News, Selasa (20/4/2021).

Persiapan penanaman jagung dilakukan oleh Endo, salah satu pemilik lahan jagung di Desa Kelaten, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Selasa (20/4/2021). -Foto Henk Widi

Endo menyebut dari usaha pertanian komoditas jagung jadi sumber penghasilan bulanan. Mendapat hasil 5 hingga 6 ton dengan omzet sekitar Rp10juta. Dikurangi dengan biaya operasional tenaga kerja, pemeliharaan hingga panen ia masih bisa mendapat keuntungan bersih Rp5juta. Sektor pertanian jagung tetap dipertahankan untuk menjadi sumber penghasilan bagi warga lain yang tidak memiliki lahan.

Sektor usaha pertanian jagung jadi sumber penghasilan bagi Rusmaini, warga Desa Gandri, Kecamatan Penengahan. Permintaan tanam jagung dengan sistem tajuk kerap dilakukan oleh pemilik lahan. Pekerja akan mendapat upah persak atau perkemasan benih jagung Rp400.000. Satu lahan ia mengaku bisa menanam sekitar lima sak jagung dengan upah Rp2juta.

“Dibagi dengan sebanyak sepuluh orang bisa mendapat hasil Rp200.000 per orang bisa dikerjakan sehari,” ulasnya.

Dalam sepekan jasa tanam tersebut bisa dilakukan pada sebanyak empat lahan. Bagi pelaku jasa tanam sistem tajuk, penanaman jagung jadi sumber penghasilan menjanjikan. Meski menahan panas terik, selama masa pandemi jasa tanam memberi hasil menjanjikan. Pekerjaan jasa buruh tanam dominan dilakukan oleh kaum wanita. Kaum laki laki membuat lubang untuk ditanami.

Siklus budidaya jagung saat panen tetap jadi berkah bagi buruh petik. Warsiah, salah satu buruh petik di Desa Gandri menyebut saat panen ia bisa mendapat hasil menjanjikan. Sistem panen jagung dilakukan dengan upah per karung mencapai Rp7.000 hingga Rp8.000. Variasi besaran upah akan menyesuaikan ketersediaan tenaga kerja.

“Saat masa panen berbarengan kerap sulit mencari tenaga kerja sehingga pemilik lahan bisa meningkatkan upah hingga Rp10.000 per karung,” cetusnya.

Dalam satu hamparan Warsiah menyebut rata rata mendapat 30 karung. Upah sebesar Rp7.000 per karung membuat ia bisa mendapat Rp210.000 per hari. Semakin banyak pemilik lahan yang melakukan proses panen, upah yang diperoleh semakin banyak. Hasil upah memetik jagung menurutnya bisa digunakan untuk kebutuhan selama Ramadan.

Lihat juga...