Lebaran CDN

Teknik Kultur Jaringan, Hasilkan Bibit Tanaman Berjumlah Besar

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Teknik kultur jaringan mampu menghasilkan bibit tanaman anggrek dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat. Kesehatan dan mutu bibitnya terjamin dan cepat tumbuh bibit lebih bagus dibandingkan dengan teknik konvensional.

Kepala Unit Pelaksana Teknis, Pusat Pengembangan Benih dan Proteksi Tanaman (UPT P2BPT) DKI Jakarta, Ali Nurdin, mengatakan, pentingnya memahami proses kultur jaringan berupa cara perbanyakan secara vegetatif dan generatif pada tanaman anggrek dan pisang.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Pusat Pengembangan Benih dan Proteksi Tanaman (UPT P2BPT) DKI Jakarta, Ali Nurdin, ditemui di laboratorium kebun bibit tanaman di Lebak Bulus, Jakarta, Senin (26/4/2021). Foto: Sri Sugiarti.

Yakni, mulai dari proses penaburan biji-biji, pembuatan media tanam dan seterusnya. Selain itu, ada sistem belajar sub kultur sampai dengan aktimalisasi.

“Kultur jaringan, yaitu teknik perbanyakan varietas tanaman yang dapat dilakukan setiap waktu. Teknik ini makin diminati, dalam upaya melestarikan varietas anggrek dan juga pisang,” ujar Ali, ditemui di laboratorium kultur jaringan, Lebak Bulus, Jakarta, Senin (26/4/2021).

Menurutnya, metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif.

Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain, yaitu mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas.

Teknik kultur jaringan juga mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat.

“Kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional,” ujarnya.

Dalam sistem kultur jaringan ini, pencinta anggrek atau pelaku usaha anggrek bisa mendapatkan bimbingan teknik. Yakni sebut dia, mulai pengenalan alat dan bahan laboratorium, pembuatan media dengan jenis-jenis anggrek dan pisang yang berbeda-beda.

Juga inisiasi, subkultur, aklimatisasi, teknik penyilangan anggrek dan teknik perawatan anggrek.

Menurutnya, hasil siap sebar kultur jaringan ini agak lama. Untuk pisang sekitar 1-1,5 tahun, sedangkan anggrek mencapai 3-4 tahun.

“Tapi dengan teknik kultur jaringan kita bisa memperbanyak hingga ribuan jumlahnya varietas anggreknya,” imbuhnya.

Menurutnya, potensi anggrek di Indonesia cukup besar, bahkan di Kalimantan, Papua, Sulawesi, ada anggrek yang tumbuh secara alami di hutan-hutan.

Anggrek paling cocok hidup di daerah dengan suhu dingin dan asri. Sedangkan tanaman pisang banyak dibudidayakan di luar Jakarta karena lahan yang masih sangat luas.

Di kebun bibit seluas 1,436 hektar, yang dikembangkan UPT P2BPT DKI Jakarta, yang berada di Lebak Bulus, varietas anggrek yang banyak dikembangkan di sini adalah anggrek Dendrobium Sp.

“Varietes anggrek ini sangat cocok dibudidayakan di dataran rendah. Kalau varietas pisang terdiri dari beberapa varietas yaitu barangan, kepok, raja sereh, bavendis, dan lainnya,” pungkasnya.

Lihat juga...