Lebaran CDN

Stepanus Robin, Penyidik KPK Diduga Terima Suap Rp1,3 Miliar

Wali Kota Tanjungbalai, M Syahrial, usai menjalani pemeriksaan oleh penyidik KPK atas dugaan jual beli jabatan pada 2019 - foto Ant

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menduga, penyidik Stepanus Robin Pattuju (SRP), menerima suap totalnya Rp1,3 miliar,bdari Wali Kota Tanjungbalai M Syahrial (MS).

Keduanya, bersama Maskur Husain (MH) selaku pengacara, telah ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka kasus dugaan suap oleh penyelenggara negara, terkait penanganan perkara Wali Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara Tahun 2020-2021.

“Total uang yang telah diterima SRP sebesar Rp1,3 miliar,” kata Ketua KPK, Firli Bahuri, saat jumpa pers, di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (22/4/2021) malam.

Firli mengungkapkan, Stepanus bersama Maskur sepakat untuk membuat komitmen dengan Syahrial, terkait penyelidikan dugaan korupsi di Pemerintah Kota Tanjungbalai, untuk tidak ditindaklanjuti oleh KPK dengan menyiapkan uang sebesar Rp1,5 miliar.

“MS menyetujui permintaan SRP dan MH tersebut, dengan mentransfer uang secara bertahap sebanyak 59 kali melalui rekening bank milik RA (Riefka Amalia/swasta), teman dari saudara SRP dan juga MS. Memberikan uang secara tunai kepada SRP hingga total uang yang telah diterima SRP sebesar Rp1,3 miliar,” kata Firli.

Pembukaan rekening bank oleh Stepanus dengan menggunakan nama Riefka dimaksud, telah disiapkan sejak Juli 2020 atas inisiatif Maskur. “Setelah uang diterima, SRP kembali menegaskan kepada MS dengan jaminan kepastian bahwa penyelidikan dugaan korupsi di Pemerintah Kota Tanjungbalai tidak akan ditindaklanjuti oleh KPK,” ujar Firli.

Kemudian, dari uang yang telah diterima oleh Stepanus dari Syahrial, diberikan kepada Maskur sebesar Rp325 juta dan Rp200 juta. Atas perbuatan tersebut, Stepanus dan Maskur disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 dan Pasal 12B Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Sedangkan Syahrial disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. (Ant)

 

Lihat juga...