Lebaran CDN

Tembus Pasar Ekspor, UMKM Harus Bangun Kemitraan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Untuk menembus perdagangan ekspor, pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) perlu melakukan kemitraan. Mengingat saat ini kontribusi UMKM terhadap ekspor masih rendah berada di angka 14 persen, sehingga perlu penguatan kualitas produk dengan membangun kemitraan.

Pengamat kebijakan publik, Agus Muharram, mengatakan, meskipun jumlah UMKM sangat besar berada di angka 64 juta namun kontribusinya terhadap ekspor masih sangat rendah yakni hanya 14 persen.

“Kontribusi ekspor UMKM kita masih rendah, hanya 14 persen. Negara Singapura, ekspornya mencapai 41 persen, Thailand 29 persen, Jepang 25 persen dan Malaysia di angka 18 persen. Jadi ekspor produk UMKM Indonesia masih rendah dibandingkan negara lain,” ujar Agus, pada diskusi online tentang UMKM Tembus Pasar Ekspor di Jakarta, yang diikuti Cendana News, Selasa (27/4/2021).

Rendahnya ekspor UMKM Indonesia, menurutnya, bukan saja terkendala masalah kualitas produknya. Tapi juga karena rendahnya tingkat kemitraan pelaku UMKM.

Ini terbukti bahwa sebanyak 93 persen pelaku UMKM belum melakukan kemitraan. Padahal kata Agus, kemitraan itu sangat diperlukan dalam pengembangan usaha.

“Kemitraan ini tidak saja untuk menekan biaya produksi, tapi juga untuk memperluas akses ke perdagangan ekspor. Nah, 93 persen UMKM kita tidak melakukan kemitraan, ini harus didorong diberi edukasi dan pendampingan,” tukas Agus Muharram, pengamat kebijakan publik dari IPB itu.

Namun demikian, dia menilai kebijakan pemerintah terhadap UMKM sudah tepat. Hanya saja kata dia, yang harus dilakukan sekarang adalah bagaimana pelaku UMKM tersebut dapat memanfaatkan untuk memperkuat kualitas produknya.

“Kita harus dorong UMKM memperkuat kualitas produknya agar tembus ke perdagangan ekspor,” tandasnya.

Ketua Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Nasional, Irma Indrayani, menambahkan, sejumlah UMKM menghadapi tantangan dalam upaya menembus pasar global.

Ketua Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Nasional, Irma Indrayani, saat menyampaikan paparan tentang UMKM pada diskusi online tentang UMKM Tembus Pasar Ekspor di Jakarta, yang diikuti Cendana News, Selasa (27/4/2021). Foto: Sri Sugiarti.

Tantangan itu di antaranya sebut dia, perubahan bisnis dari konvensional menjadi digital, pengendalian inflasi yang berpengaruh terhadap harga produk UMKM, dan daya beli masyarakat.

“Ada keterbatasan kemampuan UMKM menembus akses pasar, ya terutama untuk masuk ke platform digital,” ujar Irma, pada acara yang sama.

Menurutnya, saat ini total ada sekitar 12.234 UMKM eksportir atau sekitar 83 persen dari jumlah eksportir.

“Tapi sayangnya, mereka masih menghadapi tantangan untuk tetap bisa eksis di pasar ekspor atau pasar global itu,” pungkasnya.

Lihat juga...