Lebaran CDN

Tata Kelola IPAL Pertambakan Berkelanjutan Cegah Pencemaran Lingkungan

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Tata kelola Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) yang maksimal  di sektor pertambakan dapat mencegah pencemaran lingkungan. Rusdiantoro, petambak udang vaname dan ikan nila gupi mengaku pengelolaan IPAL menjaga pasokan air tetap bersih.

Langkah itu dilakukan dengan pengaturan kanal pemasukan (inlet) dan kanal pengeluaran (outlet). Aplikasi pertambakan berwasasan lingkungan sebut Rusdiantoro jadi komitmen petambak. Sebab dengan tata kelola yang buruk limbah residu pakan, lumpur, kotoran udang berpotensi mencemari lingkungan.

Perairan Timur Lampung Selatan akan tetap terjaga dengan tata kelola IPAL yang maksimal. Petambak menyediakan petak pembuangan air limbah dan pemisahan inlet dan outlet air tambak.

Dampak pencemaran oleh limbah tambak yang dibuang pada saluran sebut Rusdiantoro mengganggu budidaya. Sebab air yang kotor tercemar limbah dan digunakan petambak lain berpotensi menimbulkan penyakit udang. Pendangkalan atau sedimentasi kanal bisa terjadi oleh pembuangan limbah penyipanan endapan lumpur. Saat terbuang ke laut berdampak gangguan biota laut.

“Diperlukan kolam khusus untuk pengendapan air tambak lalu bisa dibuang ke perairan laut agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, air yang bersih oleh IPAL yang maksimal ikut membantu kelestarian tanaman mangrove yang ada di pesisir Timur Lamsel,” terang Rusdiantoro saat ditemui Cendana News, Rabu (14/4/2021).

Rusdiantoro bilang endapan lumpur saat panen bisa ditampung dan dikeringkan pada tanggul. Langkah itu mencegah kontaminasi pada saluran kanal yang digunakan petambak lain. Namun sebagian petambak dengan modal besar dan intensif memilih memakai mesin pompa. Mesin digunakan memompa air laut untuk dicampurkan dengan air tawar bagi budidaya udang vaname.

Budidaya ikan dan udang berkelanjutan selain IPAL memadai dikombinasikan dengan pelestarian mangrove. Silvofishery atau kehutanan dikombinasikan dengan perikanan menghasilkan lingkungan lestari. Keberadaan sebanyak 60 hektare lahan mangrove jadi peredam air laut dan menjaga bencana abrasi.

“Jangka pendek petambak bisa mendapatkan air bersih dan jangka panjang melestarikan vegetasi mangrove,”tegasnya.

Keberadaan IPAL pertambakan sebutnya tidak hanya sebatas di area budidaya. Pada bagian hilir berupa pelaku usaha penampungan udang diperlukan IPAL memadai. Karyanto, pemilik usaha jual beli udang vaname mengaku penyortiran udang kerap menyisakan air limbah. Saat limbah dibuang ke selokan aroma busuk berpotensi terjadi. Sisa cangkang, udang tak layak jual kerap jadi pencemar air.

“Sebagian limbah cangkang dan udang tak layak jual bisa dikeringkan untuk campuran pakan ikan, airnya dibuang ke septic tank,”bebernya.

Kapasitas ratusan kubik IPAL pada usaha pengepulan udang menghindari pencemaran air. Ia menyebut pengelolaan air dilakukan dengan metode septic tank. Penyaringan air dilakukan agar saat dibuang ke sungai dalam kondisi bersih. Air endapan akan disedot seperti pada septic tank WC agar tidak mencemari air dalam.

Subakir, salah satu pekerja angkut udang mengaku potensi pencemaran budidaya udang tinggi. Saat pemanenan residu pakan, lumpur menimbulkan aroma tidak sedap. Namun pengelolaan IPAL yang baik akan menjaga kondisi air pada sejumlah kanal. Kanal yang tercemar kerap berimbas terbawa ke muara dan laut. Penyuluhan pertambakan berkelanjutan mendorong petambak tidak membuang limbah ke laut.

Ia menambahkan sistem kluster tambak memungkinkan pemilik lahan tidak mencemari lingkungan. Sebab saluran inlet dan outlet terpisah. Pengelolaan tambak yang baik juga meminimalisir hama bercak putih, berak putih, myo dan white spot. Panen udang secara parsial sebut Subakir mendorong ia memiliki penghasilan. Upah ratusan ribu diperoleh saat pengangkutan hasil panen udang pada tambak ramah lingkungan.

Lihat juga...