Sempat Terhambat Covid-19, Gerakan Lampung Membaca Digiatkan Lagi

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Kepala UPT SDN 1 Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Topan Hariyono, menyebut terhentinya kegiatan belajar mengajar tatap muka pada masa pandemi Covid-19, turut berimbas pada terhentinya kegiatan Gerakan Lampung Membaca (GLM).

Topan Hariyono menjelaskan, kegiatan GLM biasanya diisi dengan membaca 15 menit sebelum kegiatan belajar. Saat jam istirahat, dilakukan kunjung perpustakaan dan melakukan kegiatan membuat resensi buku. Namun akibat pandemi Covid-19, buku bacaan tidak terbaca.

Namun demikian, saat ini pola pembelajaran terjadwal sejak semester ganjil, membuat siswa mulai datang ke sekolah. Siswa yang datang ke sekolah meski tanpa seragam, tetap belajar. Selain mendapat tugas sesuai mata pelajaran, siswa wajib meminjam buku di perpustakaan untuk dibaca saat berada di rumah.

Topan Hariyono, kepala UPT SDN 1 Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, saat di perpustakaan sekolah, Kamis (8/4/2021). -Foto: Henk Widi

Langkah itu dilakukan, agar fasilitas buku bacaan perpustakaan secara maksimal dimanfaatkan. Melalui langkah itu, sekolah tetap mengajak siswa gemar membaca.

“Gerakan Lampung Membaca yang normalnya dilakukan sebelum belajar dan kunjungan perpustakaan sementara terhambat, namun sebagai solusi tetap diwajibkan siswa meminjam buku untuk bahan bacaan di rumah, mengantisipasi siswa kecanduan gawai,” terang Topan Hariyono,Kamis (8/4/2021).

Topan Hariyono menyebut, aktivitas sekolah tetap berjalan normal. Sejumlah guru datang ke sekolah untuk melakukan kegiata belajar mengajar sistem kombinasi. Bagi siswa yang tidak memiliki jadwal untuk kegiatan belajar di sekolah, kunjungan ke perpustakaan masih diperbolehkan. Langkah itu dilakukan agar siswa tetap fokus pada kegiatan belajar.

Gerakan Lampung Membaca, tetap bisa dilakukan oleh siswa di rumah masing-masing. Lingkungan sekolah di pedesaan yang masuk zona hijau memungkinkan sebagian siswa tetap bisa mengunjungi perpustakaan. Keberadaan penjaga perpustakaan yang menginventarisasi buku, memiliki peran dalam program GLM.

“Siswa yang mendapat jadwal datang ke sekolah bisa memilih buku untuk dibaca di rumah, agar minat baca tetap meningkat,” ulasnya.

Iriyanti, guru kelas di SDN 1 Pasuruan, menyebut GLM yang sempat berjalan sebelum pandemi sempat terhambat. Namun, ia menyebut dengan terhentinya aktivitas membaca buku, berimbas penurunan minat baca. Sebelum pandemi, ia menyebut normalnya secara rutin setiap hari dilakukan kegiatan 15 M. Kegiatan 15 menit membaca buku itu menurun gaungnya saat pandemi.

Ia menambahkan, migrasi sistem belajar tatap muka ke digital ikut mengurangi minat baca buku. Namun dengan lingkungan sekolah di pedesaan, kombinasi belajar siswa datang ke sekolah diselingi dengan kunjung perpustakaan. Pembiasaan siswa untuk membaca buku tidak terputus oleh pandemi. Waktu lebih luang saat berada di rumah, bahkan memberi kesempatan siswa meminjam buku.

“Agar siswa terpantau saat membaca buku, sebagian menceritakan kembali melalui resensi terkait buku yang dibaca dan menuliskannya di buku khusus,”ujarnya.

Lihat juga...